Catatan dari Festival Rancang Malang

Kabar mengenai kampung tematik di Kota Malang saya temukan di Koran Radar Bromo. Dalam hal ini, kampung diharapkan mengusung identitas dirinya sebagai kampung yang punya ciri khas. Tidak ada pertanyaan yang mengusik benak saya waktu itu mengenai konsep men-‘tema’-kan kampung. Tapi saya meyakini: ini ialah hal baru dalam konsep tata kelola pembangunan kota Malang.

Energi Pemerintah Kota Malang tahun ini sedang membuncah. Sebuah kompetisi perancangan kawasan kampung diadakan dengan tajuk Festival Rancang Malang: Kampung Tematik sebagai respon dalam mengangkat potensi tiap kampung di kota Malang dengan fokus kerja partisipatif oleh masyarakat. Tim pendamping dapat diusulkan mandiri oleh masyarakat serta dibantu tim pengabdian masyarakat dari perguruan tinggi atau lembaga terkait, guna mendorong lahirnya perancangan kampung sesuai identitasnya.

Dari sinilah keterlibatan saya dimulai. Saya, Muhammad Zahrul Muttaqin, dan Agus Rohmatulloh sebagai wakil mahasiswa. Diminta oleh ibu Tarranita Kusumadewi, dosen mata kuliah pengantar perancangan kota, untuk membantu tiap proses komunikasi dan eksekusi dalam mendampingi perancangan kampung RT 07/RW 09 Sukoharjo, Malang. Saya tak sanggup menolak, sebab tugas mendampingi kampung akan disertakan sebagai nilai mata kuliah perancangan perkotaan, yang, hingga semester sembilan, belum mendapat kelulusan.

Keluaran hasil (output) sudah ditentukan oleh panitia lengkap dalam panduan dalam Term of References (TOR). Sebanyak 71 kampung dari 57 kelurahan di Kota malang tercatat mengikuti dan menjadi peserta Festival Rancang Malang: Kampung Tematik. Selain detail perancangan kawasan dan proposal, ditambah pula video pengantar, poster serta logo sebagai identitas kampung, semua sudah dijabarkan, setiap tim tinggal membaca, dan mengikuti panduan dalam Festival Rancang Malang. Satu bulan menjadi tenggat waktu yang harus dipenuhi untuk menjawab setiap permasalahan dan memperoleh potensi yang bakal diwujud-kelolakan sebagai perancangan kawasan kampung. Dengan tenggat waktu dan harus disusun selama satu bulan.

 “Terlalu singkat dan terburu-buru.” Terbersit dalam benak saya ketika membaca detail jadwal di TOR Festival Rancang Malang. Satu bulan –menurut hemat saya– bukanlah waktu yang cukup dalam merespon setiap fenomena yang akan ditemukan dalam merancang kampung. Namun saya tidak bisa menolak TOR yang sudah disepakati, dibuat dan disebar ke setiap peserta termasuk pemuka kampung RT 07/RW 09 Sukoharjo, Malang.

Kedatangan awal di kampung RT 07/RW 09 Sukoharjo adalah dengan mulai mecatat apa yang terbaca sebagai permasalahan, menjadikan saya teringat kembali kalimat Prof. Galih Widjil Pangarsa: “Kampung bukan sekedar kumpulan bangunan gedung dan tempat tinggal individu. Melainkan ruang budaya berkehidupan-bersama. Gotong royong adalah kearifan nusantara untuk membina keguyuban masyarakat. Dan modal utama-pertama meningkatkan kualitas kehidupan kampung.”

Kampung hari ini menjadi sebuah realita yang hadir dalam kehidupan kota. Kehidupan kampung menjadi fenomena yang baik jika direspon baik sebagai wacana arsitektur. Layak untuk dipelajari dan diberlakukan sebagai wadah dalam membangun pengetahuan bersama dari dalam, nantinya bisa diantarkan keluar. Karena di sisi lain kampung mampu dilihat sebagai wadah dalam membangun pengetahuan bersama.

Bakat potensi yang berbeda dalam tiap kampung sebagai sebuah potensi yang bisa dikembangkan, menjadi sebuah rajutan, menumbuh-kembangkan tiap yang ada dan tersedia di kota Malang. Mungkin itu tujuan awal yang terbaca oleh saya ketika muncul gagasan Festival Rancang Malang. Sehingga kampung tidak hanya dilihat sebagai suatu ruang unjuk diri bagi arsitek-arsitek di rumpun pertiwi.

