Metoda Perancangan dalam Konteks Indonesia

CzgTVp2UsAAcv8d.jpg

***
“…dengan segala kompleksitasnya, praktik kerja arsitektural membutuhkan waktu terus menerus dan (mungkin) tidak pernah selesai…”

 ***


Kalimat tersebut saya refleksikan sebagai simpulan-jawab atas praktik kerja arsitektur yang saya jalani selama magang di LabTanya, Tengerang Selatan, Jakarta. Kota Jakarta sebagai bagian dari praktik kerja penelitian (arsitektur) yang dilakukan, kemudian coba dirangkum menjadi apa saja tiap permasalahan yang mampu dikelola, sebagai wujud-upaya selesaikan fenomena permasalahan arsitektur Jakarta yang terbaca.

Jakarta sebagai lokalitas Ibu Kota, punyai nilai dan tuntunannya sendiri dalam praktik seorang arsitek, khususnya di Indonesia. Pemaham-pengertian membaca fenomena dengan segala kompleksitas di dalam konteks arsitektur, pada akhirnya tentukan peran yang dapat diambil dan dimainkan dalam masyarakat.

Menempatkan diri menjadi seorang arsitek dalam masyarakat bukan perkara mudah, sebuah pilihan yang kompleks pula dalam memandang arsitektur sebagai bagian dari lingkungan binaan. Menemu-kenali permasalahan yang dekat (terkadang) jauh lebih sulit daripada menemu-kenali apa yang terlampau jauh dari keseharian kita. Seringkali banyak hal yang terlewat dalam proses berkegiatan sehari-hari, jadikan kekurang-pekaan terhadap permasalahan. Dikhawatirkan, perihal tersebut jadi permasalahan yang terus berulang, menumpuk, menjadi hal biasa, dikhawatirkan kemudian terabaikan.

Meski menyadari permasalahan bukan hal mudah. Ada beberapa hal yang dapat dipikirkan dan diproses, sebagai upaya mengelola lingkungan binaan dalam mencari alternatif, guna pecahkan masalah sesuai dengan kompetensi dalam kemampuan memikul risiko dan konsekuensi atas suatu tugas yang diemban pada tiap daerah, baik kota maupun desa.

Menurut sosiolog Bintarto, kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk yang tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen, dan corak kehidupan yang materialistik. Ketika tiap arsitek diberikan tugas untuk membangun tanpa sensivitas urban serta permasalahannya, maka akan terjadi ke-chaos-an, karena masing-masing arsitek berlomba membuat tanda dan kontraskan bangunan terhadap lingkungannya.

Penjelasan Bintarto di atas dapat disimpulkan, bahwa kota punyai segala kompleksitas hari ini tentu terdapat permasalahan yang mampu ditemukan, dikenali, dan dipahami, untuk coba cari alternatif dalam selesaikan masalah.

***


Selama mengenali lingkungan dan ruang. Sudut pandang dapat dibangun sebagai ragam respon terhadap suatu peristiwa. Kejelian, kecerdikan dan kepekaan yang dimiliki seseorang berbeda, tergantung seberapa jauh tafsir maupun representasi yang dimiliki selama menempuh pendidikan maupun berpraktik menjadi seorang arsitek, dalam respon terhadap permasalahan (arsitektur) di sekitar.

Dalam keseharian, mengalami kejadian, peristiwa yang unik, mengejutkan, membanggakan bahkan menyedihkan, akan membangun pengalaman ruang terhadap sebuah kondisi. Di mana tubuh akan merespons dalam kenali tiap potensi dan permasalahan lingkungan, khususnya arsitektur.

Mengembangkan olah tubuh menjadi sangat penting, karena pada setiap individu memiliki keunikan dan bahasa tubuh yang berbeda-beda, hal ini menjadikan ‘imajinasi’ adalah sebuah respon yang sangat vital dalam melengkapinya. Bahasa tubuh yang bermacam-macam, akan mengeluarkan ekspresi yang berbeda-beda pula ketika melihat hal yang dirasa kurang relevan atau kurang pas di sekitar kita.

