Siang itu, tepatnya pukul dua belas, hari pertama menempuh perkuliahan di semester delapan, semester delapan normalnya menjadi semester terakhir, namun tidak untukku, karena perjalanan menempuh gelar sarjana masih –cukup- panjang.

Waktu masuk kelas, aku sengaja mengambil duduk paling depan, supaya bebas melihat hingga ujung belakang, tak khayal, pandangan baris belakang banyak terisi adik-adik tingkat, tiga tahun lebih muda di bawah ku.

Percakapan-percakan adik-adik nampak seru, kami tak pernah luput dan menjadi sorotan, aku sebut kami, karena aku tak sendirian, beberapa dari kami mahasiswa tingkat akhir mengulang mata kuliah yang sama.

Sehingga aku seolah kembali ke masa lalu, saat pertama kali mengambil mata kuliah ini di semester dua perkuliahan, aku duduk di posisi bangku belakang, di depan masih saja terlihat kakak tingkat yang mengulang, dan aku sekarang berada di posisi ini.

Dosen yang masuk dan mengajar kami semester ini baru tiga tahun mengajar, dosen perempuan, masih muda, energik, dengan ide-ide baru, metode belajar yang segar, sering menjadikan mata kuliah yang diampuhnya –lebih- berwarna.

Sandang gelar sebagai calon arsitek, tentu menjadikan banyak hal yang harus aku pelajari, melengkapi ragam pengetahuan lain, untuk membantu dalam menyampaikan gagasan-gagasan kritis arsitektur kepada khalayak dengan bijak.

Membangun sudut pandang cukup sulit bagiku, jika tidak dibarengi dengan kemampuan yang sudah dipersiapkan, belajar mencari celah di setiap bolongnya pengetahuan yang dimiliki.

Aku sebenarnya ingin menemukan ragam komunikasi arsitektur, terutama ketika ingin menyampaikan kepada masyarakat luas, dalam rangka mencari sebanyak-banyaknya alternatif, sebagai strategi komunikasi yang disampaikan.

Menurutku sudah -terlalu- banyak sebenarnya buku-buku tentang arsitektur di Indonesia, termasuk di seluruh belahan dunia, dalam upaya menunjukkan gagasan dan wacana kritis, karena media ini –mungkin- merupakan hal minimal yang bisa di lakukan saat ini.

Namun, aku tidak menunutup kemungkinan bahwa nantinya akan banyak ragam komunikasi arsitektur selain sketsa yang aku pelajari saat ini, –mungkin- akan bisa lebih baik jika gagasan-gagasan bisa juga tersampaikan lewat film, tarian, teater, bahkan komedi tunggal, sebagai alternatif media yang bisa dikelola.

Kekurangmampuan menyampaikan gagasan arsitektur dalam mendorong ranah budaya ke arah yang lebih arif bijaksana, menjadikan dorongan untuk segera menemukan beragam alternatif dan cara dalam menyampaikannya.

Walau sementara ini, aku masih bisa –dan sedang belajar- menyampaikan gagasan lewat sketsa, maket, maupun poster, meski terkadang ragu media ini akan terus maksimal, karena –kemungkinan- hanya aku dan teman-teman arsitektur yang bisa lebih paham.

Baiknya mata kuliah Dasar Presentasi Arsitektur (DPA) sebagai salah satu jalan, bagaimana maksimalkan komunikasi kepada khalayak, sebagai salah satu senjata yang mampu untuk menyajikan gagasan-gagasan arstitektur yang penting dan fundamental.

Akan tetapi tidak dapat dipungkiri, tujuan memperkaya, mempelajari daya potensi media dalam masa teknologi abad ini, sketsa menurutku juga bukan satu-satunya media sebagai cara menyampaikan gagasan dan komunikasi arsitektur.

Karena menurut pendapatku, hal paling penting adalah bagaimana mendayagunakan kemampuan diri secara maksimal, sebagai bagian menyampaikan wacana kritis untuk membangun sudut pandang yang berketataaturan, kepada khalayak yang lebih luas.

Tapi yang jauh lebih penting lagi, aku harus segera lulus mata kuliah ini.

Titik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s