Aku dan Lagu Rindu karya Rasvan Aoki

Keinginan untuk bertemu adalah sebuah gejala, di mana waktu telah lewat dan memisahkan dua insan yang tak ingin berpisah.

Pagi ini libur kuliah. Aku luang. Aku rebah di sofa sambil mendengarkan musik. Dan aku baru ingat kemarin bahwa aku ingin mendengarkan lagu Rasvan Aoki yang direkomendasikan kawanku sebab dua alasan: pertama, ia adalah grub musik kawan dekatnya. Kedua, ia akan mengadakan katanya konser mini di Malang. Namun entah kapan.

Ketidaktahuan ini aku coba maknai sebagai sebuah kerinduan. Kapan akan terlaksana? Kapan bisa menyaksikan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tak dapat aku jawab.

Ketika pertama kukenal dirimu di sana
Ingatkan indah ke langit
Di balik bukit hijau yang enggan menjauh
Dari sang awan putih

Lirik pertama dalam Rindu bisa dimaknai sebagai sebuah ironi. Ingatan-ingatan yang mengakar. Masuk kedalam dan terjal. Jika digali, ia akan menjadi sebuah nostalgia, yang dalam berbagai rujukan berarti kerinduan kepada apapun, termasuk kepada rumah; juga kepada hal-hal di masa lalu; atau ingatan pada masa lampau yang jumud dan menyenangkan. Seperti coba gambarkan dalam penggalan lirik yang liris.

Lirik-lirik Rasvan Aoki masih asing dalam telinga. Aku belum pernah, dan ini pertama kali aku mencoba mendengarnya. Sebuah pengalaman dengar yang ditawarkan oleh Tegar -nama kawan yang merekomendasikan lagu ini. Aku mengiyakan saja, mencoba menuliskan, mengakrabi tiap bait dan kata yang tersemat. Melanjutkan hingga tuntas. Coba khusyuk dengarkan tiap larik.

Berlari-lari imaji
Sendiri sunyi menyepi
Hanya aku yang menunggu
Jerat rindu
Dan kau harus sadari itu

Ku merindu
Dirimu

Tiap angan punya warna. Orang-orang sekitar. Pertemanan yang terlampau akrab. Sedekat apapun dia, belum tentu ia akan tahu apa yang ada dalam perasaan dan imaji: apa yang kita rindukan? Bahkan kita mungkin tidak akan pernah mampu, untuk memaksakan pribadi seseorang untuk mengetahui segala sesuatu yang kita rindukan. Bahkan seseorang yang kita rindukan sekalipun. Yang jelas, perkara rindu bagiku merupakan kesunyian masing-masing.

Di kesunyian mahkota ku raja bertahta
Tanpa ratu
Kau tinggalkan segaris
Warna Hitam biru
Dan memori itu berulang
Ku menunggumu
Kembali padaku

Aku menunggumu kembali padaku

Saat sendiri. Kita punya waktu sejenak untuk mengingat kembali tiap memori: apa yang telah terjadi? Ia tersimpan rapi dalam setiap benda-benda yang punyai latar belakang: muatan cerita yang tak mudah dipahami; mendorong untuk kembali kepada kejadian yang bahkan sebelumnya tak diinginkan sama sekali.

Tak bisa diri melakukan pemaksaan. Karena itu bukanlah satu jalan keluar yang baik. Namun ketika kerinduan membuncah. Sudah tak dapat dijinakkan; tak dapat dibendung dengan ragam alasan. Mestinya ia harus segera dihaturkan kepada siapa saja yang dirindukan.

Dia yang selama ini hanya bisa didengar lewat telepon genggam. Tersimpan rapi dalam angan dan arah pandangan. Bila masih bisa disampaikan. Sampaikanlah dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Sudah tiga kali aku memutar ulang. Memutar lagi lagu Rindu karya Rasvan Aoki. Rasanya aku ingin menyampaikan sebuah pesan: “Aku rindu.” Dua kata sederhana. Dua kata yang mampu leburkan dua insan . Dua kata yang bisa lampaui imaji. Dua kata pemantik percakapan-percakapan. Dua kata yang terlampau jarang ku utarakan.

Dzulkifly dan Saya di Warung Kopi Mbah Kobra
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s