Kisah di Teras Rumah

capture-5-1

Tiga orang berteduh. Dua orang berdiri ialah seorang pasangan, satu lelaki dan satu perempuan. Lelaki menikmati tiap hisapan kretek di tangan kanan. Sedangkan perempuan sibuk dengan gawainya. Sesekali mereka bercakap-cakap. Satu orang lainnya duduk. Coba lepaskan lelah perjalanan panjang yang tampak di keningnya. Tas di punggungnya sebesar guling orang dewasa menempel di punggungnya. Terlihat huruf Z di plat nomornya. Entah dia akan pergi kemana. Saya tak pernah bertanya. Hanya memperhatikan di seberang jalan raya.

Aku saat itu baru saja pulang sekolah. Sengaja berjalan kaki. Sebab hujan nampak mengundangku untuk tak menyia-nyiakannya. Bajuku basah. Ah, gapapa. Besok hari Jum’at. Sudah harus ganti seragam Pramuka. Hujan waktu itu memang sedang menunjukkan puncak derasnya. Bulan Desember sudah hampir habis. Musim belakangan ini memang sulit ditebak. Sudah masuk musim kemarau pun, kampungku masih tak henti dilanda hujan.

Tapi dengan begitu aku sangat bahagia. Karena, hujan mengundang orang untuk berteduh. Membuat teras rumahku tak pernah sepi. Kedatangan orang-orang yang menunggu hujan reda. Menepi karena dua alasan: satu, mereka berhenti melepas lelah; dua, mereka tak membawa atau bahkan tak punya jas hujan. Jas hujan di akhir tahun seperti ini amatlah penting. Kedatangan hujan yang tak diundang dan kadang bisa seharian. Membuat orang-orang yang menempuh perjalanan harus siap sedia. Mempersiapkan segala kemungkinan. Termasuk melihat prediksi cuaca.

Bergegas kulangkahkan kaki ini secepatnya menuju rumah. Jika hujan dan banyak orang di teras depan. Aku pulang melalui pintu belakang. Setelah lepaskan sepatu. Aku menimba air. Mengguyur seluruh tubuhku. Air sumur terasa hangat karena tubuh mulai terlihat kerut di tangan selama hujan-hujanan. Lumpur yang menempel segera aku bersihkan. Perutku mulai lapar. Hujan seperti ini ialah waktu yang cocok untuk membuat mie kuah ditambah telur dadar. Ah, aku menjadi lapar begitu membayangkannya. Setelah berganti baju. Aku menyalahkan kompor. Menyiapkan air panas. Kuambil mie dari almari dapur. Dua bungkus sekaligus. Tak lupa telor. Sambil menunggu air mendidih. Aku berlari ke ruang tamu. Menengok jendela. Melihat orang-orang yang berteduh.

Bulir-bulir air menghiasi kaca sehingga pandangan tampak kabur. Biasanya aku gunakan kaca untuk membubuhkan gambar atau tulisan. Tanda cinta berbentuk hati aku sematkan. Sebelum hujan reda dan kaca kembali keadaan semula. Hujan nampaknya tak sedikitpun memberi tanda untuk reda. Angin semakin kencang saja. Membasahi jendela-jendela. Hingga masuk melalui ventilasi di atasnya.

Ukuran teras rumahku tak luas. Sekitar dua kali meja pimpong yang dijajar. Setiap hujan. Selalu banyak yang berteduh. Mereka menunggu, berteduh menikmati suara gemericik air yang menghantam atap seng. Terdengar menggemuruh. Seperti petasan ketika perayaan tiba tahun baru. Aku bahkan tak pernah membawa payung ke sekolah. Ketika hujan. Aku harus memilih: berteduh sebentar atau menunggu hujan reda. Biasanya karena jarak rumahku dekat. Aku dijemput oleh ayah. Ia berjalan kaki membawa payung dominan merah putih: hadiah dari Ajinomoto. Jika besok sudah waktunya ganti seragam. Aku langsung saja menerobos hujan. Berlarian. Lompat di atas air lumpur di tengah hujan. Dengan begini aku menikmati hujan sebagai rahmat. Mesti disyukuri. Jadi biarlah seragam basah.

