Malam, setelah hujan mengguyur kota Malang seharian reda, pemutaran film di Taman Merjosari siap digelar, rumput yang basah, udara dingin, tak membuat batalnya perhelatan Festival Film Malang, melakukan road show film karya anak muda Malang.

Sebagai penggemar film dokumenter dan pendek. Akhir-akhir ini Viddsee Film Pendek membuat rongga semakin haus dan keranjingan menonton, membaca Cinema Poetica seakan ingin mengulang tontonan film-film indie berkualitas yang pernah ditampil-pentaskan dalam festival film dunia, tak terkecuali film-film karya anak bangsa.

Menunggu kadang menyebalkan. Layar biru masih menghiasi screen sebagai layar yang akan diputar. Beberapa pasangan sudah mulai berdatangan dan siaga mencari tempat strategis untuk menonton, saya lupa kalau ini malam minggu, pantas saja banyak muda-mudi yang meramaikan pemutaran film malam ini.

Master of ceremony berlari ke tengah lapangan diikuti sorot lampu kuning, Mas Gentong dan Mbak Novi namanya. Mas Gentong, senada namanya, berbadan lebih gemuk dari Saykoji -artis musik rap Indonesia- megenakan topi biru, anting, dan kacamata bulat. Sedangkan Mbak Novi -seorang programer film- tampil dengan rambut pirang, baju biru gelap, sepatu putih yang seragam dengan tenda operator pengatur suara. Mbak Novi memberi informasi bahwa Festival Film Malang juga menggelar perlombaan film pendek berdurasi lima belas detik, dengan tema: Malang hari ini, pun tak ketinggalan perlombaan film berdurasi dua puluh menit dengan tema bebas, tak ditentukan.

Layar Kacau

Tak perlu berlama-lama lagi, film pertama diputar. Lagu Rayuan Pulau Kelapa -karya Ismail Marzuki- menjadi latar belakang pembuka film, menunjukkan kekayaan tanah air Indonesia. Layar Kacau menceritakan sebuah keluarga sederhana dengan ragam aktivitas keseharian keluarga pada umumnya di Indonesia.

Sang Ayah, memelihara burung sebagai aktivitas pagi, ialah memberi makan dan merawat burung-burung dalam sangkar di depan rumahnya. Anak laki-laki, setiap libur sekolah memilih bermain, serta tak lupa mencari makanan burung, sebagai kabar gembira untuk ayahnya. Kakak perempuan, rajin dan pintar, menunjukkan nilai rapor sekolahnya kepada orang tuanya dengan bangga, sebagai bukti pendidikan yang sudah diraihnya. Seperti biasa, Ibu, sedang sibuk mencuci pakaian keluarga.

Sebuah kejutan terjadi, Ibu menemukan kupon undian di dalam kemasan sabun cuci, setelah dibaca, kupon undian memuat hadiah televisi 31 inci. Mereka gembira, mengabarkan kepada penyelenggara serta menunggu kedatangan dengan tidak sabar, walau pengirim kesulitan mencari rumah, akhirnya berhasil ditemukan dan televisi diberikan.

Hari-hari berjalan, televisi baru membuat beberapa perubahan dalam keluarga, anak laki-laki lebih suka menonton kartun dari pada bermain ke sawah. Kakak perempuan gemar mendengarkan lagu-lagu dewasa. Ibu keranjingan sinetron, hingga menangis. Ayahnya sibuk dengan mengikuti kuis tengah malam ditemani pembawa acara yang jelita. Di hari selanjutnya masih dengan aktivitas yang sama, sesekali, konflik tidak dapat dihindari, muncul ragam permasalahan sejak hadirnya televisi di tengah kehidupan keluarga mereka.

Perubahan kegiatan pada akhirnya menunjukkan realita hari ini, fakta pada keluarga Indonesia, televisi menjadi alternatif hiburan pada tiap rumah. Keluarga dikontrol oleh tayangan-tayangan lebih bersifat hiburan, sehingga tidak ada proses edukasi yang bisa diberikan. Masyarakat abad ini dikontrol oleh lembaga yang berwenang penuh dalam substansi terhadap penayangan televisi, tanpa mengetahui adanya kebutuhan berbeda setiap lapis masyarakat dalam kehidupan dan kemakmuran negeri ini.

