Rencana magang di studio arsitek sudah muncul sejak saya duduk di semester tiga. Rencana tersebut hadir dari kegelisahan selama menempuh pendidikan di arsitektur: saya ingin mengetahui dapur proses (berarsitektur) sang arsitek secara langsung. Salah duanya, dari Eko Prawoto dan Yu Sing.

Perkenalan saya dengan nama Eko Prawoto, seorang arsitek dan pendidik di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) terjadi ketika membaca buku ‘Arsitektur untuk Kemanusiaan’, ditulis oleh Galih W. Pangarsa. Karya dan narasi praktik arsitekturalnya, punyai kedekatan dengan lingkungan dan nilai kemanusiaan, membuat karya yang dibidaninya punyai nilai ketertarikan pribadi dalam benak saya daripada beberapa arsitek lain.

Yu Sing, arsitek kelahiran Bandung, juga saya kenal melalui buku ‘Mimpi Rumah Murah’. Buku tersebut memuat praktik desain rumah yang ia tekuni dengan harga terjangkau, menggunakan potensi lokal, material daur ulang hingga memberdayakan masyarakat setempat. Rumah yang saya kerjakan sebagai proyek di perancangan arsitektur tiga, hasilnya masih kurang memuaskan. Membuat saya ingin lebih jauh belajar tentang rumah, itulah alasan mengapa saya ingin mampir belajar di studio yang terletak di Padalarang, Jawa Barat miliknya: Akanoma Studio.

Hingga satu tahun kemudian, informasi magang –bukan dari dua studio di atas– melainkan dari LabTanya-AWD saya dapatkan di sosial media. Saat itu saya baru saja melalui semester lima, menuju semester enam. Semester lima adalah semester menjemukan bagi pribadi saya. Kejemuan tersebut dikarenakan tidak adanya hal baru, atau hal menarik lain yang saya dapatkan selama dua semester ke belakang. Kemudian kejemuan tersebut akhirnya melahirkan ketertarikan dan kenekatan saya untuk belajar tentang arsitektur di luar Malang.

Malang, sudah lebih dari dua tahun saya tinggali ini, harus saya putuskan untuk tinggalkan. Guna berangkat menuju kota yang belum pernah sekalipun saya singgahi, yakni Jakarta. Jakarta, saya espektasikan sebagai kota yang akan membawa saya melihat peradaban arsitektur yang lain dalam wajah Ibu Kota.

Buru-buru saja saya menyiapkan amunisi untuk mendaftarkan diri. Beberapa karya yang pernah saya kerjakan, coba saya susun menjadi satu kompilasi. Disusul membuat sebuah abstraksi singkat, mengapa saya tertarik mengikuti residensi magang.


Abstraksi
***
Berproses merupakan bagian penting yang harus dijalani
setiap manusia yang ingin belajar (mengenali diri) di dalamnya.
Pencarian saya dalam belajar arsitektur membutuhkan waktu
lama untuk dapat mengetahui secara detail,
yakni mengenali apa yang dapat membuat saya tertarik
kepada arsitektur yang punyai cakupan luas.

Residensi Mahasiswa Magang yang diselenggarakan
sebagai salah satu inisiasi dari LabTanya,
merupakan bagian unit kerja studio arsitektur
Adhi Wiswakarma Desantara (AWD) ini. Semoga
dapat saya ikuti, menjadi sebuah jalan bagi saya:
bagaimana saya dapat belajar lebih detail mengenai
arsitektur dan urbanisme tidak hanya dari sisi luarnya saja
tapi lebih detail secara mendalam.

Dengan jangka waktu lima bulan.
Saya berharap residensi mahasiswa magang di Jakarta,
dapat menempa saya dalam belajar dan berproses mendalami arsitektur.
Sehingga saya dapat menemukan passion atau jati diri saya
dalam berkarir di dunia arsitektur nantinya.

Di sini, saya ingin mencari pengalaman ruang.
Bagaimana seyogyanya ruang, merupakan
sebuah bagian kecil dari kehidupan manusia,
khususnya manusia Jakarta yang melewati setiap hari-harinya
melalui perjalanan dari ruang satu ke ruang yang lain.

