“Pak, pesan nasi goreng tiga, satu makan sini, dua dibungkus. Yang makan sini putih (tanpa saos), pedas, nggak pakai mecin, tambah telur ceplok setengah matang. Yang bungkus: satu pakai telor, satunya nggak. Yang pakai telor, agak pedes, pakai saos, telor dadarnya dua. Yang nggak pakai telor, pedas banget, nggak pakai saos.”

“Oke.” Jawab singkat Pak Bos, nama pedagang nasi goreng langganan di perempatan Pujasera Merjosari.

Saya menunggu, duduk di kursi biru. Sembari melihat lalu lintas kendaraan khas malam hari yang cepat dan terburu-buru. Jalan tak pernah lengang walaupun waktu liburan sudah menjelang. Masih banyak yang tidak memilih mudik ke kampung halaman. Barangkali, mereka menganggap Malang sebagai kampung halaman karena sudah hidup di sini tahunan. Saya pun demikian.

“Tang, teng, tang, teng.” Bunyi wajan dan sutil besinggungan. Botol saos, kecap dan sambal digoyang-goyang di atas wajan, beberapa sendok aneka bumbu dimasukkan, entah bumbu yang ada dalam racikan apa saja, saya tidak pernah bertanya. Permintaan yang ragam membuat Pak Bos ingin memastikan dan bertanya sekali lagi, “Putih yang tadi pedas atau tidak?” “Pedas Pak Bos!”, Jawab saya.

“Bagaimana jika selama ini kalau arsitek dituntut banyak permintaan oleh klien?” Selintas pertanyaan terbersit dalam benak saya. Misalnya dengan banyak hal, rumah ingin seperti dalam majalah, gaya minimalis, tanah kecil muat kamar kost banyak, dan nyamuk jangan sampai masuk. Arsitek seolah tak punya kuasa, hanya mampu mengangguk saja, seperti tukang nasi goreng yang manut dengan permintaan pembeli, karena cara kerja tukang nasi goreng memang demikian: menuruti setiap kemauan pembeli (klien). Tapi, apakah praktik kerja arsitektur dalam membuat sebuah karya rancang bangun sama seperti tukang nasi goreng?

Dalam khazanah masakan nasional Indonesia. Nasi goreng dapat ditemukan di warung tepi jalan, gerobak keliling, hingga restoran dan meja prasmanan dalam pernikahan. Sejarah nasi goreng menurut catatan Wikipedia sudah dimulai sejak 4000 SM. Kebudayaan Tionghoa yang tidak suka mencicipi masakan dingin, juga membuang sisa makanan beberapa hari sebelumnya, membuat nasi yang dingin kemudian (inisiatif) digoreng kembali dan dihidangkan di meja makan, sebagai nasi goreng. Nasi goreng lalu disebarkan oleh perantau-perantau Tionghoa yang kemudian berkreasi dengan bumbu lokal dalam menyajikan nasi goreng.

Jika coba disederhanakan, nasi goreng muncul dari memaknai kembali apa yang sudah ada dan tersedia yaitu nasi putih, dengan beragam tahapan dan proses, akhirnya nasi goreng mampu menjadi makanan yang dapat dinikmati. Jika coba keluar dari sejarah, mengadanya nasi goreng yang dijual sepanjang jalan terutama dekat kampus di kota Malang, ialah usaha menyajikan makanan alternatif bagi sebagai besar mahasiswa yang tak sempat memasak dan menderita lapar yang mendesak. Dengan adanya alternatif semacam nasi goreng, semua lapar pada malam hari, dapat teratasi dengan kuliner cepat saji.

(Proses) berarsitektur barangkali juga dapat dianalogikan semacam kuliner. Rendang misalnya, pembuatan rendang dengan proses yang tidak sebentar, perlukan waktu dan kesabaran, karena punyai tujuan tertentu ketika kebutuhan rendang agar tidak cepat basi dan dapat bertahan selama 6 bulan.

Rendang (randang), masakan daging cita rasa pedas, gunakan campuran ragam bumbu dan rempah-rempah. Rendang identik dengan warna hitam dan tidak memiliki kuah. Dengan cara olah-masak yang dipanaskan berulang (sekitar empat jam) dengan santan kelapa, hingga dapat bertahan berminggu-minggu.

Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan, Sejarawan Universitas Andalas ungkapkan dalam Kamus Sejarah Minangkabau (2003), rendang telah menjadi masakan yang tersebar luas, sejak orang Minang merantau dan berlayar ke Malaka dalam rangka berdagang pada awal abad 16. “Karena perjalanan melewati sungai dan memakan waktu lama, rendang mungkin menjadi pilihan tepat saat itu sebagai bekal.”

Kehidupan orang Minangkabau sebagai orang pengembara, dengan perjalanan melewati sungai dan tempuh waktu lama, jadikan rendang pilihan tepat sebagai bekal, sebagai makanan yang awet guna menempuh perjalanan. Proses memasak yang butuhkan proses, barangkali juga penggunaan bumbu khas yang dihaluskan, seperti cabai, serai, lengkuas, kunyit, jahe, bawang putih, bawang merah dan lainnya, jadikan jawab atas pembacaan potensi kekayaan yang mampu dikelola dalam “proses” memasak.

Begitu pula arsitektur. “Desain arsitektur adalah proses, artinya suatu karya arsitektur adalah sebuah proses, yang sinambung-lanjut; sinambung adalah secara ruang atau geografi; lanjut adalah secara waktu atau antar-generasi.” Sebut Galih Widjil Pangarsa dalam video bertajuk Kemana Arah-Tujuan Proses Arsitektur?

(Arsitektur) bisa saja dikatakan evolusi dalam istilah Bjarke Ingels. Sebagai proses atas jawaban dalam kelola lingkungan yang berkesesuaian dengan alam dan pola pandang tiap lokalitasnya. Dalam tiap kategori tapak dan bentang alam berbeda, misalnya keadaan rakyat Minang dan Jawa berbeda, jadikan kunci: bahwa tiap lokalitas punyai kedekatan dalam arsitekturnya, seyogyanya terus berproses dalam tanggapi fenomena yang berlangsung tiap waktunya.

Lima belas menit menunggu. “Satset, satset.” Kecepatan tangan berbanding lurus dengan sebutkan harga total. “Sudah Mas, semuanya 24 ribu.” Uang sudah saya siapkan dan langsung bayar. Sudah lebih dari 3 tahun kira-kira saya hidup dan berlangganan nasi goreng tiap malam di kota Malang. Barangkali (mungkin) kehidupan praktik kerja arsitektur selama ini sama seperti saya: masih lebih suka nikmati yang instan. Klien memesan sesuai permintaan, menunggu sebentar, kemudian membayar sesuai “harga yang harus dibayar.”

Namun, semoga duga-sangka saya ini salah.

Advertisements

3 thoughts on “Arsitek Nasi Goreng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s