Jonni Boni Puff

Film kedua, animasi menggambarkan kucing berebut kekuasaan atas pohon, dengan pertaruhkan dan keluarkan seluruh kekuatan super yang dipunyai, dua kucing pertama berwarna biru dan oranye, berkelahi dengan kekuatan yang berbeda, melawan dengan kekuatan melukai kepala, kaki dan tangan, namun tak kunjung kalah dan menyerah, hingga masing-masing merasa perlu untuk segera mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Dengan mengeluarkan kekuatan satelit luar angkasa, kucing oranye berhasil mengalahkannya.

Lalu kemudian, setelah kucing oranye sudah menang dan menguasai pohon tersebut, datang seekor kucing lagi dengan mengeluarkan kekuatan meteor dari luar angkasa untuk menjatuhkan lawannya, akhirnya kucing terakhir berhasil menguasai pohon, dengan keberhasilnnya itu, dia berhak untuk mengencingi pohon sebagai tanda wilayah kekuasaan dan kepemimpinannya.

Saya punyai tafsiran pribadi atas film ini: hari ini kepemilikan penguasaan terhadap wilayah tertentu masih terasa dan sangat banyak, munculnya beragam gerakan perlawanan juga sebagai bagian dari melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan tersebut, dalam hal ini, kekuatan yang besar kerap mampu mendorong untuk melakukan kuasa secara penuh dengan menindas yang lemah, dengan segala kekuatan yang dimiliki: distribusi kuasa. Namun pertanyaan yang dapat diajukan: apakah keberpihakannya selama ini sudah tepat? Jika yang lemah tertindas.

One Incredible Blue

Sebuah film yang dipersembahkan untuk Aremania, merupakan film ketiga dari rangkaian seri Festival Film Malang ini, Kibaran Satu Jiwa, menggambarkan loyalitas, fanatisme, keranjingan suporter Aremania, dengan klub kesayangannya Arema Malang yang berdiri 11 Agustus 1987. Beberapa kali Aremania memang mendapatkan penghargaan sebagai supporter terbaik di tahun 2000 dan 2006. Fakta ini menunjukkan tingginya rasa solidaritas kawan-kawan Arema dalam mendukung persepakbolaan lokal dalam negeri.

Puncak apresiasi tertinggi Aremania untuk Arema adalah dengan dibuatnya bendera dukungan ketika Arema bermain, dengan nama One Incredible Blue, bendera dengan lebar 15 ribu meter persegi ini dibuat dalam waktu enam bulan, bukan waktu yang sedikit, kerja keras yang dilakukan dalam hal ini cukup banyak: mulai dari mempersiapkan bendera yang lebar, berganti-ganti tempat merangkai kain, dana yang dikeluarkan tidak sedikit, tiga ratus relawan dibutuhkan dari berbagai latar belakang, dana dari berbagai bantuan dengan cukup besar. Namun pengeluaran biaya bendera menurut saya tidak sebanding dengan harga persaudaraan dan persatuan Aremania.

Bendera pertama kali dikibarkan dalam pertandingan liga tahun 2014, setelah gol pertama yang dicetak, bersorak menyanyikan lagu Salam Satu Jiwa tanpa iringan musik, lalu kemudian bendera diturunkan, terhampar menutupi sebagian besar suporter di tribun ekonomi. Tingginya kecintaan mereka terhadap sepakbola, dalam hal ini Aremania, membuat gambaran masih besarnya optimisme yang tumbuh untuk kemajuan persepakbolaan dalam negeri. Semoga ini masih berlanjut dengan ditumbuh-kembangkannya toleransi antar suporter.

Nang Kene Aku Ngenteni Kowe

Nang Kene Aku Ngenteni Kowe (Di Sini Aku Menunggu Kamu), film karya anak Jogjakarta berbahasa Jawa. Mengangkat kisah seorang Anjar, laki-laki, bekerja sebagai pengantar barang, dengan mengemudikan mobil pickup sebagai alat bekerja. Dia nampak bahagia dan sering melakukan kebut-kebutan kalau bertemu dengan pengemudi lainnya.

