Salam, dari Desa Bajulmati

WhatsApp Image 2017-07-30 at 7.50.35 PM
Bersama Mbak Lia (paling kanan) di Rumah Keluarga Bapak Senen.

​”Salam dari Desa!” Sorakan yang datang dan saya dengar dari tiap peserta TKI-MAI 31 ketika akan meninggalkan Desa Bajulmati, Kelurahan Gajah Rejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang menuju kegiatan selanjutnya di Surabaya. Satu minggu di Desa Bajulmati menyisakan beberapa hal yang dapat dituliskan. Dari mulai kegiatan TKI-MAI 31 sendiri hingga yang bertautan dengan kegiatan dan kearifan lokal warga Desa Bajulmati.

Bajulmati sebagai desa yang dipilih sebagai tempat kegiatan Pengabdian Masyarakat di TKI-MAI 31, merupakan kegiatan dengan porsi terbesar. Pengabdian masyarakat sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi, menjadi tolak ukur keberhasilan terakhir proses belajar di kampus, setelah pendidikan dan penelitian. Tiga aspek, yang punyai porsi yang utuh dalam perluas wawasan dan sudut pandang, khususnya bagi pendidikan arsitektur.

Pendidikan arsitektur seyogyanya (lebih) punyai keterlibatan langsung di masyarakat ini, direspons oleh kawan-kawan Badan Pekerja Rayon (BPR) 5 Jawa Timur dalam TKI-MAI 31. Kembali ke desa yang menjadi latar belakang, kemudian digagas dan dimunculkan dengan langsung melibatkan setiap mahasiswa untuk ikut masuk ke setiap sendi-sendi kegiatan warga Desa Bajulmati.

Tentu saja, ini bukan satu kegiatan yang mudah dalam menjangkau keterlibatan termasuk sudut pandang kawan-kawan lain yang sudah pernah mengikuti kegiatan TKI-MAI sebelumnya. Kebaharuan di TKI-MAI 31 Jawa Timur ini membuahkan satu kesadaran atas penangkapan permasalahan yang hadir dan harus segera dilakukan perbaikan-perbaikan dari kegiatan sebelumnya, yang, seringkali melulu diarahkan dalam melihat kota sebagai fenomena arsitektur.

Kota yang merupakan perkembangan dari desa, juga tidak mampu lepas dari permasalahan arsitekturnya. Satu wujud perkembangan yang jika tidak mampu dikelola dengan baik akan membuahkan permasalahan lebih besar. Desa dengan potensi kekayaan produksi sumber pangan, mampu menulangpunggungi kehidupan kota yang barangkali kota belum mampu produksi bahan pangannya sendiri dalam memenuhi kebutuhan hidup warga kota.

Kembali ke desa yang digagas, saya kira menjadi satu kegiatan dalam menziarahi dari mana bahan pangan di kota berasal, serta mengingatkan dimana harusnya kita kembali setelah belajar nanti.

Kiranya, narasi yang ingin saya ceritakan di sini bukan narasi agung yang mampu mengubah cara pandang arsitektur. Hanya saja, saya berupaya mencatat bagaimana kondisi Desa Bajulmati dalam perjalanan singkat selang dua tahun kegiatan berlangsung. Pengabdian masyarakat di Desa Bajulmati sebagai kegiatan dengan porsi besar di TKI-MAI 31 Jawa Timur,  punyai ragam potensi –selain pula wisatanya yang sudah dikelola– dan kearifan lain yang akan sangat menarik jika terus digali dan diperbincangkan.

Snapseed (1)
Salam dari Desa, karya sablon cukil M. Dzulkifly Dwinanda.

img_0914​Rumput Ternak Sapi

Selama perjalanan ke Desa Bajulmati, Malang Selatan, beberapa dari kami sempat berandai-andai, jika di Desa Bajulmati telah banyak ruko-ruko dan minimarket yang terbangun, setelah kami tinggal pergi beberapa bulan. Namun, kami bersyukur itu tidak terjadi, karena warga masih berkesibukan dalam bertani, melaut dan satu aktifitas yang sering terlihat yakni mengambil rumput untuk makanan sapi yang mereka ternak.


img_0915Menengok Gapura

Sebagai salah satu projek yang dikerjakan dalam sub-kegiatan pengabdian masyarakat: bangun desa, adalah mendirikan gapura di beberapa titik yang menjadi perbatasan wilayah RT/RW di sepanjang jalan di Desa Umbulrejo dan Bajulmati.

Menjadi satu teguran bagi kami, ketika melihat gapura yang menjadi tanda batas Umbulrejo dan Bajulmati roboh dan terbengkalai. Menurut tuturan Pak Klimin, mengapa gapura roboh? Karena ada truk yang memuat kayu sengon dengan kapasitas terlalu tinggi, sehingga bagian atas gapura harus diangkat dan disampingkan.

Memang, desain yang sudah dibuat dan dieksekusi oleh kawan-kawan peserta TKI-MAI 31 nampaknya kurang tinggi, sehingga angkutan yang punyai muatan besar tidak dapat melintas. Ini menjadi pembelajaran yang baik, bahwa kontekstual desain sangatlah penting. Agar hasil fisik kegiatan tidak mengganggu jalannya aktivitas kedua desa.

Semoga.


img_0916Kelapangan ​Pak Dadik

“Tak peker sampean wingi langsung njujug rene, terus nginep nag kene. Lha wong kene kamare jembar ganok sing nuroni.” (Saya fikir kemarin kalian langsung ke sini, lalu menginap di sini. Soalnya di sini kamarnya besar nggak ada yang menempati)

Kelapangan hati Pak Dadik dalam persilahkan tamu –khususnya peserta TKI-MAI 31 yang pernah singgah di Desa– untuk menginap dan bermalam di rumahnya sanggatlah tinggi. Sebuah bukti kedekatan yang kami bentuk selama berkegiatan TKI-MAI 31. Hingga menjadi sebuah kesan tersendiri, ketika pulang dan lama tidak berkunjung pun, kami masih tetap terekam dan menjadi bagian dengan rasa kekeluargaan.

Memberi kabar sebelum datang ke rumah beliau nampaknya penting dan harus. Mengingat beliau sering tidak berada di rumah karena harus melaut. Sebagian besar pencaharian warga Desa Umbulrejo dan Bajulmati selain bertani dan merawat ternak adalah melaut. Setelah melaut, ketika kegiatan TKI-MAI 31 berjalan. Pak Dadik tak lupa selalu membawakan sejumlah ikan sebagai oleh-oleh dari laut untuk dimasak dan dimakan bersama.


img_0917Tidak Ada Kesempatan Lapar

“Rokok nang mejo kok, yo rokoke wong kabeh.” (rokok yang ada di meja adalah rokok semua orang.)

Kalimat tersebut muncul dari Pak Klimin ketika kami ingin mengambil rokok di meja. Kebiasaan orang desa dalam menghormati tamu sangatlah tinggi, khususnya di Desa Bajulmati dan Umbulrejo. Bahkan, setiap kita masuk melewati pintu untuk silaturahmi, tawaran makan tidak dapat kami tolak dan hindari. Dan hanya di desa ini rasanya, kami tidak pernah punyai kesempatan untuk lapar.


img_0918Saatnya Pulang

Pesona yang tidak dapat kami lewatkan: melihat matahari terbenam di ufuk barat, sepanjang garis kekayaan pantai selatan Indonesia yang merona. Hingga, kami lupa dengan waktu yang mulai gelap.

Saatnya pulang kawan, perjalanan menuju kota masih panjang. Salam dari desa!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s