Arsitektur Bagian Kecil Kebudayaan


/1/
Bahkan mereka para Antropolog yang tercatat dan mengawali bab di buku ini pun belum sepakat dengan definisi kebudayaan itu sendiri. Namun, jika ditarik benang merahnya, mereka mentafsirkan kebudayaan sebagai sebuah konsep dasar dinamika masyarakat yang merupakan laku sikap dalam keseharian yang mempunyai nilai budi-luhur.

Membaca arsitektur dengan kacamata antropolog sebagai bagian dari kebudayaan punya nilai kesemestaan pembacaan realitas yang lebih objektif dan subjektif. Dalam khazanah perkembangan arsitektur muncul ragam definisi yang sebagai pengelompokan seperti arsitektur tanpa nama, arsitektur dialek (vernakuler) dan arsitektur asli (indiegenous).

/2/
Proses pencarian dan pengelompokan dilakukan secara bertahap tersebut memandang bagaimana perubahan sosio budaya sebagai proses dalam evolusi linier. Seperti pada praktik arsitektur lokal/nusantara kita yang bisa dipandang bukan terjadi secara singkat, namun perubahan yang terjadi dalam ruang-waktu ratusan tahun, sehingga sampai hari ini pun peradaban arsitektur nusantara masih belum final dan akan terus berjalan.

Perjalanan tersebut lewati proses seperti menapaki tangga, langkah demi langkah secara teratur dan lembut. Sehingga kebudayaan manusia dalam pola bermukim dari terik matahari, hujan, berbagai gangguan binatang buas bisa terbaca. Pola tersebut menunjukkan berbagai hal yang terkait dan diyakini memiliki benang merah arsitektural jika dilihat dari kacamata proses evolusi lingkungan, bermukim dan melakukan binaan yang kesemuanya memiliki makna simbolik secara fisik maupun non fisik.

/3/
Di luar sosio-budaya tersebut, faktor lain seperti agama dan pertumbuhan kemudian beradaptasi dengan nilai arsitektur lokal di berbagai wilayah Nusantara.

Kedatangan berbagai bangsa dalam menyebar, mengenalkan dan membangun juga mempengaruhi munculnya arsitektur kolonial dan tropis kontemporer. Pencarian jati diri yang cukup panjang membuat berpalingnya kepada arsitektur tradisional yang sudah mengakar dengan tujuan mengembangkan gaya dalam kehadiran arsitektur modernisme-posmodernisme perkembangan pengaruh struktur sosial yang mempengaruhi pemahaman kebudayaan.

/4/
Pengalaman individu terkait dengan nilai budaya mengenai ruang. Membuat simbolisme kemudian hadir sebagai alat yang bisa dibaca: lingkungan. Lingkungan yang sejatinya manusia tunduk kepada alam manusia menguasai alam dan selaras dengan alam.

Arsitektur sebagai produk kebudayaan, pada praktiknya di Indonesia sendiri arsitektur tradisional adalah arsitektur yang sangat peka terhadap kebutuhan fundamental rohani manusia. Yang terdapat simbol-simbol tak ternilai harganya dalam mengenali jati diri budaya Indonesia. Bagaimana masyarakat lokal mengenali diri mereka, kekuatan alam sekitar, menempatkan arsitektur dalam konstelasi alam semesta itu semua bisa (seharusnya) terbaca dalam arsitektur Nusantara.

/5/
Membaca arsitektur nusantara dalam ranah kebudayaan bukan lantas berhenti pada yang fisik namun cobal lebih melihat dari aktivitas di dalamnya. Bagaimana keseharian dalam budaya mereka.

Budaya mereka bukanlah budaya yang sempurna dan tidak bisa dikritisi. Namun, kebudayaan mereka terkandung banyak nilai bahkan nilai kapitalistik seperti bagaimana arsitektur Toraja memasang tanduk kerbau di tampak arsitekturnya, tidak lain sebagai ajang untuk menunjukkan bahwa mereka kaya. Banyak hal lain yang bisa dikritisi dalam budaya berkeilmuan dalam berarsitektur mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s