Hei, musim panen padi tiba

Menyambut air-air kita dahaga

Yang tua-tua kian berseri

Yang muda-muda tak menyeri

 Di kampung halaman

Kita sepakat bersalaman.

(WS. Rendra, dalam sajak Kampung Halaman | 28 Juni 2013)

Lebih dari 30 tahun yang lalu karya puisi WS Rendra banyak menggambarkan tentang desa. Kampung baginya sebagai tempat belajar. Ketika penduduk dunia, termasuk Indonesia, diprediksi menghuni perkotaan. Di Jawa dan Sumatera sudah berlangsung gejala kuat mega-urbanisasi dan urbanisasi perdesaan. Peningkatan jumlah penduduk perkotaan pun sudah melampaui penduduk perdesaan. Bagaimana masa depan kampung sebagai tulang punggung tempat huni masyarakat kota nantinya? Dari sini masa depan kampung seyogyanya mulai direnungkan.

***

Selama satu bulan kami menyiapkan data, mengenali tiap permasalahan dan cita-cita setiap warga dalam memimpikan kampungnya. Selama itu pula Tim tak berhenti mengikuti proses diskusi baik bersama warga dan dalam internal kami sebagai tim pendamping ketika sedang berkesibukan di kampus. Kami menyelesaikan dan melakukan tugas sesuai target yang ditentukan.

Eko Prawoto layaknya menjadi salah satu arsitek yang mengantongi beberapa prinsip-prinsip membangun yang baik. Keterlibatannya dalam pembangunan pasca gempa di Ngibikan memuat dasar prinsip: arsitek bagai seorang “bidan”, yang mampu membidani masyarakat dalam membangun kampungnya.

Membidani bisa dimaknai secara sederhana sebagai lahirnya gotong royong dan partisipasi. Sayang, keterlibatan saat mendampingi kampung RT 07/RW 09 Sukoharjo dalam Perancangan Kampung Tematik kemarin, masih sebatas mengolah “khayal” masyarakat menjadi sebuah imajinasi visual, berakhir pada rancangan gambar tiga dimensi. Ujung-ujungnya arsitek dan mahasiswa arsitektur bukan bertindak sebagai konsultan yang coba melihat spektrum lebih luas, hingga mengenali kedalaman permasalahan kampung yang paling fundamental. Demi tercapainya tujuan untuk menemu-kenali, membuka sudut pandang masyarakat kampung terhadap permasalahan, dalam hal ini arsitektur.

Tentunya, bicara arsitektur kota hari ini menjadi sesuatu yang tak selesai diperbincangkan. Karena dengan bertambahnya usia kota, bertambah kompleks pula permasalahan dan peradaban yang dicapai pada tiap ruang waktunya. Malang misalnya, dengan segala potensi, bakat serta ragam disiplin pengetahuan mahasiswa yang tiap tahun terus bertambah. Seyogyanya mahasiswa mampu berkontribusi langsung dan turut andil dalam menyelesaikan permasalahan sekitar (kampus) mereka. Dengan turut serta melebur dan menjadi bagian dari masyarakat, mengajak setiap orang memproduksi pengetahuan bersama, mengeluarkan gagasan atau sudut pandangnya. Pada akhirnya mampu mewujudkan ragam inisiatif, sudut pandang dan gagasan yang kaya.

Gagasan kawan-kawan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk coba selesaikan permasalahan kampung Jodipan misalnya. Jodipan selama ini banyak dipandang kumuh –-dengan kondisi lingkungan di bantaran sungai Brantas tak layak huni. Barangkali stempel kampung kumuh menjadi satu pandangan yang lain, jika benar-benar dilihat dari dekat. Itulah yang coba dilakukan mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM dalam kenali permasalahan masyarakat kampung Jodipan.

Mengenali permasalahan masyarakat kampung Jodipan bagi anak Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada akhirnya menjadi sebuah jalan tercapainya gagasan, yang barangkali juga bukan hal baru. Proyek serupa pernah digagas Y. B. Mangunwijaya di Kampung Kali Code, sebagai satu inisiatif dalam menggeser paradigma kekumuhan. Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM –yang awalnya hanya sebatas tugas kuliah– sepakat merespons permasalahan yang hadir di tengah masyarakat Jodipan sebagai partisipasi peran serta tanggung jawab dalam memperbaiki lingkungan sekitar.

