Publikasi mengenai kritik arsitektur rasanya masih jauh dari cukup, jika ingin bandingkan dengan kritik film dan sastra. Stensil Arsitektur: Proses coba jawab hal tersebut melalui publikasi (arsitektur) –yang juga coba jawab problematika arsitektur yang aktual perlu dijawab (hal. xi).

Di antara sekian banyak terbitan arsitektur, baik berupa produk buku atau majalah. Stensil Arsitektur: Proses tidak menawarkan keindahan wujud fisik arsitektur sebagai sampul atau isi, yang mungkin sering dijumpai pada publikasi arsitektur lain. Hanya berupa sketsa sosok perempuan berambut panjang (sedang merenung) menghiasi sampulnya. Seolah Stensil Arsitektur: Proses ingin atau sedang gambarkan bahwa arsitektur hari ini perlu dibawa menuju perenungan-perenungan –yang dalam.

Benar saja. Jika masuk ke dalam tulisan pertama. Anda akan disuguhi percakapan whatsapp grub tertutup Tim Tata Ruang Kampung Pulo oleh Yu Sing, di sini ia coba ulas dan tampilkan percakapan dengan apa adanya, sesuai opini tiap individu anggota di dalamnya. Di sana memuat ragam sudut pandang hasil diskusi beberapa pihak yang juga termasuk anggota pegiat arsitektur dan kota.

Anggota grub yang semakin beranjak dan berkembang, membuat perubahan nama grub menjadi Forum Pencinta Kampung Kota (hal. 1). Dalam anggota grub, namanya terindentifikasi tak asing dalam pergulatan turut selesaikan permasalahan arsitektur dan kota. Di antaranya Romo Sadyawan, Marco Kusumawijaya, Yu Sing, Jo Santoso, Antonio Ismael dan beberapa aktivis lain.

Percakapan memuat ragam sudut pandang dan proses, sebagai rangkuman tiap komunikasi yang dilakukan antar arsitek dan pegiat kampung kota dalam pertanyakan: proses kerja partisipatif. Proses yang dalam hal ini akan diterapkan dalam menata-kelola Kampung Susun Sungai Ciliwung. Diskusi umum, tertutup dan (mungkin) rahasia ini tidak semua orang dapat mengaksesnya. Namun, Yu Sing coba publikasikannya melalui tulisannya secara utuh.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kerja partisipatif dibangun? Atau dapatkah kemungkinan lain diperoleh sebagai wujud pembangunan yang lebih arif, selain (hanya) membangun (fisik) rusun? Dalam tujuan utamanya yakni membangun manusianya, bukan semata membangun rumah atau kampung susun (hal. 16).

Martin L. Katoppo, mencoba jawab pertanyaan perihal cara kerja partisipatif. Ia coba mendedah proses kerja partisipatif dengan Partisipatory Action Reseach (PAR). Proses yang dapat dicapai melalui tahapan-tahapan dan panduan tindakan sistematis bagi masyarakat –maupun arsitek, dalam rangka selesaikan suatu permasalahan yang kompleks dalam konteks masyarakat tersebut (hal. 64).

Martin cukup lengkap strukturkan pembabakan kerja penelitian partisipatif ini. Melalui tahapan yang ia kumpulkan, dengan ragam teori yang dibandingkan dengan teori lain. Tapi musti digarisbawahi bahwa karakter masyarakat yang ragam bukan hanya menjadi tantangan, namun juga tidak mampu ditebak dengan sederhana, sehingga ragam kemungkinan lain masih luwes untuk dikembangkan.

Tidak hanya itu, pendekatan yang cair pun dapat dilakukan dalam proses kerja partisipatif, melalui perkembangan-perkembangan inisiatif sesuai kondisi untuk turut lengkapi tiap langkah kerjanya. Jika sulit memulai langkah kerja partisipasi, tulisan Martin dapat menjadi panduan dasar jika belum mampu punyai bayangan awal ketika melakukan kerja partisipasi.

Argumentasi bahwa sistem ventilasi silang (cross ventilation) adalah sistem ventilasi terbaik coba pula dibahas oleh Noval Hanan Iri. Serta pentingnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam membangun rumah dan sediakan lahan. Ia coba jelaskan dan utarakan argumen dengan cukup panjang dan detail.

Akan tetapi argumentasi berulang membuat tulisan menjadi bertele-tele, dengan akhir pertanyaan penggugah: Sudahkah kita menyediakan 40% lahan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH)? (hal. 33). Ihwal tersebut mampu dibaca sebagai introspeksi praktik kerja arsitektur dalam masyarakat hari ini ketika merancang.

