Kost, Tahu Malaikat dan Pasar Merjosari

Jarak yang dekat kampus, membuat saya sering singgah ke tempat kawan-kawan. Sebuah bangunan yang dirancang sebagai kost dengan empat belas kamar ini, lebih sering disebut sebagai Kost Sirathal Mustaqim. Alasannya, mungkin karena akses jalan yang dirancang “lurus” -sebagai imaji jembatan sirathal mustaqim- menuju ruang garasi belakang.

Ruang paling ujung tidak disewa-gunakan sebagai kamar tidur sebagaimana mestinya. Namun, kawan-kawan meletakkan beberapa perabot, guna alih fungsikannya menjadi studio gambar dan pengerjaan maket: baik itu proyek maupun tugas mahasiswa (arsitektur).

Lingkungan sekitar kampus juga semakin tahun, semakin tambah pula berdiri bangunan semacam toko, ruko dan warung kopi. Jadikan sawah depan kost sebagai oase bagi kawan-kawan yang melewati gang belakang Pasar Merjosari menuju kost ini.

Pasar Merjosari dengan segala cerita dan narasi di dalamnya, tidak dapat dilepaskan dari keadaan kost dan lingkungan sekitar. Ketika lembur dan kelaparan melanda pada waktu sepertiga malam. Mampir ke pasar, memesan teh hangat, kopi atau nyemil gorengan dengan sambel khas Bu Lemu -nama penjual di warung ijo langganan kami, jadikan peristiwa harian teman lembur anak kuliahan.

Entah mengapa persekawanan jurusan arsitektur kami lebih mahir menyebutkan ciri fisik sebagai nama khas, ketimbang bertanya langsung siapa nama asli beliau-beliau, sang penjual di warung. Bu Lemu misalnya, serupa dengan fisiknya, lemu dalam bahasa Indonesia berarti: gemuk.

Di antara sekian banyak gorengan dan makanan yang tersaji. Tahu goreng menjadi favorit kawan-kawan karenah gurih dan asinnya. Kami biasa menyebut “Tahu Malaikat,” disebabkan seringkali kami menikmati pada waktu sepertiga malam.

Waktu yang kami percayai bahwa malaikat turun berkeliling, serta mencatat tiap orang yang sengaja bangun dan melakukan ibadah malam. Itulah sebab-musabab nama tahu yang hadir menutupi lapar saat sepertiga malam, kami yakini sebagai Tahu Malaikat. Dan semoga malaikat mencatat nama tiap orang yang terjaga dan makan tahu di warung Bu Lemu.

Warung Bu Lemu yang jualan sejak dini hari hingga siang –jadwal sama dengan pedagang pasar lainnya. Kini harus bersinggungan dengan aparat yang ditugaskan oleh pemerintah kota Malang untuk memindahkan Pasar Merjosari ke Pasar Terpadu Dinoyo.

Pasar Terpadu Dinoyo, memang telah selesai pembangunan gedung baru. Pasar Merjosari jauh-jauh hari telah diinformasikan sebagai pasar sementara. Sebagai tempat pedagang yang dahulu ada di Pasar Dinoyo dan sekarang harus kembali ke sana.

Keadaan pasar baru bukan lantas dapatkan persetujuan baik dari warga Pasar yang sudah bertempat lama dan mencari penghidupan di sana. Kebutuhan tempat berjualan yang layak menjadi alasan mengapa warga menolak pemindahan ke Pasar Terpadu Dinoyo. Ukuran bedak atau lapak dagang tiga meter persegi dan pintu roller, dikatakan lebih mirip bilik warung internet daripada kios dagang pasar. Ukuran yang tidak jauh lebih besar dari kamar kost.

Dengan ukuran yang kurang layak tersebut, banderol harga jual oleh pengelola Pasar Terpadu Dinoyo cukup memberatkan, dengan kisaran antara 80 juta hingga 110 juta. Kios dengan ukuran minim tersebut jika digunakan pedagang baju pasar Merjosari, tentu tidak akan cukup. Sementara lokasi lain dengan ukuran enam meter persegi, harga berlipat menjadi 135 juta hingga 250 juta. Bahkan ada yang mencapai 230 juta hingga 410 juta. Biaya yang mahal untuk sebagian besar pedagang sayur dengan omset minim.

Jumlah pedagang resmi pasar Merjosari tercatat mencapai 700 pedagang, dengan pedagang kaki lima binaan 500 pedagang, total 1200 pedagang aktif. Sementara, kios yang tersedia di Pasar Terpadu Dinoyo hanya 700 lapak, dengan ragam ukuran yang tak mewadahai pedagang lama.

