Mengapa kita harus belajar kota? Satu pertanyaan pertama yang dilontarkan dalam mata kuliah pengantar perancangan perkotaan yang diampuh oleh Bu Tarra dan Bu Aisyah. Kota dengan kompleksitas hari ini, memungkinkan kita mengenali apa yang sebenarnya bisa mewujud menjadi kajian detail mengenai tabir-tabir permasalahan kota Malang yang (mungkin) masih belum terlihat.

Dengan gerak laku zaman yang terus berputar. Barangkali kota Malang punya perbedaan sangat jauh dan signifikan dari tahun ke tahun. Gedung-gedung menggeliat menengadah ke langit, yang lemah harus berada di pinggir, yang kuat merajai pusat kota.

dsc02823
Becak yang mulai tergeser oleh mesin.
Kota hari ini (seperti) hanya sebuah imaji yang harus dibangun, dibongkar, digali, dirubuhkan, diremajakan, yang kesemuanya ialah fisik dan sekali lagi fisik. Sedangkan hal-hal yang tak terlihat seperti nilai kebudayaan masyarakat negeri ini terus-menerus tergerus dengan keberadaan yang fisik tersebut.

Pembangunan fisik seringkali dianggap mewakili kemajuan, modernisasi dan wajah kota masa depan. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Namun, bagaimana keberpihakan pembangunan kota selama ini? Apakah sudah berpihak kepada rakyat lemah? Ataukah masih memihak kepada yang kuat: para pemegang kekuasaan, pengusaha, sampai investor.

Lalu jika masih belum. Pertanyaannya: mengapa masih banyak sudut pandang pembangunan cenderung pada aspek fisik? Sampai-sampai terjadi reduksi ruang ekologi yang cukup besar, hutan kota dikomersilkan, bantaran sungai dimiliki dengan nilai investasi tinggi, pun kedepan masih terus terjadi pembangunan dengan banyak dalih dan buih “revitalisasi.”

Lantas, bagaimana dengan membangun intelektual dan mentalitas warga kota? Bukankah ihwal tersebut bisa juga dilihat sebagai pembangunan? Pembangunan yang tidak melulu tentang fisik, namun melihat pembangunan sosial sebagai wujud pembangunan.

Dan pertanyaan di awal mungkin bisa saya beri jawaban. Mengapa kita harus belajar kota? Seyogyanya agar kita sadar. Sampai hari ini, kota sebagai imaji yang dihadirkan sang (manusia) arsitek, belum mampu memanusiakan manusia.

Advertisements

2 thoughts on “Kota: (Melulu) Tentang Fisik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s