“Kami anak komunikasi sejatinya menjalankan proyek ini sebagai tugas mata kuliah.” Ujar Salis Fitria, ujar salah satu panitia penggagas kampung warna-warni Jodipan, dalam forum diskusi Arsitektur dan Kota: Nothing is Fundamental, 30 September 2016. Ia melanjutkan. “Namun dengan akhir dan respons yang begitu besar. Kami tidak menyangka akan menjadi sesuatu yang ditengok banyak kalangan.”

Inisiatif dalam menata-kelola kampung yang digagas anak Komunikasi UMM bukan satu-satunya. Andrea Fitrianto, salah satu inisiator ASF-ID (Arsitek Swadaya dan Fasilitas) punya gagasan serupa. Sebagai organisasi non-profit dan partisipatif dengan komitmen pada keadilan sosial, budaya dan lingkungan melalui arsitektur konstruksi, dan urbanisme, punyai tujuan untuk memberi wawasan sosial kepada arsitek, sarjana arsitektur, maupun mahasiswa lewat wacana maupun aksi arsitektural.

Dengan ideologinya tersebut, ASF-ID ingin melanggar batas-batas yang selama ini sangat terkait dengan praktik kerja arsitektur yang semakin jauh dari keberpihakan kepada yang lemah (baca: masyarakat kecil). Proyek rumah semi-permanen yang dibangun di Kampung Tongkol, Ancol Utara. Merupakan rumah dengan struktur bambu, sebagai bentuk tempat tinggal layak, untuk menaungi 5 keluarga.

“Rumah yang dibangun ini ialah sebagai rumah percontohan pertama, sebagai awal untuk bisa dikembangkan di beberapa lokasi lainnya. Seperti yang sudah pernah dilakukan di daerah Kampung Cipatra, Soreang, Bandung.” Andrea Fitrianto coba jelaskan latar belakang gagasannya dalam forum diskusi Arsitektur dan Kota: Nothing is Fundamental, 30 September 2016. Dilanjutkan Haris El-mahdi, Akademisi Universitas Brawijaya. Coba ungkapkan harapan keberlanjutan nilai yang lestari untuk dijaga oleh warga kampungnya sendiri: “Respon ragam komunitas dalam membangun kampungnya ini menjadi inisiatif yang sangat baik jika terus didorong dan dibangun keberlanjutannya, sehingga proyek tidak akan berhenti ketika sudah ditinggalkan komunitas-komunitas penggagasnya.”

Keberlanjutan bisa dilihat dengan cara: Seberapa besar partisipasi masyarakat Jodipan dengan turut serta mengecat kampungnya? Begitu juga dengan ASF-ID, Seberapa intensif proses komunikasi dan pendampingan dalam pengerjaan setiap detail secara utuh? Dua pertanyaan yang bisa dijawab dalam rangka melihat efektifitas kerja partisipasi bersama masyarakat sepanjang proses pelaksanaan.

Pada akhirnya, memupuk banyak inisiatif seperti yang dilakukan oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM dan ASF-ID secara normatif mampu menjadi dorongan dan pengaruh yang mampu merubah dan memproduksi pengetahuan serta gagasan, sehingga perlu masuk ke ruang-ruang yang sampai saat ini masih jauh, bahkan belum banyak tersentuh oleh para komunitas termasuk arsitek. Untuk turut serta membidani lahirnya peradaban kampung kota yang lebih arif.


Ketika tulisan ini dibuat. Hasil rancangan telah selesai Tim kerjakan. Warga merespon baik dan positif tentunya. Dan kampung RT 07/RW 09 Sukoharjo berhasil mendapatkan peringkat 25 besar dalam Perancangan Kampung Tematik. Sehingga mempunyai kasempatan untuk memaparkan hasil perancangan. Namun, belum berhasil masuk ke peringkat lima besar yang mendapatkan penghargaan. Di peringkat tiga besar dana insentif akan diberikan oleh Pemerintah Kota Malang, sebagai awal untuk mewujudkan dan mengimplementasikan kampungnya sesuai identitas yang sudah dirancang.

Advertisements

One thought on “Catatan dari Festival Rancang Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s