Pasar dengan kunjungan ratusan hingga ribuan orang secara bersamaan, mulai pagi saat pasar beroperasi. Membuat kesibukan butuhkan tingkat sirkulasi yang luas dari keadaan yang sekarang. Sidak komisi C DPRD, menyatakan bahwa Pasar Terpadu Dinoyo tidak layak dan haruskan ubah ukuran, serta penambahan instalasi baik listrik maupun sirkulasi angin yang memadai.

Polemik yang tak kunjung reda ini sederhananya perlukan komunikasi mufakat, bahwa kesesuaian kebutuhan penjual perlu ditanyakan, bukan lantas menstandarkan sesuai apa yang sudah ada dalam peraturan atau kebutuhan ruang standar arsitektur yang sudah ada.

Kebutuhan pasar rakyat sebagai roda ekonomi keluarga dan masyarakat, seyogyanya mampu menjadi sosialisasi lintas etnis, tiap strata ekonomi, lintas kelompok, sebagai ruang komunikasi antar warganya. Sayangnya komunikasi pada tiap hiruk-pikuk kesibukan jual beli yang sudah tersusun dengan baik ini, harus segera berakhir dan dicederai dengan alasan: hanya memenuhi perintah atasan terkait pasar terpadu.

Perlu pertanyaan lebih lanjut terkait konsep pasar terpadu, apakah cukup dengan pemusatan pasar pada area tertentu? Atau meluaskan pesebaran dan area jangkauan penjual, agar masyarakat sebagai pembeli mudah akses kebutuhannya. Kemudahan dan kejujuran antara penjual dan pembeli, jadikan nilai (konsep) utama bagaimana merancang pasar. Sehingga pasar mampu bangun karakter masyarakat.

Silahkan, tak mengapa fisik dipindahkan sering dan berulang. Namun pihak kuasa, sekali lagi, seyogyanya mampu lihat sejauh mana ketepatan dalam keberpihakan. Jika peraturan sudah diberlakukan. Investasi sudah digelontorkan untuk tanah bekas pasar. Namun pedagang masih saja dibingungkan dengan keberlanjutan usaha mereka yang sudah berjalan dan harus mencari tempat baru. Bisa jadi jalan alternatif satu-satunya bagi pedangang, jika boleh mengutip Idzul Dzulkifli: “Bertahan (dan tetap berjualan) adalah bentuk perlawanan untuk merdeka dalam sandang-pangan-papan.”

Agaknya, mencari warung sebagai kebutuhan pangan ketika lembur tugas waktu sepertiga malam, akan semakin jauh saja. Tapi tak masalah, karena sampai hari ini warung Bu Lemu masih setia, tetap buka dan tidak pindah. Walaupun atap sudah dibongkar. Bu Lemu siasatinya dengan tenda biru sebagi pelindung dari air hujan. Dan kawan-kawan minggu kemarin sempatkan mampir beli teh, sembari dengarkan celoteh tanda kritik Bu Lemu terhadap rancangan pasar baru.

“Piye pasar Dinoyo iku. Aku mari mrunu.” Bu Lemu menjelaskan kondisi Pasar Dinoyo dalam bahasa jawa dengan nada khas Ibu-Ibu. “Panggone cilik. Ngelebokno kompor, mejo gak iso melbu. Mejo tak lebokno, aku sing gak iso melbu. Bokongku nyampluk-nyampluk sembarangkalir.” Lalu suami Bu Lemu nyeletuk: “Lhaiyo, bokong kok pancen cek gedene.” Semua yang mendengar tertawa lepas.

Di balik kisah pedagang Pasar yang berpindah paksa. Ada kebahagian, gelak tawa yang diproduksi dari percakapan khas pedagang pasar. Sebuah wujud kebahagiaan yang tak dapat disebut sederhana, di tengah kebebalan terhadap peraturan-peraturan dan undang-undang yang terus diproduksi serta diperbaharui, namun semakin hari semakin bikin kepala pening.

IMG_3244
Mampir minum teh di Bu Lemu.
Advertisements

2 thoughts on “Kost, Tahu Malaikat dan Pasar Merjosari

  1. setelah tau penjelasan tahu malaikat, jadi ngakak sendiri. filosofis banget, padahal pinter nyari alasan. wkwkkw pis

    ehh jangan bangga dulu kao cuma anak arsitek yang kalo manggil pakek sebutan ciri fisik, lha aku bukan anak arsitek temen-temen kalo manggil itu “cungkring” yaaa you know why-lah?

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s