Harapan setelah 18 Jam Perjalanan

Harapan setelah 18 Jam Perjalanan

Kereta api membawa saya dari stasiun Kota Baru, Malang menuju stasiun Pasar Senen, Jakarta. Bukan mempunyai tujuan liburan, melainkan guna menghadiri undangan LabTanya dalam kegiatan Residensi Mahasiswa Magang. Perjalanan 18 jam dengan kawan sebangku saya lewati tanpa panjang percakapan, hanya saling menukar tatap pandang, berbagi kebutuhan colokan serta charger telepon genggam dan sebungkus makanan ringan.

Sepanjang perjalanan, saya memperhatikan lelaki dan wanita berseragam batik. Mereka menawarkan bantal, paket makan hingga berbagai botol minuman rasa tak bersoda. Rupanya, mereka menggantikan posisi pedagang kaki lima, yang pertama dan terakhir saya lihat ketika kali pertama naik kereta, sembilan tahun lalu.

Kagaduhan kereta waktu itu masih terasa, perjalanan saya banyak diwarnai oleh beragam pedagang dan orkes radio dangdut. Begitu riuh, begitu sibuk. Entah sejak tahun berapa kereta api menjadi sedemikian berkembang. Kejarangan menggunakan transportasi kereta menyebabkan ketidaktahuan ihwal tersebut. Semua kereta sekarang sudah berpendingin dan tiap orang dapatkan tempat duduk. Dan saya, duduk bersebelahan dengan tiga kawan lain, yang di akhir perjalanan, saya baru tahu bahwa mereka punyai tujuan yang sama, yakni Jakarta.

Continue reading “Harapan setelah 18 Jam Perjalanan”

Satu Cerita sebelum Menuju Jakarta

Satu Cerita sebelum Menuju Jakarta

Rencana magang di studio arsitek sudah muncul sejak saya duduk di semester tiga. Rencana tersebut hadir dari kegelisahan selama menempuh pendidikan di arsitektur: saya ingin mengetahui dapur proses (berarsitektur) sang arsitek secara langsung. Salah duanya, dari Eko Prawoto dan Yu Sing.

Perkenalan saya dengan nama Eko Prawoto, seorang arsitek dan pendidik di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) terjadi ketika membaca buku ‘Arsitektur untuk Kemanusiaan’, ditulis oleh Galih W. Pangarsa. Karya dan narasi praktik arsitekturalnya, punyai kedekatan dengan lingkungan dan nilai kemanusiaan, membuat karya yang dibidaninya punyai nilai ketertarikan pribadi dalam benak saya daripada beberapa arsitek lain.

Continue reading “Satu Cerita sebelum Menuju Jakarta”

Yang Terekam dari Residensi Mahasiswa Magang

Kejemuan di tengah tempuh pendidikan arsitektur, membuat saya memilih untuk mendaftarkan diri sebagai peserta magang di studio LabTanya-AWD. Dengan proses seleksi dan mengirimkan portofolio, singkat kata, akhirnya saya diterima sebagai satu dari tiga peserta lain, dalam periode magang Februari-Juli 2015.

Di sini saya coba menulis ulang catatan yang sudah lama terserak, kemudian saya olah-hadirkan kembali sebagai rangkaian –dengan tajuk Residensi Mahasiswa Magang, sebuah (catatan) perjalanan pencarian narasi arsitektur: sebuah refleksi keterlibatan dalam praktik kerja arsitektural di studio LabTanya-AWD, Tangerang Selatan, Jakarta.

Selamat membaca.

Deo Demai Kopaba, Faizana Izzahasni dan Saya: Peserta Residensi Mahasiswa Magang LabTanya-AWD, 2015.