Pertanyaan penutup dalam tulisan Noval masih belum coba didedah dan rasanya perlu dipertanyakan kembali: bagaimana praktik kerja arsitektur yang sudah dilakukan selama ini? Sejauh mana pengetahuan masyarakat mengenai ruang terbuka hijau, sebagai bagian dalam membangun rumah? Atau, bagaimana 40% dapat dicapai ketika tanah yang dibangun terbatas, dengan besarnya kebutuhan ruang? Noval dalam tulisannya belum membahas dengan cukup dalam. Perulangan-perulangan tentang pentingnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) belum mampu coba dengan meraba konteks hari ini.

Lain dengan Gen Arsitektur dari Probo Hindarto. Probo coba lakukan angan-angan melalui pertanyaan: bagaimana jika teknologi sudah demikian canggih, sehingga semua dapat dilakukan dengan mudah dan praktis? Probo coba membuat angan-angan arsitektur yang canggih nan dapat dibanggakan, namun banyak hal yang hilang melaluinya. Misal, makanan yang disajikan dan dimasak dengan teknologi, dapat mencipta rasa sempurna, tapi kehilangan segenap kasih dan cinta yang dapat didapat melalui seorang ibu (hal. 42). Pada titik ini, teknologi dipertanyakan kembali, sejauh mana kearifan didapat, jika banyak hal yang hilang dan tak mampu dikelola.

Buku Stensil Arsitektur: Proses pertama kali saya dapatkan melalui kegiatan diskusi buku di Ria Djenaka Coffe, Malang. Tulisan yang pertama kali saya buka dan baca adalah tulisan Ign. Susiadi Wibowo, tidak lain sebab dua alasan: satu, Adi adalah kolega di LabTanya dan kedua –entah mengapa– saya selalu yakin tulisannya menarik.

Alasan kedua terbukti. Dalam Dear Chealsea yang memuat surat balasan untuk kawan-kawan arsitektur yang pernah mengundangnya sebagai reviewer. Adi sering coba berespektasi (tinggi) dengan hasil rancangan kawan-kawan arsitektur dalam perancangan arsitektur 5. Apadaya, espektasinya luntur ketika hasil rancangan kawan-kawan di tugas studio perancangan arsitektur 5, tak sedikitpun terbaca lompatan pencapaian yang dapat manusia kerjakan dalam kurun lebih dari 30 tahun dari hari ini –sebagai bagian latar belakang perancangan mereka (hal. 89).

Ia coba mengomentari ide tugas perancangan arsitektur 5 ini tampak seperti dinosaurus di tahun 2050 nanti. Dikagumi karena kehadirannya yang ‘aneh’, kuno, antik, jauh di luar konteks luar waktu dan tidak visioner dalam segala arti (hal. 92). Dari sana ia coba melakukan provokasi lewat nilai yang ia berikan kepada teman-teman studio arsitektur untuk menyampaikan sebuah pesan dalam: membongkar sikap paradigma yang harusnya tidak ada pada anak didik di level perguruan tinggi yang hanya terpaut pada nilai, namun di luar itu semua kemampuan memahami sosial hari ini lebih penting.

Architentural Doodling karya Alva Sondakh dan esai foto Ariko Andikabina di Kampung Luar Batang menjadi refleksi penutup, coba membongkar gagasan: Bagaimana jika arsitektur dibuat untuk bersenang-senang tanpa harus terikat alur –kebijakan peraturan– tententu? Bagaimana jika keberpihakan pembangunan selama ini hanya diperoleh yang kuat dan bermodal? Hingga kampung (yang lemah) begitu mudah dihancurkan.

Dari sini, hadirnya Stensil Arsitektur di tengah publikasi arsitektur saya baca sebagai enggan –atau memang sengaja untuk tidak– ingin bersolek. Tipografi dan perwajahan yang tidak mencolok, coba lengkapi puing-puing gagasan publikasi arsitektur dengan memuat kritik (arsitektur) yang rasanya hari ini memang kurang. Kekurangan dan kelebihan yang ada dan sudah diterbitkan dalan edisi pertama ini dapat dimafhumi, dengan upaya besarnya yang disampaikan dalam pembuka, ialah: sebagai pendorong perkembangan arsitektur untuk terus tanggap; peka sosial dan tidak sekedar tampil centil penuh kosmetik namun tak berjiwa (hal. xxi) ini, semoga dapat terus dilanggengkan.

Judul: Stencil Arsitektur: Proses | Tebal: 121 halaman | Editor: Murni Khuarizmi dan Peter YG | Kontributor: Yu Sing, Noval Hanan Iri, Probo Hindarto, Martin L. Katoppo, Susiadi Wibowo, Armeyn Ilyas, Ariko Andikabina dan Alva Sondakh | Penerbit: Elpeublo Tirtama Mandiri – biangdesainpress. Cetakan ke-1, Juli 2016.

Advertisements

3 thoughts on “Stensil Arsitektur di Tengah Ragam Publikasi Arsitektur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s