Kepekaan untuk memikirkan secara detail tentang pelbagai ihwal dan orientasi ruang yang berada di sekitar, menjadi hal yang sangat penting: memicu lahirnya berbagai pertanyaan, dan juga pemahaman kritis.

Ada kesadaran dalam pribadi saya, ketika analisis yang sering dilakukan oleh para perancang grafis, periset, arsitek maupun disiplin ilmu lain, merupakan bentuk kepekaan pembacaan terhadap fenomena sekitar. Sebuah alat kerja untuk mengerti keterhubungan dalam membaca fenomena yang ada di dalam masyarakat.

Pada sisi lain, kita semua sadar tentang adanya perubahan yang terjadi di sekitar masyarakat dan kehidupan dapat menjadi bahan pembelajaran. Sehingga tubuh menjadi wadah untuk mengakomodasi dan mempraktekkan nilai yang (semoga) nantinya dapat mengantar pada perilaku yang lebih berkesesuaian dengan ragam konteksnya.

Pengenalan-pengenalan terhadap masalah arsitektur hari ini semakin hari sebenar-rasanya semakin hambar, karena seringkali digiring untuk mengenali yang terlampau jauh dari diri kita, sehingga seolah lupa, ada penyakit purba dalam arsitektur kota Indonesia, khususnya di Kota Malang. Kemacetan, banjir, angka kecelakaan, fakta-fakta permasalahan arsitektur lainnya, menjadi ihwal yang mampu diulik untuk dapatkan khasanah pengetahuan beragam dari konteks di atas.

***


Kelemahan analisis sering saya lakukan selama ini dapat karena kekurang-kenalan atas pembacaan diri dan lingkungan sekitar. Kurang berani memecah ‘imajinasi’ guna membuka ragam alternatif untuk coba selesaikan masalah sekitar, menjadi sebuah hambatan.

Tubuh dan imajinasi, dua aspek yang punyai pengaruh dalam memantik diri di samping perlu memperkaya sudut pandang. Untuk tidak hanya melihat dari kulit luar, tapi lebih detail ke dalam, sehingga mungkin akan temukan hal baru yang berharga, hingga mampu capai ragam alternatif yang mampu dikembangkan menjadi sebuah wacana arsitektur dalam konteks perkotaan, wabilkhusus kota-kota Indonesia.

Jalan untuk menjadi seorang arsitek muda cukup mudah. Banyak hal yang dapat dikaji, mulai dari mengkaji masalah yang tak kunjung usai. Sudah terlalu banyak hari ini arsitek yang berpraktik di perkotaan –khususnya Jakarta. Dengan kompleksitas yang semakin tinggi, arsitektur kota Jakarta (mungkin) sudah tidak dapat diapa-apakan lagi, selain diambil hikmah-pelajaran. Kritik-kritik yang muncul sekali lagi hanya muncul sebagai sampah visual, bangunan arsitektur mendapat serbuan dari perancang yang jauh dari keberpihakan.

Dalam mencari Arsitektur Sebuah Bangsa: Sebuah Kisah Indonesia, buku yang merupakan hasil tesis M. Nanda Widyarta coba mendedah arsitektur Indonesia menjadi sebuah wujud tunggal yang dimiliki oleh masyarakat dengan karakter khas. Roh yang termanivestasikan dalam arsitektur adalah bagian dari keseluruhan jiwa yang nampak dalam semua bidang budaya Indonesia.

Kebudayaan Indonesia diyakini bukanlah sesuatu yang sudah ada, namun Indonesia hadir dari sebuah ide yang berproses hingga hari ini, yang mampu didefinisikan pada tiap generasinya. Semangat modernitas membentuk budaya Indonesia Baru, juga akan membentuk masyarakat Indonesia baru.

Faktor pembentuk perkembangan arsitektur di Indonesia menurut M. Nanda Widyarta didefinisikan menjadi proses lupa dan mengingat, bahwa ada suatu masa di mana sejarah direspon menjadi awal, pada rentan waktu tertentu, sehingga proses sebelumnya bahkan sesudahnya bukanlah sebuah bagian dari sejarah yang dapat dibaca dalam laku proses berarsitektur.

