Jarum jam melewati tengah malam. Namun kota Malang masih menunjukkan keriuhan. Tawa masih berderam, diiringi umpatan-umpatan misuh khas malangan yang sudah terlampau biasa kami dengar sebagai tanda keakraban. Di tengah riuh rendah yang belum berakhir ini, hanya satu simpul kata untuk budaya ngopi di Malang: ricuh.

Sebelum pulang ke rumah, seperti biasa saya menyempatkan diri singgah sebentar di warung kopi terdekat sepanjang perjalanan, tepatnya di Kopja -nama warung kopi yang saya singgahi. Sebuah akronim dari Kopi Jancuk. Saya tahu, warung kopi ini belum genap satu tahun berjalan. Tapi jangan heran jika warung kopi ini tak pernah sepi dari kunjungan. Walaupun tempatnya masuk gang dan tidak di jalan protokol. Kedekatan dengan mahasiswa sebagai pelanggan setia, membuat kopi yang dijualnya menyesuaikan kantong mereka. Tak mahal. Cukup dengan uang 4000 saja, kalian bisa memesan satu kopi cangkir atau kopi susu.

Belum lama saya pesan, secangkir kopi hitam sudah datang. Biasanya tak secepat ini pesanan datang jika terlampau ramai. Semakin malam suasana makin gaduh. Beberapa kelompok, meja-meja mereka gabungkan, rokok di tangan kanan, kartu remi di tangan kiri mereka hujamkan ke meja sebagai taruhan. Beberapa seperti melakukan diskusi, bermain gitar, sibuk dengan gadget-nya, tapi ada juga yang mengolah kemampuan sketsa.

Rasanya, tidak seperti tahun lalu. Semakin tahun warung kopi di Malang semakin ramai saja. Walaupun libur, mahasiswa perantauan (termasuk saya) banyak yang belum pulang dan lebih suka menghabiskan waktu liburan di kota Malang. Padahal liburan tahun ini sudah dimulai. Beberapa kampus bahkan menjadwalkan liburan hingga dua bulan kedepan. Tapi itu bukanlah alasan untuk warung kopi menjadi sepi dan tutup. Namun sebaliknya, warung kopi semakin ramai, seolah mereka tak ingin ketinggalan untuk menikmati kopi sembari menghabiskan waktu liburan, sebelum lebaran datang.

Saya menjadi sadar, tak terasa sudah hampir empat tahun hidup dan tinggal di kota Malang. Budaya ngopi dari sore hingga menjelang pagi, hampir setiap hari mungkin dialami setiap penggemar kopi. Seolah ngopi sudah menjadi agenda wajib di Kota ini. Dan tak perlu bingung untuk mencari warung kopi. Bahkan jika boleh dikira-kira, setiap dua puluh meter pasti ada. Dari mulai angkringan sampai model kedai di kota metropolitan, dari gubuk bambu hingga rumah kolonial beratap jengki, semua bisa disulap menjadi warung kopi. Mungkin bisa ditambah satu hal lagi: internet nirkabel. Itulah mengapa saya menjuluki kota ini sebagai surganya warung kopi.

Saya belum pernah hidup dan singgah cukup lama di kota lain selain Malang, yang jelas keramaian ini bisa membuncah karena kampus-kampus di kota ini saling berdekatan satu sama lain, mulai dari kampus negeri hingga swasta, terdapat di satu kecamatan yang sama. Pun setiap tahunnya kampus-kampus ini menambahkan kuota mahasiswa barunya, jadi mungkin bisa dijawab pertanyaan: mengapa warung kopi di Malang tak pernah hilang dari pelanggan?

Dari hari ke hari, tahun ke tahun warung kopi menjamur dan mereka tidak takut sepi dari pengunjung. Tidak hanya jumlah yang semakin berkembang, fasilitas didalamnya pun juga tak mau kalah untuk dikembangkan. Mural menjadi sajian seni visual dan bisa jadikan latar belakang foto profil sosial media. Kutipan motivasi tokoh, hingga karakter animasi di sematkan. Televisi dan layar besar untuk menonton pun menjadi media menyajikan pertandingan sepakbola yang tidak bisa ditinggalkan. Seperti tahun ini, perhelatan sepak bola sekelas piala Eropa 2016 menjadikan warung kopi Malang enggan padam.

Tidak seperti di kampung halaman. Berlama-lama di warung kopi dengan segala keriuhan yang mungkin mengancam kesunyian tiap tetangga di samping kiri dan kanan bukan menjadi masalah besar. Kami serasa dibebaskan dari segala aturan dan tanggung jawab moral untuk membangun peradaban setiap masyarakat di sekitar tempat tinggal kita. Padahal disanalah letak tugas ‘ideal’ sebagai mahasiswa seyogyanya. Seperti tidak ada batasan. Hanya, habisnya secangkir kopi adalah hal yang membatasi kami untuk segera pulang, kembali ke rumah, kost atau kontrakan sebagai tempat persinggahan.

Sama halnya dengan saya. Isi air sudah mendekati tinggi ampas yang mengendap menjadi batas saya untuk segera melanjutkan perjalanan pulang. Riuh pun sepertinya sudah mulai banyak berkurang. Jam sekali lagi sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari, beberapa bangku sudah mulai kosong ditinggalkan. Kasih mulai dipenuhi mereka yang belum membayar. Nampaknya petualangan mereka belum usai. Sepanjang perjalanan mereka kembali singgah di warung-warung makan dan pasar, dengan tujuan mencari camilan untuk mengganjal perut yang lapar. Sembari membungkus makanan untuk sahur teman mereka yang sudah memesan dan menunggu ketika pulang.

Ketika ramadhan telah usai dan mendekati lebaran. Jalanan mulai lenggang. Malang tidak akan berjumpa kembali dengan kemacetan. Hampir keseluruhan mahasiswa perantauan pulang, meninggalkan kota malang, demikian pula dengan gerobak angkringan sepanjang jalan sudah tidak terlihat tanda-tanda untuk segera beredar. Mereka sudah memutuskan untuk kembali pulang, menuju masing-masing kampung halaman.

Setelah liburan kelar, mereka kembali sibuk mempersiapkan agenda selanjutnya di kampus. Entah semester baru atau yang sudah terancam dan harus mencari kampus baru, yang jelas warung kopi di Malang tetap laku.

Advertisements

2 thoughts on “Kopi Malang Takkan Pernah Hilang

  1. Di Malang ada Kopi Jancuk, kalo di Bandung terkenalnya Kopi Anjis wkwk. Emang nama-nama kayak gitu hits banget ya, gampang diinget pula dan unik. Tempat nongkrong deket mahasiswa itu emang selalu penuh ya :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s