Arsitek Nasi Goreng

Arsitek Nasi Goreng

“Pak, pesan nasi goreng tiga, satu makan sini, dua dibungkus. Yang makan sini putih (tanpa saos), pedas, nggak pakai mecin, tambah telur ceplok setengah matang. Yang bungkus: satu pakai telor, satunya nggak. Yang pakai telor, agak pedes, pakai saos, telor dadarnya dua. Yang nggak pakai telor, pedas banget, nggak pakai saos.”

“Oke.” Jawab singkat Pak Bos, nama pedagang nasi goreng langganan di perempatan Pujasera Merjosari.

Saya menunggu, duduk di kursi biru. Sembari melihat lalu lintas kendaraan khas malam hari yang cepat dan terburu-buru. Jalan tak pernah lengang walaupun waktu liburan sudah menjelang. Masih banyak yang tidak memilih mudik ke kampung halaman. Barangkali, mereka menganggap Malang sebagai kampung halaman karena sudah hidup di sini tahunan. Saya pun demikian. Continue reading “Arsitek Nasi Goreng”

Sebuah Nasihat (dari) Pendidikan Arsitektur

“Kalau cuma ingin menjadi seorang arsitek, sebenarnya tidak perlu susah payah menempuh pendidikan arsitektur selama 4-7 tahun, karena kamu sudah punyai kemampuan yang dapat dikembangkan sebagai seorang arsitek.

“Tapi ketika kamu sudah memilih menempuh pendidikan di sini, ada tata-aturan yang mesti diikuti. Sayang sekali, jika mahasiswa se-kritis dan se-kreatif seperti kamu dikeluarkan hanya gara-gara: tidak disiplin.”

IMG_4066.JPG

Catatan dari Festival Rancang Malang

Kabar mengenai kampung tematik di Kota Malang saya temukan di Koran Radar Bromo. Dalam hal ini, kampung diharapkan mengusung identitas dirinya sebagai kampung yang punya ciri khas. Tidak ada pertanyaan yang mengusik benak saya waktu itu mengenai konsep men-‘tema’-kan kampung. Tapi saya meyakini: ini ialah hal baru dalam konsep tata kelola pembangunan kota Malang.

Energi Pemerintah Kota Malang tahun ini sedang membuncah. Sebuah kompetisi perancangan kawasan kampung diadakan dengan tajuk Festival Rancang Malang: Kampung Tematik sebagai respon dalam mengangkat potensi tiap kampung di kota Malang dengan fokus kerja partisipatif oleh masyarakat. Tim pendamping dapat diusulkan mandiri oleh masyarakat serta dibantu tim pengabdian masyarakat dari perguruan tinggi atau lembaga terkait, guna mendorong lahirnya perancangan kampung sesuai identitasnya. Continue reading “Catatan dari Festival Rancang Malang”

Arsitektung

Pendidikan arsitektur sekarang itu ‘mainstream.’
Arus utama sedang membahas ‘arsitektur hijau.’
Ikut-ikutan.
‘Arsitektur tradisional’ lagi naik daun.
Ikut-ikutan.
Padahal jika ditanya: apa makna tradisional?
Banyak yang tak paham.

Berbondong-bondong menjangkau embel-embel baru: World Class University.
Semua mengamini.
Membebek-buta tanpa verifikasi.
Untuk apa sebenarnya titel ini jika sudah tercapai nanti?
Jangan-jangan hanya untuk kepentingan tertentu yang menunggangi.

Stensil Arsitektur di Tengah Ragam Publikasi Arsitektur

Stensil Arsitektur di Tengah Ragam Publikasi Arsitektur

Publikasi mengenai kritik arsitektur rasanya masih jauh dari cukup jika ingin dibandingkan kritik film dan sastra. Stensil Arsitektur: Proses mencoba menjawab hal tersebut melalui publikasi yang coba jawab problematika arsitektur yang aktual perlu dijawab (hal. xi).

Di antara sekian banyak terbitan arsitektur baik buku atau majalah. Stensil Arsitektur tidak menawarkan keindahan wujud fisik arsitektur sebagai sampul atau isi yang banyak dan bisa ditemukan pada publikasi arsitektur lain. Hanya sketsa sosok perempuan berambut panjang sedang merenung yang mengisi sampulnya. Seolah ingin atau sedang menggambarkan perlunya arsitektur hari ini dibawa menuju perenungan-perenungan -yang dalam.

Benar saja. Jika masuk ke dalam tulisan pertama. Anda akan disuguhi percakapan whatsapp grub tertutup Tim Tata Ruang Kampung Pulo oleh Yu Sing yang diulas dan juga ditampilkan percakapan dengan apa adanya. Memuat ragam sudut pandang hasil diskusi beberapa pihak yang juga anggota pegiat arsitektur dan kota. Continue reading “Stensil Arsitektur di Tengah Ragam Publikasi Arsitektur”