Pada arsitektur sebuah bangsa, tertuliskan kisah bangsa itu, tulis Victor Hugo dalam bukunya. Secara fisik, produk arsitektur yang juga diliputi dengan perkembangan dan proses berdirinya sebuah bangsa dan tidak hanya meliputi satu aspek, namun banyak aspek termasuk arsitektur, dalam tubuh arsitektur sendiri. Pembacaan terhadap proses kehidupan dan bagaimana mereka bertahan dengan lokalitas dan lingkungan khas Indonesia menjadi sebuah keunikan yang mampu diterjemahkan dengan sangat baik menjadi proses berarsitektur.

Ragam fenomena yang dapat dibaca dan dipelajari dari peradaban panjang proses berarsitektur bangsa Indonesia. Dengan demikian, dalam konsep arsitektur Nusantara, nilai simbolik yang terbaca dari arsitektur nusantara adalah kemampuannya untuk fokus-konsentrasikan kekuatan dalam diri dan lingkungannya untuk menyerap tiap kekuatan dari luar dirinya dan mefokuskan wujud-wujudnya yang saling berlawanan pada dirinya. Hal inilah kemudian menjadi dasar konsep bagaimana lokalitas atau arsitektur Nusantara begerak pada zamannya.

Metoda merancang yang difokuskan dalam “pendekatan” atau “tema”, yang didapat, ditinjau dan direkam, kemudian diterapkan dalam perancangan. Dapat diwujudkan melalui ragam pendekatan yang dapat coba kita maknai ulang.

Pendekatan Arsitektur Hijau (Green Architecture), Arsitektur Berkelanjutan (Sustainable Architecture), dan State of the Art merupakan varian pendekatan yang hari ini  banyak digunakan dalam tugas perancangan arsitektur mahasiswa Indonesia. Penerjemahan dan teori tidak sebatas dimaknai secara langsung, kaitan dengan konteks perlu dikaji dalam rangka menemukan kembali jati diri arsitektur dalam tiap lokalitasnya.

Buku Jati Diri Arsitektur Indonesia yang memuat beberapa tulisan tentang bagaimana cara pandang arsitektur Indonesia hari ini. Menurut hemat saya masih relevan untuk dapat dikaji dan diterapkan bukan hanya menjadi bahan pendidikan dalam perancangan di kampus. Akan tetapi keprofesian juga dirasa perlu untuk menerapkan bagaimana mewujudkan arsitektur Indonesia yang sesungguhnya.

Tentu saja hal ini demikian sulit jika tidak dibarengi dengan penajaman pembacaan dengan spektrum yang luas dari masa ke masa terkait proses dan perkembangan arsitektur khususnya di Indonesia. Karena dapat jadi praktik kerja arsitektur hari ini yang banyak dikerjakan arsitek sudah jauh-jauh hari dan pernah dilakukan beberapa dekade sebelumnya. Hal ini menjadi bagian dari pembacaan bagaimana menjangkau ketepatan dalam selesaikan masalah arsitektur agar mampu berlanjut ke depannya.

Belajar arsitektur sederhana dapat dilakukan dengan belajar dari masalah: menemukan dan mengenali masalah. Jika sudah dapat mengenali permasalahan tersebut lebih lanjut, dapat jauh menggali apa penyebab terjadinya permasalahan, dan solusi apa yang dapat diberikan.

Kita dituntut mengambil setiap butir hikmah serta pelajaran atas apa-apa yang dapat kita gali menjadi bagian dari proses belajar. Belajar mengenal yang mudah, ialah pelajari yang ada dalam diri: semakin kenal terhadap diri maka semakin kenal terhadap lingkungan, seterusnya, semakin luas dan meluas.

Pendekatan arsitektur tidak hanya sekedar pendekatan, ia menjadi satu pendorong atau pintu masuk untuk menguliti setiap permasalahan, bukan berarti satu pendekatan atau tema menjadi satu dan satu-satunya. Perumusan-perumusan ulang menjadi kebutuhan wajib untuk desain yang tidak dilepaskan dari lingkungan, hingga nilai mampu berlanjut, terintegrasi dengan ilmu yang lain, menjadi bagian dari gerak roda kebudayaan yang mencita-citakan arsitektur sesungguhnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s