Wujud Eksistensi & Rekontekstualisasi Arsitektur Masjid Nusantara

Wujud Eksistensi & Rekontekstualisasi Arsitektur Masjid Nusantara

(…)

Mari kita bersama bermain tebak-tebakan
Sebuah pertanyaan yang ingin aku utarakan
Di mana letak kemakmuran Masjid Bayan?

Terlampau jauh 80 kilometer dari pusat kota
300 tahun sudah berdiri tegapnya
Tetap kokoh tak terlihat sedikitpun cacat-cela dalam arsitekturnya

(…)

Nukilan sajak di atas (pernah) saya tulis dalam puisi Kemakmuran Masjid Bayan, sebagai sebuah perenungan ketika diskusi bersama kawan-kawan arsitektur di kampus. Masjid Bayan ialah salah satu masjid yang ada di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dari sisi material dapat dikatakan masjid Bayan kurang menarik, tak tunjukkan gemerlap rancangan yang biasa muncul dan punyai kecenderungan dalam desain masjid di Indonesia.

Continue reading “Wujud Eksistensi & Rekontekstualisasi Arsitektur Masjid Nusantara”

Stensil Arsitektur di Tengah Ragam Publikasi Arsitektur

Stensil Arsitektur di Tengah Ragam Publikasi Arsitektur

Publikasi mengenai kritik arsitektur rasanya masih jauh dari cukup, jika ingin bandingkan dengan kritik film dan sastra. Stensil Arsitektur: Proses coba jawab hal tersebut melalui publikasi (arsitektur) –yang juga coba jawab problematika arsitektur yang aktual perlu dijawab (hal. xi).

Di antara sekian banyak terbitan arsitektur, baik berupa produk buku atau majalah. Stensil Arsitektur: Proses tidak menawarkan keindahan wujud fisik arsitektur sebagai sampul atau isi, yang mungkin sering dijumpai pada publikasi arsitektur lain. Hanya berupa sketsa sosok perempuan berambut panjang (sedang merenung) menghiasi sampulnya. Seolah Stensil Arsitektur: Proses ingin atau sedang gambarkan bahwa arsitektur hari ini perlu dibawa menuju perenungan-perenungan –yang dalam.

Benar saja. Jika masuk ke dalam tulisan pertama. Anda akan disuguhi percakapan whatsapp grub tertutup Tim Tata Ruang Kampung Pulo oleh Yu Sing, di sini ia coba ulas dan tampilkan percakapan dengan apa adanya, sesuai opini tiap individu anggota di dalamnya. Di sana memuat ragam sudut pandang hasil diskusi beberapa pihak yang juga termasuk anggota pegiat arsitektur dan kota. Continue reading “Stensil Arsitektur di Tengah Ragam Publikasi Arsitektur”

Arsitektur Bagian Kecil Kebudayaan


/1/
Bahkan mereka para Antropolog yang tercatat dan mengawali bab di buku ini pun belum sepakat dengan definisi kebudayaan itu sendiri. Namun, jika ditarik benang merahnya, mereka mentafsirkan kebudayaan sebagai sebuah konsep dasar dinamika masyarakat yang merupakan laku sikap dalam keseharian yang mempunyai nilai budi-luhur.

Membaca arsitektur dengan kacamata antropolog sebagai bagian dari kebudayaan punya nilai kesemestaan pembacaan realitas yang lebih objektif dan subjektif. Dalam khazanah perkembangan arsitektur muncul ragam definisi yang sebagai pengelompokan seperti arsitektur tanpa nama, arsitektur dialek (vernakuler) dan arsitektur asli (indiegenous). Continue reading “Arsitektur Bagian Kecil Kebudayaan”

Mengurai Realitas Lewat 3 Kata

Narasi keseharian akan tampak unik jika mampu mengurai dengan ragam sudut pandang. Hal inilah yang dilakukan oleh Raja Gama Era dengan zine karyanya. Gama –panggilan akrabnya– ialah mahasiswa arsitektur Universitas Brawijaya, mencoba mengurai realitas dengan tiga kata: Senyumo; Sabaro; Sadaro. 3 kata yang juga dikukuhkan menjadi judul “Trilogi Zine Senggaja.” Mencerminkan tiga falsafah perintah dalam keseharian yang bisa dicoba untuk redamkan segala jerat nafsu keduniawian.

Dalam gerak langka hidup yang sudah ia jalani selama menginjak usia kepala dua ini. Gama mencoba melihat dunia lebih dekat, melihat keseharian lebih lambat, melihat detail lebih cermat. Selain itu, ia mencoba melihat apa-apa yang dekat dengan kesehariannya, juga sebenarnya tidak jauh dari keseharian kita.

Continue reading “Mengurai Realitas Lewat 3 Kata”

Menengok Sejarah Indonesia Lewat Gardu

Reformasi 1998 mengisahkan banyak memori di sekitar yang terkadang tidak terlihat –bahkan tersembunyi. 1805-1811, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memerintahkan Hindia Belanda membangun Jalan Raya Pos dari Anyer sampai Banyuwangi, juga menjadi awal hadirnya gardu, di titik tertentu sepanjang jalan tersebut. Gardu kemudian tidak hanya mengemban fungsi sebagai pertahanan dan pengamanan. Pada revolusinya, gardu menjadi tempat penting pada masing-masing periodenya, juga sebagai pertahanan dan bagian penting pertahanan perkotaan dan pedesaan di Indonesia.

Pada periode reformasi, gardu bukan lagi hanya menjadi sebatas pengamanan dan pertahanan. Kepentingan-kepentingan lain yang menyertainya begitu banyak, salah satunya kepentingan politik. Entitas politik yang menyertainya ini membuat catatan-catatan pada masing-masing periode kepemimpinan dari Soekarno hingga Gus Dur. Hingga membuat gardu kemudian menjelma menjadi posko-posko yang banyak dimanfaatkan untuk kepentingan kampanye politik kekuasaan partai politik.

Continue reading “Menengok Sejarah Indonesia Lewat Gardu”