Arsitek, “Bidan” Masyarakat dalam Merancang

poezia di paglia buoncovenito italia (2)
Poezia di Paglia, Buoncovenito, Italia. Salah satu karya Eko Prawoto.

“Apa yang kita miliki? Strategi apa yang kita pakai? Saya kira berarsitektur sudah tidak cukup lagi (jika) kita hanya berbicara tentang estetika atau style, tetapi ini adalah strategi survival dari kebudayaan itu sendiri.

Eko Prawoto dalam sambutan pameran Gedung BI,
Yogyakarta tahun 2012.

Sebuah Pencarian Bersama, film dokumenter yang merekam apik gagasan proses berarsitektur Eko Prawoto, arsitek dan perupa kelahiran Purworejo, Jawa Tengah. Dalam rentang waktu 2012-2015 proses berarsitektur yang digambarkan dalam film mewakili gagasan cita-cita arsitektur Indonesia yang ia bawa hingga dunia. Hal inilah yang menunjukkan konsistensi Eko Prawoto mencapai tahap demi tahap lewati proses tiap ruang waktunya.

Di samping berpraktik langsung menjadi seorang arsitek yang menggawangi perancangan rumah pribadi, kafe, ataupun kantor. Kesibukan lain Eko Prawoto ialah menjadi seorang dosen di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta yang dilakukan setelah menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada, dan The Berlage Institute Amsterdam, Belanda.

Proses merancang yang serba cair membuat karyanya memiliki corak khas, baik dalam pemilihan bentuk ataupun material. Ajeg memakai material lawas sebagai bagian dari detail rumah yang dirancangnya. Kejelian rancangan Eko Prawoto dalam membuat “detail” arsitektur, membuat kekaguman lain, seolah memuat ciri tersendiri dalam rancangannya, dalam membuat detil pahatan, mendaur ulang bahan yang tak terpakai, melibatkan lingkungan (baca: masyarakat-non-arsitek) untuk andil dalam rancangan yang digubahnya.

Kehidupan profesi pemilik tidak pernah lepas dari tiap proses merancang rumah. Detail yang khas berani disuguhkan Eko Prawoto pada setiap rancangannya, memuat ragam simbol ketika hadir sebagai satu karya jadi, serta tidak lepas dari apa yang ada di lingkungan sekitarnya. Arsitektur yang digagasnya coba menjunjung tinggi nilai-nilai sosial dengan melibatkan potensi lingkungan sekitar. Konsep ramah lingkungan dan ekologi arsitektur, banyak ditemukan dalam karyanya.

Pertemuan dengan dua orang perupa Nindityo Adipurnomo dan Mella Jaarsma misalnya, membawa mereka dalam sebuah pertemanan yang akrab. Perkawanan tersebut menghasilkan rancangan kolaborasi sebagai seorang klien dan arsitek. Yang menghasilkan gagasan rancangan bertetangga dengan baik, dengan kehadiran meniadakan pagar sebagai upaya kritik terhadap bangunan modern yang seringkali ingin menonjolkan diri dalam lingkungannya sebagai entitas baru.

Membaca sebagai Proses ber-Arsitektur

poezia di paglia buoncovenito italia (2).png
Proses kontruksi Poezia di Paglia, Buoncovenito, Italia.

Instalasi Poezia di Paglia, Buonconvento, Italia. Salah satu karya yang juga lahir dari membaca potensi lokal yang banyak tersedia di daerah tersebut. Eko –panggilan akrabnya– memulai desain Instalasi dengan cara yang biasa ia lakukan yakni, memulai desain dengan dialog, bertanya kepada masyarakat tentang keadaan, potensi dan isu yang terbaca. Dalam instalasi Poezia di Paglia, Eko ingin menunjukkan kembali potensi pertanian yang kurang ditengok oleh masyarakat sekitar. Dari gambaran masalah misalnya, Eko memilih sebuah tapak –merupakan daerah yang kurang dipandang.

Dengan material jerami, instalasi ini menjadi salah satu elemen lanskap sederhana, disusun menumpuk membentuk sebuah konstruksi arsitektur. Sebuah monumen yang mempertalikan lingkungan dengan kotanya, petani dengan sawahnya, bumi dengan bentang alamnya.

Masyarakat sekitar yang berlalu lalang punyai ketertarikan dengan karya Eko ini, karena dari jauh nampak kokoh, namun dengan mendekati, akan terlihat detail material yang digunakan: sebuah monumen dari tumpukan jerami yang rapuh dan sementara. Itulah nilai ketertarikannya, masyarakat kemudian antusias dengan apa yang menjadi potensi yang ada dan digambarkan melalui karya arsitektur Eko Prawoto yang ia sendiri menamai proses yang dilakukannya ialah pendekatan “open ending“.

Proses open ending sendiri dapat dimaknai sebagai sebuah proses bagaimana bangunan dapat menceritakan beragam potensi di sekitarnya setelah diwujudkan dalam tapak. Open ending sebagai proses lanjut setelah desain dihadirkan dalam tapak ingin coba menjawab pertanyaan: bagaimana sebuah karya tidak lantas berhenti setelah jadi? Akan tetapi setelah selesai dibangun, ia adalah awal.

Selain seni instalasi. Eko Prawoto lebih menyenangi proyek desain rumah pribadi dari seseorang secara personal, dengan harap dapat belajar dengan si pemilik rumah, melalui tata cara, sudut pandangnya perihal kehidupan dan lain sebagainya. Dalam mendesain rumah Butet Kertaredjasa –seorang seniman asal Yogyakarta– misalnya, Eko Prawoto mengawali prosesnya dengan pertanyaan: bagaimana rumah impian yang diinginkan?

