Kekerasan Hewan dan Mereka yang Bentang Kepedulian

Kekerasan Hewan dan Mereka yang Bentang Kepedulian

Dua pekan ini studio kami tiba-tiba didatangi dua ekor kucing. Kami tidak tahu dari ras mana atau darimana mereka datang. Yang jelas, mereka sampai hari ini menetap dan tinggal bersama kami. Sesekali makanan kami berikan sebagai jawaban atas suara mengeong mereka terdengar semakin keras tanda lapar.

Sebagai hewan domestik. Anjing dan kucing tidak dapat dihindari keberadaannya. Mereka hidup dan ada di sekitar. Bedanya, barangkali banyak yang memperlakukannya sebagai peliharaan atau bagi anjing, ia dijadikan sebagai penjaga rumah. Namun tak jarang pula keberadaannya yang dibenci dan tidak disuka, membuat siapa saja yang tak menghendaki, melakukan siksa.

Continue reading “Kekerasan Hewan dan Mereka yang Bentang Kepedulian”

Kost, Tahu Malaikat dan Pasar Merjosari

Jarak yang dekat kampus, membuat saya sering singgah ke tempat kawan-kawan. Sebuah bangunan yang dirancang sebagai kost dengan empat belas kamar ini, lebih sering disebut sebagai Kost Sirathal Mustaqim. Alasannya, mungkin karena akses jalan yang dirancang “lurus” -sebagai imaji jembatan sirathal mustaqim- menuju ruang garasi belakang.

Ruang paling ujung tidak disewa-gunakan sebagai kamar tidur sebagaimana mestinya. Namun, kawan-kawan meletakkan beberapa perabot, guna alih fungsikannya menjadi studio gambar dan pengerjaan maket: baik itu proyek maupun tugas mahasiswa (arsitektur).

Continue reading “Kost, Tahu Malaikat dan Pasar Merjosari”

Sekolah Arsitektur

“Bagaimana jika sekolah arsitektur digambarkan sebagai lapangan kosong yang nanti akan mereka bangun sendiri seperti apa tempat mereka belajar. Melalui proses menemu-kenali bagaimana lingkungan, membaca lingkungannya sebelum menggubah (sesuatu) menjadi karya arsitektur, dalam hal ini sekolah mereka sendiri.

“Jika arsitektur dimaknai sebagai kerja/karya kebudayaan, apakah sekolah arsitektur harus seperti hari ini? Jam masuk sekolah sudah dijadwalkan, bentuk pendidikan sudah ditentukan, mata kuliah dipilihkan, semua sudah diatur: apa-apa yang harus ditempuh dan dipelajari, bahkan kampus memasang pagar tinggi-tinggi, dengan tujuan apa? Apakah ingin memisahkan diri dari lingkungan, yang jelas-jelas itu menjadi tanggung jawab dalam respon permasalahan sekitar sebagai bagian dari pendidikan itu sendiri.”

Setelah Menonton Wiji Thukul

16423076_289710678111140_2287644564994679532_o
Penonton Istirahatlah Kata-Kata kota Malang ©Tim Film Istirahatlah Kata-Kata

Menantikan kehadiran Wiji Thukul di kota Malang melalui Istirahatlah Kata-Kata layaknya -walaupun belum bisa dibandingkan- seperti kerinduan Sipon, istri Wiji dalam film yang merindukan kembalinya suaminya, yang pada saat itu, ia kabur, menghindar karena menjadi salah satu aktivis yang bersembunyi dari tentara dan intelejen Orde Baru.

Setelah pemutaran di 13 kota. Malang yang tidak tercantum sebagai salah satu dari 13 kota tersebut, akhirnya mendapatkan kesempatan dari sayembara pemutaran film yang diselenggarakan oleh pihak tim Istirahatlah Kata-Kata.

Saya waktu itu sebenarnya ingin memutuskan untuk berangkat ke kota-kota sekitar Malang yang memutar, seperti Mojokerto dan Surabaya, hanya untuk melihat hasil karya Yosep Anggi Noen ini.  Continue reading “Setelah Menonton Wiji Thukul”