“Banyak cara sebuah usaha dalam mengiklankan diri. Jasa iklan di media massa sangatlah mahal. Dan ada cara untuk menyelesaikannya, ‘Taruh nomor telepon anda di jalanan!’ “

Premis besar di atas menjadi sebab munculnya dokumenter Andy Bertanya (Andy Ask), coba memuat representasi urban dalam papan reklame ilegal. Hingga dapat dikatakan: sebuah bentuk media yang tumbuh dengan tak terselenggara. Penyelenggaraan yang sudah diatur barangkali tidak dapat menjangkau upaya-upaya yang kerap dilakukan dalam memasang papan reklame secara massal dan ilegal dalam perkotaan.

Bagaimana sebenarnya latar belakang kehadiran papan reklame hingga membanjiri informasi visual di kota? Bagaimana cara atau praktik kerja munculnya papan reklame? Hingga kerap menjadi sampah visual kota yang berserakan di sepanjang jalan, bertengger di tiang listrik, pohon, pagar rumah maupun jembatan layang tidak luput dari kertas, banner, papan kayu maupun seng yang bertuliskan jasa-jasa yang ditawarkan.

Papan reklame barangkali menjadi pemandangan tak asing ketika kita melakukan perjalanan. Forum Lenteng, sebuah forum yang berkomitmen dan berdedikasi tinggi mengamati, mengembangkan dan mengkaji isu-isu sosial dan budaya masyarakat. Coba menangkap kehadiran papan reklame, sebagai satu dari sembilan video yang bercerita tentang sembilan pengalaman tentang hidup di Jakarta. Andy Bertanya merupakan bagian dari Massroom Project yang dibuat pada tahun 2003. Sebuah proyek dokumenter yang bercerita mengenai banyak aspek yang dapat ditemui di Kota: transportasi dan ruang massa, pedagang tradisional yang terpinggirkan, polusi suara di kota dan pola pertahanan hidup di Jakarta.

Andy Bertanya, sesuai judulnya, dikerjakan dengan cara sederhana: bertanya sebagai bagian verifikasi melalui telepon. Rekaman tersebut menggambarkan fakta-fakta di balik praktik papan reklame yang sering di pasang di tiang listrik sampai pohon. Bahwa mereka ada dan terorganisasi. Ada orang-orang yang bekerja untuk hal pemasangan iklan semacam ini. Bahkan mungkin praktik tersebut masih terjadi hingga hari ini.

Adalah kumpulan foto hasil dokumentasi yang ditayangkan secara berganti dengan fokus utama papan reklame, sepanjang jalan kota Jakarta yang dapat ditemui. Memuat nomor telepon, iklan tersusun di tiang listrik, pohon, tembok, pagar rumah dan lainnya. Ragam jenis iklan termuat mulai dari jasa badut ulang tahun, sedot wc, penyaluran pembantu bahkan guru lukis, pelbagai jasa dapat kita temukan di papan tersebut. Dengan foto yang berganti menjadikan persoalan iklan papan reklame tergambarkan tak terbatas, sporadis: selalu ada di sepanjang jalan. Banyak penawaran disajikan, beragam jenis, beragam kebutuhan, apapun yang kita butuhkan, seolah pasti ada.

“Selamat siang. Apakah ini 70783595?”.

“Iya benar!”.

Penyebutan nomor telpon dalam dialog terasa asing dan jenaka, ketika menghubungi jasa Les Lukis. Praktik papan iklan yang sebagian besar tidak memuat nama instansi dan hanya membubuhkan nomor telepon saja. Percakapan wajar dilakukan dalam setiap telepon yang coba dihubungi. Pertanyaan seputar alamat, lokasi dan biaya yang dapat dikeluarkan ketika ingin menyewa pembantu rumah tangga juga guru lukis.

Pertanyaan basa-basi seputar terasa tidak penting bagi pemasang iklan. Tapi kemudian menjadi penting, ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut menyentuh ihwal yang selama ini (mungkin) banyak kita pertanyakan: mengapa papan reklame tersebut terpasang di pohon, tiang listrik atau pagar-pagar pinggir jalan?

“Asik banget ye, naruh (papan) iklan di disitu.”

Jawaban pemilik usaha dalam hal ini mengaku: bahwa papan reklame tersebut dipasang dengan menyewa seseorang yang memang bertugas untuk memasang iklan, jelas ada pihak yang terkait dengan pemasangan ini, dengan biaya lima ratus ribu per bulannya, sesuatu yang cukup murah jika dibandingkan dengan memasang iklan dengan benar.

Ini membuat banjir papan reklame di sepanjang jalan, terutama di kota-kota besar. Jelas ini dapat dikatakan ilegal, sebab tidak ada kejelasan siapa pihak ini. Dengan menyajikan jasa papan reklame, cenderung tidak tertata dalam pemasangan menjadikannya sebagai kategori sampah sampah visual kota.

Konteks papan reklame sebagai sampah visual, menjadi ihwal penting yang dapat dikaitkan dalam permasalahan wajah kota. Ruang publik dijadikan sebagai ruang bebas: tak ada aturan, terkait pemasangan iklan semacam ini. Memotori penggunaan papan reklame yang semrawut ini mengganggu estetika sepanjang jalanan, mengklain ruang publik sebagai ruang iklan.

Papan reklame atau sejenisnya dapat dikatakan sebagai sampah visual jika memuat lima hal: (1) Iklan luar ruang dilarang dipasang di trotoar; (2) Iklan luar ruang dilarang dipasang di taman terbuka dan ruang terbuka hijau; (3) Iklan luar ruang dilarang dipasang di tiang telepon, tiang listrik, tiang lampu penerangan jalan, dan tiang rambu penerangan; (4) Iklan luar ruang dilarang dipasang di dinding, jembatan dan bangunan heritage; (5) Iklan luar ruang dilarang dipasang di batang pohon. Kelima hal ini termuat dalam Lima Sila Sampah Visual sebagai KPU (Komisi Pemilihan Umum) yang dapat dijadikan referensi.

Jika praktik ini ditarik beberapa tahun ke belakang. Dapat dikatakan praktik iklan semacam ini masih terjadi dan menjadi masalah visual kota. Puncaknya, Satu dekade setelah film Andy Bertanya dibuat tahun 2003. Pada 2013, respon yang sama hadir dalam tajuk reresik sampah visual. Sebuah usaha yang diinisiasi Sumbo Tinarbuko untuk coba gerakkan masyarakat mencabut seluruh banner, poster maupun baliho yang dianggap mengganggu pemandangan kota. Yang memang, semakin hari kian bertambah.

Tidak aktifnya dua nomor telpon terakhir dalam Andy Bertanya dapat dijadikan salah satu indikasi: bagaimana praktik ini sebenarnya berjalan? Apakah iklan ini memang sudah kadaluwarsa dan wajar ketika tidak aktif? Akan tetapi, reklame tetap menempel di sekitar jalan perkotaan. Barangkali instansi atau jasa terkait memang sudah mengganti nomor telepon, atau kabar terburuknya: instansi atau jasa tersebut sudah tutup, bertahun-tahun lalu lamanya.

Andy Bertanya | 2003 | Durasi: 14′ 10″ Menit | Partisipan: Andang Kelana / Andy “Galib” Rahmatullah / Mahardhika Yudha / Maulana Muhammad “Adel” Pasha / Wachyu “Aconk” Ariestya Permana | Hafiz (Advisor) / Otty Widasari (Mentor). | Produksi: Forum Lenteng | Negara: Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s