Setelah Menonton Wiji Thukul

16423076_289710678111140_2287644564994679532_o
Penonton Istirahatlah Kata-Kata kota Malang ©Tim Film Istirahatlah Kata-Kata

Menantikan kehadiran Wiji Thukul di kota Malang melalui Istirahatlah Kata-Kata layaknya -walaupun belum bisa dibandingkan- seperti kerinduan Sipon, istri Wiji dalam film yang merindukan kembalinya suaminya, yang pada saat itu, ia kabur, menghindar karena menjadi salah satu aktivis yang bersembunyi dari tentara dan intelejen Orde Baru.

Setelah pemutaran di 13 kota. Malang yang tidak tercantum sebagai salah satu dari 13 kota tersebut, akhirnya mendapatkan kesempatan dari sayembara pemutaran film yang diselenggarakan oleh pihak tim Istirahatlah Kata-Kata.

Saya waktu itu sebenarnya ingin memutuskan untuk berangkat ke kota-kota sekitar Malang yang memutar, seperti Mojokerto dan Surabaya, hanya untuk melihat hasil karya Yosep Anggi Noen ini. 

Setelah rilis 19 Januari 2017. Seminggu setelahnya, saya ternyata tidak perlu jauh-jauh untuk melihat di kota lain. Malang menjadi kota terpilih karena antusias dan keinginan warga Malang untuk menonton cukup tinggi.

Sebelum memilih menonton, saya hanya bisa membaca review yang dibuat dan ditulis oleh penonton lain, tak sedikit menuai pro dan kontra. Terlebih pada saat mengapa pemutaran film dilakukan secara komersil di bioskop 21. Tidakkah ini mencederai semangat dan perjuangan Wiji Thukul, yang jelas-jelas menolak dan melawan kapitalisme yang membuat buruh -yang diperjuangkan haknya selama ini olehnya- menjadi bias dan katanya sia-sia.

Tentu ini bisa menjadi perdebatan yang panjang, jika tidak dibaca dengan bijak. Karena pada akhirnya jika coba bertanya kepada pegiat film atau kritikus film, bioskop 21 menjadi ruang distribusi film yang paling ampuh dalam menjangkau sebagian besar kota-kota di Indonesia.

Pembacaan saya, ini adalah siasat. Sebab, Wiji Thukul coba dikenalkan lebih luas kepada khalayak, dan di bioskop 21 lah tempat yang baik bagi distribusi film di Indonesia. Tidak semua orang akan dengan kesadaran yang tinggi membeli tiket sebuah film yang tak mereka kenali, yang selama ini banyak dikuasai oleh film religi maupun adopsi buku.

Kehadiran di bioskop 21 malam itu di Plasa Malang terbilang ramai, lebih dari 800an orang yang memesan tiket menurut panitia dan 5 studio dibuka secara khusus hanya untuk pemutaran di Kota Malang, dan kabar bahagianya hari selanjutnya juga masih ada kesempatan bagi kawan-kawan yang belum menonton.

Ini menjadi bukti bahwa penggemar film dan pemilihan ruang menonton di Bioskop 21 menjadi bukti, bahwa pangsa pasar dan penonton yang luas bisa dituai dengan baik. Karena seperti yang diketahui belum ada ruang yang mampu untuk menyaingi bioskop 21 dalam distribusi film negeri selama ini.

Pemutaran-pemutaran alternatif yang ada pun tidak banyak dimiliki di Indonesia kecuali kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta yang punyai Kine Forum -sebuah klub sinematografi- yang sudah punyai anggota dan penggemar dan tempat yang nyaman untuk menonton.

Pengalaman menonton saya selama ini bahkan dibentuk di pemutaran alternatif seperti Kine Klub UMM yang tiap tahunnya punyai event pemutaran film dari sineas muda Indonesia yang filmnya jarang tayang di bioskop. Tidak heran ketika Istirahatlah Kata-Kata diputar di Malang, saya mengajak kawan-kawan untuk berbondong-bondong menonton film dengan antusias.

Tidak ada heroisme memang yang menjadikan film Wiji Thukul ini layak disebut sebagai seorang pahlawan atau sosok yang berbahaya bagi pemerintahan Orde Baru. Bisa dibilang Istirahatlah Kata-Kata adalah film puisi atau puisi yang di filmkan. Dengan menghadirkan penggalan-penggalan beberapa puisinya yang banyak ditulisnya sepanjang perjalannya.

Terbatasnya dialog menjadi kunci kata-kata di istirahatkan atau sengaja tidak banyak adegan-adegan yang rumit dan sibuk dengan mempertotonkan percakapan. Penonton saya rasa akan menikmati tiap scene yang pengambilan gambarnya cakap, tiap adegan yang dilatarbelakangi puisi menjadi kesatuan yang saling melengkapi.

Saya tidak ingin banyak komentar tentang filmnya. Yang jelas pernyataan saya di awal bahwa menunggu Istirahatlah Kata-Kata di Malang memang belum mampu dibandingkan dengan kerinduan Sipon menunggu Wiji Thukul, sebab kehadiran Istirahatlah Kata-Kata di Malang dengan sabar bisa ditunggu dan waktu pemutaran akhirnya datang, sementara Wiji Thukul sampai hari ini masih berhutang segelas air putih kepada Sipon sejak ia menghilang.

Malang, 19 Februari 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s