Hari itu Anjar diminta oleh bosnya untuk mengantarkan kambing ke pesantren di kota, dia dengan senang hati menerimanya. Tapi ia tak lupa mampir dahulu ke rumah Intan, karena dia sudah berjanji untuk mengantarkan Intan ke stasiun, guna merantau ke Jakarta.

Tak lama, Anjar datang pickup kesayangannya datang, Intan memberikan tiketnya ke Anjar, melihatkan bahwa keberangkatan kereta satu jam lagi. Setelah pamit kepada orang tua, Bondan, adik Intan lupa kalau dia masih tidur di kamar. Perjalanan menuju stasiun pun segera dilakukan. Karena takut terlambat, sepanjang perjalanan Anjar dan Intan berbincang perihal alasan merantau ke Jakarta tidak lain untuk mendapatkan pekerjaan. “Mengapa tidak bekerja di kampung dan menjadi istriku saja.” Kata Anjar dengan genit.

Anjar melanjutkan: “Biaya hidup di Jakarta juga tak sedikit, masih lebih baik tinggal di desa, walaupun uang dan gaji yang diperolehnya dari bekerja mengantarkan barang tidak banyak, yang penting berkecukupan.” Di tengah perjalanan, Anjar bertemu temannya yang juga membawa mobil pickup yang memuat tiga orang Ibu-Ibu dan juga sayuran, mereka sepanjang perjalanan saling kebut-kebutan, hingga salah satu dari Ibu-Ibu muntah mengenai kaca depan mobil Anjar ketika mobilnya didahului, lalu mereka berhenti guna membersihkan kaca. Perjalanan kembali terhambat.

Anjar kemudian mendapatkan telepon dari Bos nya ketika perjalanan kembali dilanjutkan, pada saat itu, waktu keberangkatan kereta tersisa setengah jam, Anjar pun meminta izin kepada Intan untuk segera mengantarkan kambing pesanan tersebut.

“Intan, aku arep ngeterke wedus nang pelanggan dhisik yo?” Tanya Anjar.
“Hmm… Wes tak badhek!” Jawab Intan dengan ketus.

Setelah sampai di tempat tujuan mengantarkan kambing, Bondan merasa lapar, dia ingin makan dahulu sebelum berangkat ke Stasiun, jadilah mereka makan di warung sate sebelum melanjutkan perjalanan. Ketika perjalanan dilanjutkan, mereka terjebak kemacetan dan mengumpat kemacetan yang terjadi di Jogjakarta, walau masih biasa dan belum separah Jakarta sudah membuat tidak nyaman.

“Iki sek nang Jogja, durung ngadepi kemacetan nang Jakarta,” ucap Anjar.

Akhirnya, sampai di Stasiun, beberapa menit lagi kereta berangkat. Setelah pamit, mereka berlari menuju gerbang, karena takut ketinggalan kereta. Anjar melepas keberangkatan mereka dengan do’a: hati-hati di Jalan. Anjar melepas kepergian dengan ekspresi sedih. Dia merintih rela menunggu Intan ketika kembali ke Jogjakarta karena dia sudah terlanjur punya perasaan ke Intan. Intanpun semakin jauh dari pandangan Anjar menuju stasiun. Anjar memutuskan pulang.

Sebelum Anjar kembali pulang, Anjar merogoh kantongnya, melihat sejumlah gulungan uang yang sudah pas-pasan untuk hari-hari berikutnya. Ternyata, di dalam gulungan, ada tiket kereta Intan yang masih dia pegang. Ketika Anjar melihat jendela mobilnya, tampak Intan dan Bondan yang dengan wajah kusam kesal memandang Anjar, karena keterlambatan dan tanpa memegang tiket, akhirnya mereka gagal merantau ke Jakarta.

Film bermuansa komedi yang dibalut dengan lokalitas Jogja. Sentilan-sentilan terhadap permasalahan Kota, terkesan mengalir, walau hanya sederhana menceritakan perjalanan: gagalnya Intan merantau ke Jakarta.

