Dua pekan ini studio kami tiba-tiba didatangi dua ekor kucing. Kami tidak tahu dari ras mana atau darimana mereka datang. Yang jelas, mereka sampai hari ini menetap dan tinggal bersama kami. Sesekali makanan kami berikan sebagai jawaban atas suara mengeong mereka terdengar semakin keras tanda lapar.

Sebagai hewan domestik. Anjing dan kucing tidak dapat dihindari keberadaannya. Mereka hidup dan ada di sekitar. Bedanya, barangkali banyak yang memperlakukannya sebagai peliharaan atau bagi anjing, ia dijadikan sebagai penjaga rumah. Namun tak jarang pula keberadaannya yang dibenci dan tidak disuka, membuat siapa saja yang tak menghendaki, melakukan siksa.

Dalam rubrik suara pembaca Tribun Lampung (26 Januari, 2017) misalnya. Seseorang melapor bahwa ia mempunyai anjing dan mengejar tetangganya hingga sempat terjatuh. Setelah kejadian tersebut, tetangga sempat mengancam dan akan membunuh anjing yang ia pelihara tersebut, serta memintanya untuk tidak dikeluarkan dari rumah. Sebab jika tidak ia akan membunuh anjing tersebut.

Ada saksi pidana dalam Pasal 406 KUHP tentang membunuh hewan orang lain. Yang menyebutkan:

(1) Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusakkan. membikin tak dapat dipakai atau menghilangkan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

(2) Dijatuhkan pidana yang sama terhadap orang yang dengan sengaja dan melawan hukum membunuh, merusakkan, membikin tak dapat digunakan atau menghilangkan hewan, yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain.

Namun juga tidak berarti sebagai pemilik anjing, tidak dapat lepas dari tuntutan secara pidana. Ia dapat digugat secara perdata, jika perbuatan anjing timbulkan kerugian bagi kepada orang lain.

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata:

“Pemilik seekor binatang, atau siapa yang memakainya. adalah, selama binatang itu dipakainya, bertanggung jawab tentang kerugian yang pengawasannya, maupun tersesat atau terlepas dari pengawasannya.”

Pasal 490 ayat 2 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang berbunyi:

“Diancam dengan pidana kurungan paling lama enam hari, atau pidana denda paling banyak tiga ratus rupiah barang siapa tidak mencegah hewan yang ada di bawah penjagaannya, bilamana hewan itu menyerang orang atau hewan yang lagi ditunggangi, atau dipasang di muka kereta atau kendaraan. atau sedang memikul muatan.”

Dengan demikian orang yang mengancam dan melakukan pembunuhan bisa dituntut penjara.

Kekerasan dan kebencian bisa menimpa siapa saja, termasuk hewan. Perlu kesadaran akan hidup bersama untuk terus dipupuk dan disuburkan. Sebagai hidup yang dalam fitrahnya ialah saling gotong-royong, tak dapat jalan sendiri.

Dicha Hermandha, gadis muda penyuka binatang, khususnya kucing berinisiatif mendirikan Stray Cat Defender pada 2013. Tujuan utamanya yakni sebagai ruang penyadaran publik sekaligus aksi agar orang lain juga tergerak untuk mengikuti aksi yang sama. Karena kasus penelantaran kucing sering disepelekan. Demikian saya kutip dari halaman situs Wajah Malang.

Pembelaan kucing-kucing terlantar yang masih punya hak hidup coba dilakukan oleh Stray Cat Defender, berbasis inisiatif masyarakat yang bersifat cair dan dalam jaringan. Menjalankan beragam program sebagai bagian dari melindungi dan turut memelihara kucing. Seperti adopsi, memberi makan serta perawatan seperti sterilisasi, vaksin dan sosialisasi.

Komunitas lain yang juga bergerak di bidang yang sama salam perlindungan hewan domestik seperti Perlindungan Kucing Domestik Indonesia (PKDI), Stray Cat Defender Malang, Save Paws Surabaya, Malang Sahabat Satwa, dan Arek Malang Peduli Kucing  punyai tujuan yang sama dalam kampanyekan kepedulian pada hewan domestik, khususnya kucing.

Mereka punyai dasar berfikir yang sama terkait Undang-Undang nomor 302 tentang Perlindungan terhadap Hewan di Indonesia. Perlindungan yang dimaksud dalam hal ini yakni pemusnahan kucing dan penyiksaan kucing.

#StopSiksaHewan mural di atas kami coba usung dalam rangka turut berpartisipasi dalam kampanyekan kekerasan hewan. Mural yang coba gambarkan bagian kecil kepedulian dan satu suara: bahwa kami mendukung kawan-kawan yang selama ini bentangkan kepedulian terhadap hewan-hewan yang mengalami penyiksaan, sebagai sesama makhluk yang punyai hak hidup dan berkehidupan.


Tulisan ini pertama dipublikasi di blog Komunitas Turu Kene, sebuah wadah bagi kawan-kawan yang ingin menyuarakan gagasan kritisnya dengan karya mural, stensil, sablon cukil atau yang lainnya.

Advertisements

2 thoughts on “Kekerasan Hewan dan Mereka yang Bentang Kepedulian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s