Selanjutnya, semoga dalam setiap pengalaman ruang yang
akan saya jalani dalam kegiatan residensi nanti.
Akan memberi pendewasaan dan pengetahuan kepada diri
saya pribadi, sekaligus nanti (semoga) dapat disampaikan,
dibagi dan dimanfaatkan untuk masyarakat banyak.
*

Abstraksi di atas saya rasa sangat tendensius, lebih-lebih kepada diri saya sendiri. Namun, hal tersebut, tidak saya sangka membawa saya pada kesempatan magang. Tersampaikan melalui pesan surat elektronik (surel). Akhirnya mengantarkan saya menjadi salah satu peserta residensi magang di Labtanya-AWD, Jakarta Selatan.

LabTanya merupakan unit kerja rintisan studio Adhi Wiswakarma Desantara (AWD) yang mendorong inisiatif kegiatan berbasis riset, penelitian, dan perancangan arsitektur.

Espektasi saya semakin tinggi selang dua hari pengumuman diterima. Saya coba mencari dan mendalami setiap hal mengenai LabTanya-AWD. Saya yakin, penerimaan saya ini adalah jawaban atas pertanyaan dan kerinduan belajar arsitektur yang lain.

Kekurang-ragaman sudut pandang arsitektur kawan-kawan di kampus maupun dari akademisi yang saya peroleh. Membuat espektasi saya di LabTanya nanti, merasa akan menemukan ragam sudut pandang dalam memahami konteks arsitektur. Di samping itu, tentunya saya menjadi sadar, keberangkatan saya bukanlah hal yang ringan-ringan dan baik-baik saja. Meninggalkan kawan-kawan yang selama ini belajar bersama keilmuan arsitektur pun menjadi berat. Karena di Malang, masih ada pekerjaan rumah, baik dari lingkungan dalam dan luar kampus, sebagai bagian dari keterlibatan dalam membaca permasalahan sekitar.

Ihwal paling penting dan dasar dari setiap keterlibatan menurut saya, adalah pola pandang dalam memahami sesuatu. Jika mencoba melihat arsitektur dari banyak sudut pandang, akan dapat pula ragam alternatif untuk selesaikannya, sebagai hasil dari proses menemukan nilai pada lingkungan. Percobaan proyeksi tersebut juga dibutuhkan kemampuan untuk menyusun rajutan fenomena arsitektur.

Setelah selesai menjalani proses magang lima bulan nanti. Emban tanggung jawab besar saya yakini akan hadir. Pembuktian-pembuktian memang harus dilakukan. Namun, tak kalah penting adalah bagaimana diri ini berproses dengan sungguh-sungguh menjadi lebih arif-bijaksana dalam setiap hal, khususnya dengan mengemban misi atau keprofesian arsitektur setelah lulus nanti. Keterlibatan dengan proyek arsitektur membangun bangunan, dan belajar material bangunan, mungkin akan menjadi satu hal yang saya jalani nanti. Dari sini saya perlu melakukan usaha dan belajar lebih, dengan segala keterbatasan kemampuan sebagai seorang mahasiswa arsitektur semester lima.

Beberapa hari kemudian, saya sudah memesan tiket termurah menuju Jakarta. Kawan saya Catur Bagus Saputro, biasa saya panggil Catur, saya mintai tolong untuk mengantarkan saya menuju stasiun Kota Baru, Malang. Setelah berjabat tangan, saya berpamit. Sesegera mungkin saya menuju loket dan masuk gerbong dengan nomor kursi 3-D, kereta Matarmaja.

Tas jinjing saya selipkan di bawah kursi dengan sandaran punggung tegak dan busa tipis, khas kursi kereta kelas Ekonomi kebanyakan. Saya duduk sembari merapal do’a yang belum sempat terpanjatkan. Ketika kereta memulai geraknya, pesan singkat saya kirimkan, sebagai pesan permohonan restu kepada orang tua. Dalam hati, saya bergumam, sembari menengok ke luar jendela yang basah: “Perjalanan 18 jam menuju Jakarta, menunggu di depan mata.”

DSCN9834.JPG

***

Residensi Mahasiswa Magang, sebuah (catatan) perjalanan pencarian narasi arsitektur: sebuah refleksi keterlibatan dalam praktik kerja arsitektural di studio LabTanya-AWD, Tangerang Selatan, Jakarta. Dalam periode Februari-Juli 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s