Menengok Sejarah Indonesia Lewat Gardu

Reformasi 1998 mengisahkan banyak memori di sekitar yang terkadang tidak terlihat –bahkan tersembunyi. 1805-1811, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memerintahkan Hindia Belanda membangun Jalan Raya Pos dari Anyer sampai Banyuwangi, juga menjadi awal hadirnya gardu, di titik tertentu sepanjang jalan tersebut. Gardu kemudian tidak hanya mengemban fungsi sebagai pertahanan dan pengamanan. Pada revolusinya, gardu menjadi tempat penting pada masing-masing periodenya, juga sebagai pertahanan dan bagian penting pertahanan perkotaan dan pedesaan di Indonesia.

Pada periode reformasi, gardu bukan lagi hanya menjadi sebatas pengamanan dan pertahanan. Kepentingan-kepentingan lain yang menyertainya begitu banyak, salah satunya kepentingan politik. Entitas politik yang menyertainya ini membuat catatan-catatan pada masing-masing periode kepemimpinan dari Soekarno hingga Gus Dur. Hingga membuat gardu kemudian menjelma menjadi posko-posko yang banyak dimanfaatkan untuk kepentingan kampanye politik kekuasaan partai politik.

Memori tentang gardu menyisakan kisah tersendiri bagi beberapa orang yang hidup pada rezim Soeharto, kekuasaan dalam mengelola bentuk perintah yang dicetuskan dengan pembangunan gardu menjadi sebuah keajaiban bagi masyarakatnya dalam menjaga keamanan, juga Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) menjadi salah satu kunci bagi para pemuda untuk menjaga keamanan lingkungannya, terlepas dari baik buruknya kepemimpinan, ada nilai yang bisa diambil yang kini kemudian meluruh, bertransformasi menjadi kejumudan yang digunakan sebagai pengamanan di beberapa perumahan: pos jaga.

Dalam buku Penjaga Memori: Gardu di Perkotaan Jawa, Abidin Kusno secara runut memaparkan hasil penelitiannya terhadap kajian mengenai gardu dengan sudut pandang sejarah yang terkandung didalamnya. Di bab pertama sebagai pendahuluan, menceritakan fungsi partai yang dimanfaatkan oleh partai sebagai lawan besarnya untuk memenangkan partainya dalam pemilu legislatif tahun 1999, serta keterkaitan dalam komunikasi yang dijalin dalam menjaga wilayah etnis Tionghoa.

Pada bab dua, pembatasan yang terlihat jelas bagaimana orang-orang diluar dan didalam pos Pertahanan Sipil (Hansip) tersebut menjadi kentara, sehingga orang-orang yang berada di belakang pos Hansip dianggap sebagai orang dalam, dan orang orang di sekitar pos Hansip adalah orang luar. Hadirnya pembatasan dan pengkotakan kota juga disampaikan dan bab ketiga tentang jejak, bagaimana jejak gardu ini dalam menciptakan batas spasial baru bagi ruang lingkup sebagai batas teritorial yang ada. Di bab ini pula terjadi politik etnis yang berkaitan erat dengan hubungan masyarakat Tionghoa, mereka memperlakukan gardu sebagai persiapan terhadap munculnya konflik yang diperkirakan akan terjadi kepada mereka.

Institusi menjadi poin penting dalam bab terakhir sebelum kesimpulan. Gardu sebagai produk kebudayaan seolah sudah tidak relevan seperti yang di sampaikan dalam buku ini, karena banyak kepentingan politik yang menengarainya. Pada titik ini, ronda malam yang dilakukan di gardu pun, memiliki multi kepentingan yang erat kaitannya dengan kontrol sosial dan politik di Indonesia.

Namun, tidak selesai sampai disitu banyak polemik yang terjadi dengan gardu, beragam kritik dan sudut pandang diluncurkan beberapa pemimpin, termasuk Gus Dur –panggilan akrab KH. Abdurrahman Wahid– yang menilai fungsi gardu tereduksi menjadi tempat negatif. Era Soekarno, pemikiran-pemikiran tentang ‘gardu’ ini diteruskan oleh Megawati ketika menjabat sebagai orang nomor satu di negeri ini, kembali lagi menjadi sebuah jalan politik yang menengarainya.

img_5782


//Judul: Penjaga Memori: Gardu di Perkotaan Jawa //Judul Asli:  Guardian of Memories:Gardu in Urban Java //Penulis:  Abidin Kusno //Penerjemah: Chandra Utama //Penerbit:  Ombak, 2007 //Tebal: xv + 154 halaman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s