Ketukangan: Sebuah Cerita Awal

Mengenal seluk beluk material bukanlah hal sederhana. Jenis dan kemampuan olah yang ragam membuat kayu juga perlu dirasa, digenggam, dikenali dengan membuat suatu karya jadi: produk. Di ruang inilah beberapa bilah kayu bekas dikumpulkan kemudian bisa diolah lanjut.

Sejak awal bulan Maret, salah satu senior saya di jurusan arsitektur menyiapkan ruang bagi kawan-kawan yang ingin belajar material kayu dan bambu. Mengolah kayu atau bambu di tempat ini bisa menjadi semacam oasis dalam pendidikan arsitektur yang belum sepenuhnya memiliki ruang dalam mengembangkan dan mempelajari material.

Kesadaran material dalam ketukangan bisa menjadi jalan meningkatkan sensivitas dalam membuat detail. Pendekatan baru dalam eksplorasi meterial tentu diperlukan sebagai refleksi dalam definisikan ulang peran arsitek masa depan.

Sejak kemarin malam mereka berdua: Ulil Hudha dan Achmad Afandi Baihaqi–teman saya dalam yang juga menempuh pendidikan arsitektur– meributkan entah, sepertinya mereka yang saya tahu sedang proses membuat sebuah kursi duduk. Barangkali dari belajar ketukangan memang tidak hanya menyangkut teknis pekerjaan semata, namun juga sebagai pendidikan mentalitas dan pola pandang-pola fikir (terutama bagi kawan-kawan yang menempuh pendidikan arsitektur).

Sebagai –seseorang yang mungkin bercita-cita menjadi seorang– calon arsitek tentunya tidak mungkin menjalani keprofesian nanti dengan otonom. Gotong royong dalam menghasilkan karya (bangun) membutuhkan bantuan berbagai pihak yang kompeten dalam bidangnya.

Kesadaran ini seyogyanya dipupuk sejak awal dalam membantu meningkatkan kemampuan mengenali setiap hal. Terutama mengenali apa yang telah hadir di depan mata dalam rangka merespon kekayaan sumberdaya alam Indonesia.

“Arsitektur Nusantara Indonesia dibangun di atas fondasi ketukangan tradisional, dikerjakan oleh masyarakat setempat dengan material lokal.” Mengutip Yori Antar dalam sesi Seminar Pavilun Indonesia, Venice Biennale 2014.

Pernyataan tersebut dapat menjadi salah satu ihwal pentingnya menghadirkan ketukangan ke dalam pendidikan arsitektur. Sebuah upaya dan harapan meningkatkan kepeka-sadaran materialitas arsitektur. Karena mengenali serta memahami budaya material merupakan salah satu upaya dalam mendalami keilmuan arsitektur.

Mari bersama-sama membuka dan mencari ruang-ruang belajar dalam upaya menemu-kenali material-material lokal (arsitektur) Indonesia.

Belajar Alat dan Detail

Satu hal yang harus disadari ketika membuat produk, kuncinya adalah dengan mematangkan apa yang akan kita buat, dalam merancang detail sebuah desain. Mendesain bukanlah barang remeh, perlu memahami material, terutama bagaimana karakter material agar sesuai dengan ingin dibuat.

Mematangkan desain buat pemula seperti saya bukan hal sederhana. Memegang prinsip dalam penggunaan alat serta cara membuat sambungan seyogyanya menjadi hal utama. Mengenal cara kerja alat-alat dalam bengkel kayu: sangat perlu dan penting.

Seperti halnya cara menggunakan bor duduk, gergaji tangan, dll. Setiap alat punya fungsi yang berbeda. Detail-detailnya pun juga perlu dikenali, misalnya, mengapa besi pada ujung meteran kayu itu oblak: bisa digerakkan maju mundur? Pertanyaan sepele yang mungkin tidak semua mengerti jawabnya.

Mengenali alat bisa menjadi satu pertanyaan: bagaimana cara kerjanya? Kepekaan pembacaan dalam menggunakan alat sangatlah penting. Alih-alih jika belum pernah memegang alat akan menjadi sesuatu yang salah kaprah dan tidak sesuai fungsinya.

Fungsi alat yang terbatas bisa menjadikan ia punya cakupan yang tak sedikit. Beberapa hal bisa dilakukan gergaji duduk, misalnya membuat bentuk-bentuk dasar potongan kayu.

Membuat prototipe sebagai awal untuk mematangkan desain diperlukan, sebab jika sudah matang, konsep desain di awal. Selanjutnya bisa melakukan produksi masal. Namun jika belum matang, beberapa keluputan bisa mengakibatkan kesalahan.

Yang terpenting dari kesemuanya adalah bagaimana tiap kesalahan dirajut sebagai proses pengembangan diri, dalam upaya meningkatkan kemampuan untuk menghasilkan produk yang bagus. Sehingga kebiasaan dan kepekaan dan menggunakan alat bisa terasah.

Tabik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s