Jakarta kerap menjadi tujuan kesuksesan seseorang dalam mencari pekerjaan dan penghidupan yang layak. Semua hal dikorbankan, baik keluarga atau apapun yang dipunyainya di kampung. Walau dengan menguras seluruh harta benda yang ada. Namun pada akhirnya, Intan gagal dan tak jadi pergi karena terlambat dan tiket masih dibawa Anjar. Kampung sejatinya masih layak untuk ditinggali, dan banyak pekerjaan yang dapat dilakukan. Meninggalkan kampung belum tentu lebih baik. Cerita-cerita yang ada dan kerap hadir di kampung, terkadang tidak mampu terulang di kota.

Jumprit Singit

Jumprit Singit dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Petak Umpet, permainan tradisional anak-anak Indonesia dengan sistem permaianan satu orang menjaga di pos, yang lain sembunyi.

Hadirnya rental playstation seharga 1000 perak per lima belas menit, membuat kemudian anak-anak kampung yang mulanya setiap hari bermain di lapangan, mulai bergeser dan memainkan playstation bersama teman-temannya dan tidak pergi ke lapangan lagi, sehingga permainan jumprit singit pun ditinggalkan. Walau ada satu anak mencoba mengajak dan memaksa untuk mengajak teman-temannya bermain jumprit singit, mereka sudah tidak tertarik.

Kemudian di kampungnya, ada seorang pencuri pakaian yang ketahuan, lalu bersembunyi dan bertemu dengan anak tadi. Anak kecil tadi melihat bapak merupakan seorang pencuri tampak gugub dan ketakutan, clingak-clinguk melihat keadaan dengan rasa khawatir.

“Sedang apa Pak?”. Tanya anak kecil ke pencuri. “Ini sedang main Jumprit Singit.” Jawabnya. “Owalah! Tapi main Jumprit Singit bawa bungkusan?” Anak kecil bertanya ketika melihat bungkusan pakaian curian yang dibawa. Ia sadar dan tahu kalau dia pencuri.

Dengan hal itu, anak kecil terinspirasi dan berinisiatif untuk bisa bermain jumprit singit dengan mencuri playstation teman-temannya di rental. Kemudian, berangkatlah dia ketika teman-temannya sedang tidak di dalam. Anak kecil itu mencurinya. Lalu ia ketahuan dan kepergok teman-temannya. Lari dan berpapasanlah mereka: anak kecil dan pencuri, dalam keadaan sama dikejar-kejar karena mencuri. Si pencuri kaget melihat anak kecil sama-sama dikejar, ketika ditanya “sedang apa kau nak, berlarian seperti aku ini?”, “sedang bermain jumprit singit!” jawab anak itu dengan polosnya.

Salah satu karya Mahesa Desaga ini, menawarkan sudut pandang yang asik. Bagaimana gambarkan kondisi masa anak-anak kehilangan permainan tradisional tergantikan oleh playstation. Lalu anak terinspirasi oleh orang dewasa yang mencuri, bersembunyi dan menghindari kejaran warga. Hingga muncul ide dengan dalih memainkan permainan jumprit singit. Sudut pandang cerita yang cerdas coba dilakukan dalam mengemas berbagai isu dan permasalahan yang ada di kampung. Film ke-lima, yang sekaligus mengakhiri pemutaran film di festival ini.

Lima film usai diputar, layar kembali gelap. Orang-orang mulai meninggalkan dan senyum menghiasi selesainya film kelima yang memang bernada humoris. Sejauh ini, ketika lima film telah usai diputar, kepustakaan film-film karya sinematografi Indonesia menunjukkan potensi yang bisa dikelola dalam meningkatkan dan menjaga pertumbuhan industri film Indonesia, meskipun masih banyak yang perlu diperbaiki dalam kualitas film dan regulasi, bukan berarti menjadi sebuah hambatan.

Dengan militansinya, komunitas-komunitas maupun aktivis film selama ini menunjukkan produktivitas yang progresif. Menelurkan karya film diprediksi ke depannya menjadi media populer dalam menyampaikan gagasan, isu, maupun problematika di sekitar.

Sebagai penikmat film pendek, pemutaran dan pengenalan semacam ini membuat saya kembali ingin hadir di pemutaran-pemutaran selanjutnya yang lebih intensif. Baik dalam pagelaran film, atau festival film dengan memutar suguhan yang asik yakni film-film yang jarang saya tonton.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s