(…)

Mari kita bersama bermain tebak-tebakan
Sebuah pertanyaan yang ingin aku utarakan
Di mana letak kemakmuran Masjid Bayan?

Terlampau jauh 80 kilometer dari pusat kota
300 tahun sudah berdiri tegapnya
Tetap kokoh tak terlihat sedikitpun cacat-cela dalam arsitekturnya

(…)

Nukilan sajak di atas (pernah) saya tulis dalam puisi Kemakmuran Masjid Bayan, sebagai sebuah perenungan ketika diskusi bersama kawan-kawan arsitektur di kampus. Masjid Bayan ialah salah satu masjid yang ada di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dari sisi material bisa dikatakan masjid Bayan kurang menarik, tak tunjukkan gemerlap rancangan yang biasa muncul dan punyai kecenderungan dalam desain masjid di Indonesia. Masjid Bayan dengan kesederhanaannya, setidaknya mampu dan perlu dibaca sebagai sebuah produk budaya. Tak boleh dipandang sebelah mata bagi perkembangan arsitektur masjid. Dengan tetap berdiri tegap 300 tahun, ia punyai capaian eksistensi sendiri dalam ruang waktunya.

Pudji Prastitis Wismantara –yang menempuh jenjang pendidikan arsitektur di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya hingga magister, sebagai penulis buku Eksistensi dan Rekontekstualisasi Arsitektur Nusantara, coba mengkaji bagaimana jalur perancangan masjid, khususnya di Nusantara yang cenderung stagnan dan mengacu pada gaya arsitektur arabosestrime (hal. iii). Ia coba dedah keresahannya mengenai masjid ke dalam kumpulan tulisan yang tersusun dalam bukunya, sebagai tujuan memaknai kembali konsep arsitektur masjid Nusantara yang sesuai dengan nilai kesetempatan Bumi Pertiwi.

Membaca ruang waktu nusantara sebagai ruang budaya, menurut saya butuhkan waktu panjang dan luas, terutama mengenai arsitektur masjid. Tiap masjid punyai nilai kesetempatan atau lokalitas masing-masing dalam gubah bentuk arsitekturnya. Pada ruang waktu yang beda tersebut, material lokal (sekitar) turut andil dalam membentuk berdirinya masjid. Pengetahuan dan ragam kemampuan yang dimiliki masyarakat sekitar (seringkali) terwujud dalam pilihan material arsitektur masjidnya.

Dengan latar belakang pendidikan arsitektur, Pudji Prastitis Wismantara –yang sekarang sedang menempuh studi doktoral ini, sejak awal memang berkonsentrasi dalam kajian filsafat ilmu dan arsitektur Nusantara sebagai bagian dari kegiatan kajiannya dalam Nusantara Studies. Dan buku Eksistensi dan Rekontekstualisasi Arsitektur Nusantara, ia sebut sebagai pengantar yang akan coba mengawali kajiannya yang (semoga) segera akan dibukukan.

Rekontekstualisasi sebagai upaya hadirkan arsitektur yang baru, berpijak kepada nilai-nilai Nusantara sebagai sumber inspirasinya (hal. 53). Menunjukkan karakter khas, bagaimana masjid tidak selalu tampil dengan kubah, seperti yang banyak digubah di berbagai belahan negara. Simbolisasi kubah seringkali turun-tanggalkan pengetahuan dan identitas lokal yang mampu dikelola, dalam wujudkan nilai keberlanjutan yang baik pada tiap lingkungan sekitar (masjid).

Karakter lokal dapat dicapai dengan pertahankan tradisi arsitektur khas, serta mengambil unsur-unsur tradisi arsitektur antar-nusa dan antar-bangsa yang lebih baik, guna perkaya “kombinasi” arsitektural. Pemanfaatan bahan bangunan yang tersedia di lokasi sekitar rumah adalah upaya inti dari penggunaan potensi lokal, pada tiap kota lingkungannya (hal. 62).

Masjid Ampel Surabaya misalnya, coba didedah secara fisik, sejarah hingga konsep ruang waktu yang membentuknya. Di mana banyak perubahan yang terjadi, mengikuti kebutuhan ruang masjid yang juga –di dalamnya– terdapat Makam Sunan Ampel. Perkembangan proses pembangunan serba materialistik tersebut belum sepenuhnya dapat disebut sebagai kontekstualkan ulang makna Nusantara dalam masjid, walaupun dengan langkah kecilnya mengupaya dari sisi aspek fisik.

Langkah penulis dalam uraian tiap judul coba runutkan proses bagaimana eksistensi yang mampu didedah kemudian coba direkontekstualkan sebagai arsitektur Nusantara. Dimulai dari lepaskan gen arsitektur masjid Nusantara, kemudian didalami secara fisik, sejarah hingga transformasi yang terjadi selama proses berlangsung-berdirinya bangunan masjid.

Proses serta metode yang digunakan dalam kajian tiap judulnya, adalah dengan pengumpulan data. Dimulai dengan premis sederhana, yakni bagaimana nilai kenusantaraan tiap masjid. Dengan perihal ini, setiap Masjid menjadi kajian khusus yang mampu didedah berdasarkan apa yang mampu dibaca dalam tiap ruang waktu yang membentuk arsitekturnya.

Sayangnya, sebagai buku arsitektur, tampilan layout dan sampul tidak ingin tunjuk dan tampilkan dirinya sebagai buku arsitektur. Buku yang seyogyanya mampu dinikmati secara visual, dengan tata letak, tipografi serta foto yang mampu bahasakan secara apik, dalam rangka tarik banyak pihak guna membawanya masuk ke dalam narasi-narasi pembahasan buku.

Di luar kekurangan fisik buku tersebut. Saya kira, bicarakan seluk-beluk arsitektur masjid tidak lantas berhenti pada wujud fisik semata. Namun, ragam nilai dapat menjadi kajian, berdasarkan apa yang materi dan immateri, meliputi ruang sosial dan budaya yang membentuknya, itulah yang coba dikaji –meski belum detail, dalam buku Eksistensi dan Rekontekstualisasi Arsitektur Masjid Nusantara. Pertanyaan yang tak kalah penting selanjutnya yang mungkin dapat menjadi kajian lanjut adalah: bagaimana nilai universalitas dan lokalitas masjid Nusantara? Di mana nilai kemakmuran masjid? Merupakan bagian pertanyaan kritis yang dapat diungkapkan lebih lanjut dalam rangka melanjutkan kajian buku dalam proses menggali kekayaan arsitektur, khususnya arsitektur (masjid) Nusantara.

Terakhir simpulan-jawab atas pertanyaan yang menjadi judul di atas sebagai penutup. Dalam buku Materialisme dalam Arsitektur Nusantara, Galih Widjil Pangarsa pernah ungkapkan bahwa eksistensi dan rekontekstualisasi menjadi wujud-upaya melestarikan kenusantaraan arsitektur lebih dalam, hingga kemudian dapat tumbuh kembangkan dengan wujud baru sesuai konteks zamannya, ialah satu upaya beri harapan baru dengan mampu melihat kembali kemakmurannya dari nilai kemanusiaan dalam (wujud) arsitekturnya.

Judul: Eksistensi dan Rekontekstualisasi Arsitektur Masjid Nusantara, Penulis: Pudji Prastitis Wismantara, Penerbit: UIN-Maliki Press, Tahun: 2014, Tebal: viii+180 halaman, ISBN: 978-602-1190-30-2

Advertisements

3 thoughts on “Di Mana Letak Kemakmuran Arsitektur Masjid Nusantara?

  1. Pingback: anasirsosia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s