Kepulangan saya ke rumah membawa pada memori masa kecil yang tiada pernah habis. Menuju dapur, membuka tudung saji, membawa saya pada sebuah makanan yang berkuah hitam disertai potongan daging. Makanan yang diakui khas Jawa Timur ini dikenal dengan rawon.

Kuah hitam rawon tersebut berasal dari biji kluwek (keluak) menjadi salah satu bumbu dari ragam bumbu lain seperti bawang merah, bawang putih, lengkuas (laos), ketumbar, serai, kunir, lombok, garam, serta minyak nabati yang kesemuanya diolah lanjut, dihaluskan lalu ditumis sampai harum. Campuran bumbu kemudian dimasukkan dalam kaldu rebusan daging.

Rawon membawa saya pada ingatan ketika masih duduk di sekolah dasar tentang sarapan sebelum berangkat sekolah.

Kepulangan Ibu dari pasar membawa rantangan stenlis dua literan berisi rawon. Sembari tangan kanan membawa bungkus sayuran, tangan kirinya menenteng rantangan dengan tutup terbalik yang sudah terdapat p ula sambal dan taoge sebagai pelengkap. Rawon Mbak Rumana, yang biasa saya kenal dengan Mbak Rum sejak kecil membawa perkenalan tentang masakan kuah hitam. Warung yang terletak di Jl. Raya Malang – Surabaya No.281, Lemahbang, Sukorejo, Pasuruan.

Pasuruan sebagai kampung halaman saya. Rawon yang cukup terkenal yakni Rawon Nguling. Saya belum pernah mencobanya hingga hari ini. Namun, katanya rawon Nguling merupakan rawon yang punyai khas dengan kuah hitam yang pekat.

Menghasilkan kuah hitam dengan kluwek sekarang tidak sesulit dahulu ketika bumbu-bumbu harus diproduksi sendiri. Bumbu-bumbu kini mudah dipilih dan didapatkan dengan harga terjangkau. Setiap masakan dapat dibuat dengan cepat. Termasuk rawon.

Namun, kecepatan masakah yang dibuat berbuah pada kehilangan kemampuan mengolah bumbu. Dapur yang seharusnya punyai kesempatan sebagai ruang belajar dalam membuat masakan mulai nol, sekarang sudah tergeser oleh bumbu siap saji yang sudah dikemas dalam rangka memudahkan. Tidak hanya bumbu. Santan juga menjadi satu hal yang sekarang jarang diproduksi oleh Ibu di rumah. Setiap masak, Ibu sudah membeli satu atau dua sachet santan kemasan yang cara memasaknya tinggal memasukkan ke dalam kuah panas masakan.

Barangkali memeras santan di rumah pada hari-hari besar menjadi satu nostalgia. Di mana menjadi sebuah bentuk perlawanan dari sebuah produk industri yang sedemikian cepat mengambil kesempatan merebut waktu Ibu-Ibu di dapur untuk masak. Masak di dapur menjadi bukanlah sesuatu yang rumit dan butuhkan waktu panjang seperti dahulu. Jika hal ini terus terjadi mungkin saya dan saudara saya lainnya nanti kehilangan kesempatan dalam mengenali beragam proses belajar yang harusnya bisa dilakukan di dapur, termasuk bagaimana mengolah kluwek menjadi bumbu rawon.

Bumbu rawon yang khas hitam dengan kluwek pun kini sudah tersedia dalam kemasan saset. Tidak perlu sulit untuk mengolah kembali. Hanya dengan didihkan air dan memasukkan satu atau dua bungkus, jadilah kuah rawon. Di rumah, masakan ini menjadi sajian alternatif yang dibeli ketika masakan Ibu belum matang, dan sesekali pula Ibu memesan di warung Mbak Rum untuk acara syukuran di rumah.

Pagi sekali, biasanya para tukang ojek terlihat sudah mampir sarapan di warung rawon Mbak Rum. Keajekannya dalam suguhkan masakan rawon telah cukup dikenal di Dusun saya. Daging sapi yang seukuran dua ruas jari menjadi ciri khas rawon Mbak Rum. Ditambah pula harga yang terjangkau, membuat siapa saja tidak akan melewatkan pagi harinya dengan lahap di warung Mbak Rum.

Rawon Mbak Rum yang terletak 50 meter dari rumah tidak hanya menjadi alternatif sarapan tukang ojek, namun juga membuat kedekatan tersendiri dalam keluarga saya.

Pernah suatu ketika liburan sekolah. Saya dimintai tolong Ibu untuk membeli rawon. Rantang dan serbet kain sudah disiapkan. Uang sepuluh ribu tak lupa ia selipkan, untuk dibayarkan ketika sudah dapatkan kuah rawon di rantangan, tak lupa saya meminta taoge dan sambal.

Sambal dalam diri dan kaluarga saya menjadi satu hal yang penting. Ketika makan tanpa sambal. Ada satu hal yang hilang dalam diri pribadi saya sebagai seorang pemakan segala yang ganas. Sambal selalu menjadikan diri saya menikmati setiap masakan.

Setelah rawon di tangan dan saya antar sampai rumah. Nasi ternyata sudah disiapkan di atas piring, mengepul asap tanda masih hangat. Saya buru-buru siramkan dengan kuah hitam rawon yang juga masih kepulkan asap. Tak lupa sambal dan dua potong tempe goreng yang sudah siap sedia. Taoge dan sambal tak lupa saya tambahkan untuk menambah kelengkapan. Rawon siap menjadi sarapan saya dan seluruh keluarga.

Kini aktivitas saya sebagai mahasiswa membuat jadwal pulang menjadi tidak rutin. Membuat saya merindukan rawon ketika pulang dan membuka tudung saji.

Dan beruntunglah hari ini. Saya menemukan kuah hitam, masih hangat, bersanding dengan daging dan tempe goreng. Namun, ini rawon yang berbeda. Tidak lagi dengan rantang stenlis yang dibelinya di Mbak Rum ketika SD dahulu. Ibu sudah mahir membuat sendiri di rumah. Saya semakin lahap menyantapnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s