Dalam hal ini, tentu saja Butet menceritakan rumah impian sebagai awal proses desain. Dalam ceritanya, sekitar pada tahun 1996-1997, dia berkunjung ke rumah seorang seniman pembuat topeng tradisional di Desa Krantil, Bantul, yaitu alm. Warno Waskito. Beliau melihat rumah induk dan studio tempatnya membuat topeng, seolah menjadi sebuah perjalanan dari rumah satu ke rumah yang lain: seperti sebuah rumah bertetangga.

Ruang utama bertetangga dengan studionya, bertetangga dengan dapurnya. Terpisah. Tidak dalam satu masa bangunan. Rumahnya sederhana, dan jarang sekali Butet menemukan rumah seperti itu. Karena letaknya di kampung, juga tidak ingin membuat rumah yang seolah berdiri sendiri, menjadi sosok tunggal yang mencolok. Namun, ingin selaras dengan kampung yang sudah bertahun-tahun lamanya, hingga muncul sebuah desain yang sederhana, memanfaatkan material yang ada dan tersedia di kampung: anyaman bambu, genting tanah liat, ukiran kayu, material bambu dan lainnya. Impian itu merupakan landasan yang dijadikan Eko Prawoto dalam mendesain rumah Butet.

Proses desain Eko Prawoto tidak sebatas menjual sebuah karya desain. Namun, semangat lokalitas yang dijunjung tinggi, membuat desain punyai nilai lebih. Kehadiran karya-karya Eko Prawoto ini merupakan sebuah penghadiran baru, bagaimana sebuah wujud arsitektur berani mengangkat potensi sekitar, hingga memunculkan satu karya, dengan ragam cerita.

Dari refleksi karya Eko Prawoto dapat dipahami lebih jauh, bahwa arsitektur ialah soal ruang, bukan soal gambar. Ruang adalah sesuatu yang dirasakan langsung, bukan sekadar didokumentasi atau digambar. “Karena mengalami (ruang) secara langsung akan lebih berarti daripada hanya sekadar melihat dalam sebuah gambar.” Ujar Eko Prawoto dalam Sebuah Pencarian Bersama.

Selain bagaimana masyarakat perlu memahami apa yang sebenarnya (potensi) yang dimiliki di daerah lokalnya. Lebih dari itu. Bagaimana nilai-nilai sosial yang di terapkan dalam proses merancang pada sebuah rancangan? Proses pembangunan Dusun Ngibikan pasca-gempa Mei 2006, memuat dasar sudut pandang Eko Prawoto bahwa arsitek sebagai bidan masyarakat dalam merancang. Bidan dan Membidani yang dimaksud Eko Prawoto di sini adalah bagaimana seorang arsitek bukan menghasilkan karya, namun membantu seorang melahirkan karya tersebut dengan menemani dan berdialog dalam setiap prosesnya.

Sebuah sumbangsih pemikiran Eko Prawoto ini ingin bersinergi sekaligus menjadi padu dengan masyarakat sekitar. Walau peran seorang Eko Prawoto sangat kecil, karena masyarakat Dusun Ngibikan lah yang berperan besar dalam bergotong-royong membangun kembali Dusunnya. Hal itulah yang membuat Dusun ini mendapat banyak sorotan dari berbagai dunia arsitektur, karena peran seorang arsitek sebagai pendamping masyarakat, serta menjadikan arsitektur sendiri sebagai bagian (kecil) dari kehidupan manusia, ia hidup di tengah bagian masyarakat Dusun Ngibikan.

Tidak kalah penting lagi yakni Arsitektur “Kampungan”, prinsip yang dikantongi Eko Prawoto yang hadirkan nilai-nilai kearifan lokal. Menjadikan tiap karya arsitekturnya tidak sekadar menonjolkan diri menunjukkan ke-aku-annya, tanpa memihak lingkungan (lokalitas) yang ada. Proses ber-arsitektur Eko Prawoto jika coba dirangkum yakni bicara tentang kejelian pada lingkungan (eksisting), keberpihakan kepada kaum lemah, dan mengambil hikmah dari proses arsitektur (Nusantara): gotong royong. Keberpihakan terhadap manusia, alam, dan lingkungan sekitar juga banyak disampaikan dalam tiap karya Eko Prawoto.

Keseluruhan proses Eko Prawoto, dapat dipelajari lebih lanjut sebagai “teori arsitektur” yang tuntas. Mengenai bagaimana tiap karya arsitektur mampu dibaca untuk turut mengambil hikmah pelajaran dan pengalamannya, dalam rangka merangkai fenomena ke dalam proses arsitektur yang dihadirkan dan yang akan dijalani oleh calon-calon arsitek muda negeri ini.

Semoga.


Sumber bacaan:

Ariadina, Artha. 2009. Bedah Rumah Orang Beken. Penerbit Karnisius: Yogyakarta.

Pangarsa, Galih Widjil. 2008. Arsitektur untuk kemanusiaan: teropong visual culture atas karya-karya Eko Prawoto teropong visual culture atas karya-karya Eko Prawoto. Wastu Lanas Grafika: Surabaya.

Sebuah Pencarian Bersama. Perbincangan pemikiran arsitektur bersama Eko Prawoto. Diproduksi oleh Rumah Seni Cemeti. Tim Video: Jompet, Chandra Hutagaol, Ragil Binsar, Ananto Prasetyo, Teguh Santosa, dan Yennu Ariendra. Dibuat tahun 2009.

Advertisements

One thought on “Arsitek, “Bidan” Masyarakat dalam Merancang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s