Mengurai Realitas Lewat 3 Kata

Narasi keseharian akan tampak unik jika mampu mengurai dengan ragam sudut pandang. Hal inilah yang dilakukan oleh Raja Gama Era dengan zine karyanya. Gama –panggilan akrabnya– ialah mahasiswa arsitektur Universitas Brawijaya, mencoba mengurai realitas dengan tiga kata: Senyumo; Sabaro; Sadaro. 3 kata yang juga dikukuhkan menjadi judul “Trilogi Zine Senggaja.” Mencerminkan tiga falsafah perintah dalam keseharian yang bisa dicoba untuk redamkan segala jerat nafsu keduniawian.

Dalam gerak langka hidup yang sudah ia jalani selama menginjak usia kepala dua ini. Gama mencoba melihat dunia lebih dekat, melihat keseharian lebih lambat, melihat detail lebih cermat. Selain itu, ia mencoba melihat apa-apa yang dekat dengan kesehariannya, juga sebenarnya tidak jauh dari keseharian kita.

Semua suka bahagia, ya, semua suka bahagia dan ingin selalu bahagia. Itulah yang coba ia angkat di trilogi zine edisi pertama dengan tajuk “Senyumo.” “Awali dengan senyum,” menjadi barisan kata pengingat pertama dalam menghantarkan ke halaman-halaman berikutnya dari zine ini. Kebahagiaan yang harusnya dinikmati, kebahagiaan yang seharusnya dicapai, kebahagiaan yang menjadi puncak setelah lewati kesedihan.

Senyumo menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya punya kerinduan akan hal-hal baru yang bisa ditemukan melalui guru, mengekspresikan sesuatu, membaca karya sastra dan ketika konsumsi informasi dari internet dengan jutaan konten baru setiap harinya.

Kemudian “Sabaro” menjadi edisi kedua ketika senyum belum cukup mampu menjadi keterlibatan dalam proses berkehidupan. Sabaro di sini mewakili pemaknaan lain dari hidup yang serba kapitalistik dan materialistik. Dimana hidup seyognyanya dijalani dengan setimbang. Hidup dengan adil. Hidup dengan berpihak kepada yang lemah.

Selain hal itu. Sabaro coba melihat detail ragam tradisi masyarakat Nusantara: dengan membaca tatanan rumah Madura dan ukiran kayunya yang dibuat dengan penuh makna simbolik, penutup atap dibuat dengan proses anyam sebagai latihan diri dalam kesabaran, dan juga tak lupa selalu belajar sabar dari Yang Maha Sabar.

Tidak berhenti pada konteks sabar. “Sadaro” coba mengungkapkan kedalaman berfikir sebagai bagian ketiga dan terakhir dari trilogi zine ini, sebagai refleksi kendali rasa dan aktualisasi diri. Sadaro coba mengulik kesadaran bahasa kita yang jauh dari bahasa Ibu. Bahasa yang sejatinya lahir dengan sejarah panjang hingga menjadi bangsa Indonesia sekarang.

Keprofesian kita juga tidak lupa diulas dalam Sadaro. Potensi masyarakat Nusantara yang memiliki ragam kemampu-terampilan sebagai tradisi unggul peradabannya. Peradaban yang mampu berpihak kepada alam dan lingkungan sebagai bagian diri. Kacang seyogyanya tak lupa kepada kulit. Sebagai bangsa yang dimulai dan dibentuk dengan latar belakang sejarah panjang, melupakan adalah sebuah awal kehancuran. Mempelajari, menuliskan dan membacakan kembali sejarah merupakan kerja kebudayaan.

Gama dalam Trilogi Zine Senggaja ini mencoba tawarkan cara pandang terhadap sesuatu, digubah dengan kreatif melalui karya cetak –berbentuk zine– yang bisa dikonsumsi khalayak banyak. Jika tertarik membaca langsung karyanya, silahkan menghubunginya di akun sosial media: Raja Gama Era. Jangan sungkan-sungkan untuk bertanya langsung, karena saya yakin ia akan selalu menjawab pertanyaan kawan-kawan dengan sadar, sabar, serta senyuman.

fullsizerender-4
Penampakan depan Trilogi Zine Senggaja
Advertisements

2 thoughts on “Mengurai Realitas Lewat 3 Kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s