Sore, hujan telah reda. Tugasku selanjutnya mengepel lantai teras yang basah. Genangan air bercampur pasir. Jejak sepatu orang berteduh. Aku bersihkan semua karena malam nanti ada hajatan malam Kamis: sebuah kegiatan rutin di kampungku. Minggu ini giliran diadakan di rumahku. Teras ini akan menjadi ruang yang baik bagi para mereka yang merokok. Aliran angin di luar. Membuat asap tak akan mengepul dan memenuhi ruang dalam. Atau ketika Minggu tiba. Aku dan teman-teman menghabiskan waktu bermain. Lewat pukul 09.00. Setelah menonton acara kartun pagi. Kadang juga aku menonton bersama di tetangga. Di teras semua permainan bisa kami mainkan. Waktu itu sedang musim Tamiya, gasing, atau lompat karet. Permainan yang menyenangkan. Tidak butuh terlalu banyak ruang. Cukup di teras depan.

Matahari bergeser ke ufuk timur. Tampak Ibu-ibu berkumpul. Salah dua menggendong anaknya. Beberapa membantu mencari kutu rambut Ibu yang lain. Sembari ngobrol ngalor-ngidul. Mulai jamu kuat, harga cabe, elpiji hingga iuran kematian yang terlampau mahal. Sore yang menyenangkan.

Untuk melanjutkan pendidikan. Aku harus pergi ke luar kota. 81 km dari rumah. Aku pamit. Meminta izin untuk belajar. Di teras aku memeluk mereka berdua: orang tuaku. Kini, setiap teringat peluknya. Aku membayangkan kisah di teras rumah. Namun, untuk sementara waktu pergi. Aku berjanji: setelah selesai nanti, aku akan segera kembali. Sudah lebih dari 8 bulan aku tak berkunjung ke rumah. Bersua dengan orang tua. Belajar arsitektur di luar kota terlalu melenakkkan. Apalagi semester ini. Tugas mendesain rumah membuatku kembali pada narasi kisah di teras rumah. Mata kuliah yang teramat asik untuk aku gambar dan eksekusi. Aku membayangkan terasku menjadi ruang publik yang nyaman, bagi orang-orang yang berteduh ketika hujan, bagi anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak semua orang yang akan berkegiatan.

Kupersiskan dengan angan-anganku. Perihal teras, ia aku buat agak luas. Mata pensil aku goreskan pensil dengan hati. Tiap garisnya aku pikirkan. Kini aku bisa leluasa mendesain teras impianku. Angan-angan tentang teras. Berkumpul dengan teman, melakukan setiap kegiatan di teras yang sudah lama aku tinggalkan. Mengingat kembali detil peristiwa di teras rumah. Ingin rasanya pulang ke rumah. Aku sengaja mendesain jendela lebar-lebar. Agar aku leluasa untuk menggambar ketika kaca dibuat berembun oleh hujan. Aku membuat lantainya naik sejengkal dari tanah. Apabila ketika hujan, aku tidak perlu lagi mengepel lantai setelah hujan reda. Tak lupa aku buat tempat duduk yang cukup menampung penumpang angkutan kota. Aku ingin membuat mereka nyaman berteduh. Menikmati gemercik sunyi air hujan.

Desain telah aku selesaikan. Ingin sekali aku membawanya pulang. Hari terasa cepat berganti senja. Gerimis berubah menjadi deras. Aku menyandang tas punggung. Aku memberi kabar orang tua di rumah. Kukirimkan pesan singkat: “Bu. Bagaimana kabar Ayah Ibu di rumah? Semoga selalu sehat. Minggu besok aku mulai liburan. Aku akan pulang.” Sebuah pesan yang terlampau jarang aku kirimkan.

Tulisan ini dimuat pertama kali di zine arsitektur “Dallar – Potongan Kecil Rasa dan Prosa Arsitektur” edisi Beranda, No. 03, April 2017.

Advertisements

One thought on “Kisah di Teras Rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s