Bicara arsitektur kota hari ini mungkin akan menjadi sesuatu yang tak akan selesai. Karena dengan bertambahnya usia kota bertambah kompleks pula permasalahan dan peradaban yang dicapai pada tiap ruang waktunya. Malang misalnya, dengan segala potensi dan bakatnya serta ragam mahasiswa yang tiap tahun terus bertambah, seyogyanya hal tersebut membuat mahasiswa bisa berkontribusi langsung dan turut andil dalam menyelesaikan permasalahan sekitar mereka.

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”.

Begitulah Tan Malaka mendeskripsikan kaum muda –-para mahasiswa– yang hari ini kadang merasa dirinya lebih pintar dari siapapun sehingga lebih leluasa untuk mengatur mereka kaum tak terpelajar. Jikalau kemudian mahasiswa mau melebur dan menjadi bagian dari masyarakat, mengajak setiap orang untuk memproduksi pengetahuan bersama serta mengeluarkan gagasan dan sudut pandangnya.

Jika ragam inisiatif, sudut pandang dan gagasan terus digali. Pada akhirnya peran bisa terbentuk seperti yang dilakukan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam membaca permasalahan serta memberikan gagasan untuk coba selesaikan permasalahan kampung Jodipan. Jodipan selama ini banyak dipandang kumuh –dengan kondisi lingkungan di bantaran sungai Brantas tak layak huni– oleh media atau banyak pihak lainnya. Barangkali stempel kampung yang kumuh menjadi satu pemandangan yang lain, jika benar-benar dilihat dari dekat seperti yang dilakukan mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM untuk kenali masyarakat kampung Jodipan.

file_002
Dari kiri ke kanan: Rabbani Amal Romis, Salis Fitria, Andrea Fitrianto dan Haris El-mahdi.

Mengenali masyarakat bagi anak Ilmu Komunikasi UMM pada akhirnya menjadi sebuah jalan tercapainya gagasan yang barangkali bukan hal baru di Indonesia, karena proyek serupa sudah pernah digagas Y. B. Mangunwijaya di Kampung Kali Code, sebagai satu inisiatif dalam menggeser paradigma kekumuhan, yakni dengan menjadikan kampungnya sebagai kampung warna-warni. Kampung warna-warni Jodipan semakin hari semakin hits dengan datangnya kaum muda yang masuk berkeliling kampung mengambil gambar. Hal ini membuat kampung Jodipan semakin hari tampak sibuk dengan kedatangan anak muda yang ingin eksis di sosial media dan setiap hari akan akan terus mengundang orang-orang baru.

Dengan hasil seperti ini, gagasan latar belakang mengapa mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM mungkin menjadi narasi yang tidak sederhana dengan latar belakang ilmu komunikasi dan awalnya hanya sebatas tugas kuliah, mereka sepakat mencoba respons permasalahan yang hadir ditengah masyarakat Jodipan sebagai partisipasi peran tanggung jawab dalam memperbaiki lingkungan sekitar tempat mereka tinggal, bahkan setelah pelaksanaannya banyak respons dari berbagai pihak. Padahal Salis Fitria –-salah satu panitia penggagas kampung warna-warni Jodipan– menyampaikan bahwa: “Kami anak komunikasi sejatinya menjalankan proyek ini sebagai tugas mata kuliah. Namun dengan akhir dan respons yang begitu besar kami tidak menyangka akan menjadi sesuatu yang akan ditengok banyak kalangan.”

file_001
Haris El-mahdi (kanan) menyampaikan gagasan terhadap partisipasi komunitas dari sisi sosiologi.

Inisiatif dalam menata-kelola kampung yang digagas anak Komunikasi UMM ini mungkin bukan satu-satunya. Andrea Fitrianto sebagai salah satu inisiator ASF-ID (Arsitek Swadaya dan Fasilitas) punya gagasan serupa. ASF-ID sebagai organisasi non-profit dan partisipatif dengan komitmen pada keadilan sosial, budaya dan lingkungan melalui arsitektur konstruksi, dan urbanisme. Selain itu ASF-ID bertujuan untuk memberi wawasan sosial kepada arsitek, sarjana arsitektur, maupun mahasiswa lewat wacana maupun aksi arsitektural. Karena bersifat nirlaba, kegiatan ASF-ID didasari oleh volunterisme dan donasi dari anggota maupun simpatisan.

Dengan ideologinya tersebut ASF-ID ingin melanggar batas-batas yang selama ini sangat terkait dengan praktik kerja arsitektur yang semakin jauh dari keberpihakannya kepada yang lemah (baca: masyarakat). Proyek rumah semi permanen yang dibangun di Kampung Tongkol, Ancol Utara merupakan rumah dengan struktur bambu, sebagai bentuk tempat tinggal layak untuk menaungi 5 keluarga yang tadinya tinggal di hunian yang kurang layak. “Rumah yang dibangun ini ialah sebagai rumah percontohan pertama yang dibangun, sebagai awal untuk bisa dikembangkan di beberapa lokasi lainnya, seperti yang sudah pernah dilakukan di di daerah Kampung Cipatra, Soreang, Bandung.” Begitu kata Andrea Fitrianto.

“Respon ragam komunitas dalam membangun kampungnya ini menjadi inisiatif yang sangat baik jika terus didorong dan dibangun keberlanjutannya, sehingga proyek tidak akan berhenti ketika sudah ditinggalkan komunitas-komunitas penggagasnya.” Ucap Haris El-mahdi, Akademisi Universitas Brawijaya mengenai harapan keberlanjutan nilai yang lestari untuk dijaga oleh warga kampungnya sendiri. Keberlanjutan bisa dilihat seberapa besar partisipasi masyarakat Jodipan dengan turut serta mengecat kampungnya. Begitu juga dengan ASF-ID, proses yang tidak linier dengan mendampingi dan mengkomunikasikan setiap detail proses pengerjaan secara utuh, masyarakat bisa berpartisipasi penuh dalam setiap proses pelaksanaan.

Pada akhirnya, memupuk banyak inisiatif seperti yang dilakukan oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM dan ASF-ID secara normatif menjadi dorongan partisipasi yang berpengaruh besar, sehingga perlu masuk ke ruang-ruang –-yang sampai saat ini masih jauh dan bahkan belum banyak tersentuh oleh para komunitas termasuk arsitek-– dalam turut serta membidani lahirnya peradaban kampung-kota yang lebih arif.

Jum’at, 30 September 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s