Kereta api membawa saya dari stasiun Kota Baru, Malang menuju stasiun Pasar Senen, Jakarta. Bukan mempunyai tujuan liburan, melainkan guna menghadiri undangan LabTanya dalam kegiatan Residensi Mahasiswa Magang. Perjalanan 18 jam dengan kawan sebangku saya lewati tanpa panjang percakapan, hanya saling menukar tatap pandang, berbagi kebutuhan colokan serta charger telepon genggam dan sebungkus makanan ringan.

Sepanjang perjalanan, saya memperhatikan lelaki dan wanita berseragam batik. Mereka menawarkan bantal, paket makan hingga berbagai botol minuman rasa tak bersoda. Rupanya, mereka menggantikan posisi pedagang kaki lima, yang pertama dan terakhir saya lihat ketika kali pertama naik kereta, sembilan tahun lalu.

Kagaduhan kereta waktu itu masih terasa, perjalanan saya banyak diwarnai oleh beragam pedagang dan orkes radio dangdut. Begitu riuh, begitu sibuk. Entah sejak tahun berapa kereta api menjadi sedemikian berkembang. Kejarangan menggunakan transportasi kereta menyebabkan ketidaktahuan ihwal tersebut. Semua kereta sekarang sudah berpendingin dan tiap orang dapatkan tempat duduk. Dan saya, duduk bersebelahan dengan tiga kawan lain, yang di akhir perjalanan, saya baru tahu bahwa mereka punyai tujuan yang sama, yakni Jakarta.

Magang memberi saya kesempatan untuk pertama kalinya ke Jakarta. Espektasi dan realita sebelum berangkat sudah terekam dengan baik. Rekaman cerita tentang wajah Ibu Kota tersebut saya peroleh melalui layar kaca dan media cetak. Gambaran semacam banjir tahunan, mangkraknya pembangunan, tingginya angka kriminalitas hingga materialisme kehidupan masyarakat Jakarta menghiasi dominasi informasi yang saya terima. Tentunya ini akan menjadi satu kesempatan melihat realita kehidupan Jakarta secara langsung, khususnya realita arsitektur.

Akhirnya, setelah terjaga dari tidur panjang selama perjalanan dan pemberhentian yang terlampau lama di beberapa stasiun yang dilewati, gerbong kereta sudah mulai memasuki stasiun Pasar Senen. Saya turun bergantian dengan rombongan yang lain. Sembari membawa perlengkapan yang sudah terkemas rapi dalam tas ransel guna pertaruhkan waktu dalam satu kegiatan, lima sampai enam bulan kedepan.

Di depan pintu keluar stasiun, saya disambut oleh Pakde Khamid, kakak Ibu saya. Ia menyambut kedatangan saya dengan pelukan dan bertanya kabar perjalanan. Pakde saya sudah 14 tahun tinggal dan bekerja di Jakarta. Sebuah waktu yang panjang untuk dapat mengenal seluk beluk kehidupan Jakarta, dengan segala kompleksitasnya.

Bajaj yang masih menghiasi transportasi kota Jakarta, pakde pilih sebagai transportasi yang akan membawa saya menuju tempat dia bekerja, sebelum nanti dia akan mengantarkan saya menuju Studio LabTanya, Bintaro, Jakarta Selatan. Perjalanan menuju kawasan Kalimalang, tempat pakde bekerja, membawa saya berkeliling menikmati pemandangan Jakarta yang baru pertama kali saya lihat langsung. Gedung-gedung yang menengadah ke langit, transportasi yang sibuk membuat Jakarta rasanya tak pernah padam dalam 24 Jam.

Sedangkan di dalam bajaj, saya masih canggung memulai percakapan dengan sopir. Namun pakde dengan sigap, bak bertemu kawan lama. Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam asal muasal sopir? Klub sepak bola kesayangan? Berapa lama tinggal dan bekerja? Membuat saya perlu satu catatan kemampuan yang harus dilatih, yakni belajar berani bertanya dan memulai percakapan.

Kurang lebih setelah lima belas menit perjalanan, kami tiba. Saat masuk melalui pintu gerbang, kesibukan bengkel mobil tempat pakde bekerja masih terlihat. Beberapa sedang sibuk mengelas, mendempul dan sebagian lainnya melakukan pengecatan.

Setelah tas saya taruh di dalam bilik papan, tempat pegawai beristirahat. Saya tidak menolak untuk diajak makan pakde di warung Tegal depan bengkelnya. Setelah sedikit mengganjal perut, saya memutuskan untuk membaringkan badan sejenak, sebelum berangkat menuju Bintaro, tempat studio LabTanya berada.

Seminggu sebelum keberangkatan, saya menekuni pencarian informasi tentang LabTanya dan Studio Adhi Wiswakarma Desantara (AWD) di beberapa situs media daring. Keinginan mencari informasi tersebut muncul dengan rasa keingintahuan yang tinggi. Bagaimana seluk belum studio yang akan saya tempati selama perjalanan satu semester nanti? Saya semakin tidak sabar untuk segera berangkat dan mendedah Jakarta.

Jakarta, sebagai kota dengan kategori metropolis, menarik untuk dapat dikenali. Dengan kemajuan pembangunan yang dimiliki, perkembangan kota dalam teori yang ada, menuju atau memang diarahkan ke sana, dalam artian perkembangan yang serba materialistik tanpa melihat ragam potensi lokalitas yang ada.

Malang dan Jakarta, tidak dapat disamakan memang. Ruang waktu yang melingkupinya, serta ragam faktor ekonomi, politik, sosial dan budaya yang berbeda. Berpengaruh besar terhadap tumbuhnya kota. Malang yang dalam perkembangannya dirancang dengan karakteristik kota di atas bukit, karenanya Malang dikelilingi gunung-gunung. membuat kota ini terbentuk sebagai pusat agraria pertanian dan pasar-pasar kebutuhan pokok bagi kota sekelilingnya.

Jakarta yang dibentuk dari pesisir, punyai jalur perdagangan yang kuat. Identitas Ibu Kota sebagai tempat perputaran uang tertinggi di seluruh wilayah Indonesia. Membantunya membentuk identitas perkembangan pembangunan yang diselenggarakan. Barangkali hal tersebut tidak lantas harus dilihat sebagai tolak ukur dalam pembangunan ideal. Namun, dapat pula dilihat lebih sebagai refleksi untuk kota lain yang akan dibangun, untuk, sekali lagi, tidak berkiblat sepenuhnya pada Jakarta.

Perjalanan 18 Jam, pada akhirnya membuahkan dan mempertontonkan gradasi narasi pembangunan yang besar. Malang sebagai kota yang saya tinggal dalam dua setengah tahun terakhir, jauh berbeda jika dibandingkan dengan Jakarta, dengan perkembangan arsitektur yang melingkupinya.

Hal tersebut juga menjadi satu narasi proyek yang –saya baca dan– ditawarkan dalam Term of Reference (TOR) proyek ‘Bagaimana Jika?’ Karena banyak hal lain dari Jakarta yang dapat dikupas selain dari sisi arsitekturnya.

18 jam, saya kira bukan lantas membawa saya pada keadaan yang dekat. Namun, perjalanan Malang menuju Jakarta membawa saya pada perbedaan narasi (arsitektur) yang berarti. Yang akan saya dapatkan. Dan, yang akan banyak diperbincangkan.

***

Residensi Mahasiswa Magang, sebuah (catatan) perjalanan pencarian narasi arsitektur: sebuah refleksi keterlibatan dalam praktik kerja arsitektural di studio LabTanya-AWD, Tangerang Selatan, Jakarta. Dalam periode Februari-Juli 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s