Choiri Wirawan (1992-2016): Sebuah Obituari

Satu bulan terakhir sebelum ke Pamekasan, Madura. Choiri Wirawan –yang akrab saya Panggil Mas Wira–tinggal bersama di rumah kontrakan, di Dau, Malang. Saya sempat menemani ketika ingin berpamitan dan meminta izin kepada pengurus Pondok Pesantren Nurul Huda, Mergosono.

Ya. Dia tinggal di pondok pesantren tersebut selama di Malang. Di lantai atas kamar pondok, kami sempat berbincang mengenai: apa sebenarnya tujuan hidup ini? apa sebenarnya yang harus kita lakukan dalam berkehidupan?

Rasanya dua pertanyaan tersebut bisa memuat jawaban yang kompleks. Tapi perbincangan kami saat itu, tak disadari adalah percakapan paripurna untuk sebuah perkawanan. Tak pernah saya selama ini banyak berbincang dan menjalani aktivitas bersama. Akhir-akhir ini aktivitas demi aktivitas memuat banyak peristiwa yang tanpa disadari cukup banyak pelajaran darinya yang tak bisa semuanya disampaikan.

Kami berbincang sekitar satu jam, di lantai atas–tempat para santri menjemur pakaian mereka–sembari menunggu jadwal ngaji rutin di kelas yang pada waktu itu akan diasuh oleh Dr. KH. Isroqunnajah (Gus Is). Setelah turun dan menuju kelas, mahasantri lain sudah duduk dan khusyuk memandang kitab yang akan dikaji hari itu.

Telak. Kedatangan dia malam itu memecah suasana, karena teman-teman santri lainnya menyampaikan bahasa rasa rindunya. Sebab dia sudah beberapa hari di rumah dan belum sempat singgah ke pondoknya.

Kerinduan itu pun disampaikan lewat cerita-cerita lucu untuk menghangatkan kembali suasana. Cerita kunjungannya ke Malaysia kala Join Studio bersama anak UPM Malaysia pun tidak luput dari panjang ceritanya.

Mulai dari membeli ayam yang rencananya akan dibuat untuk acara masak-masak bersama anak UPM yang tidak jadi dan akhirnya ayam yang terlanjur dia beli dia kasih ke salah satu anak Malaysia untuk diolah, hingga membeli sesisir pisang yang ternyata masih mentah dan dia memutuskan untuk memberikannya kepada satpam hotel.

Dua hal itu yang sering dia ceritakan perihal kunjungannya ke Malaysia. Jelas. Dia bercerita dengan tawa dan cekikikan khas seorang Wira. Tak bisa dihindari kami pun sebagai pendengar ikut tertawa dengan cerita dan kelucuannya tersebut. Setelah bercerita panjang lebar, menunggu Gus Is yang ternyata masih berada di luar kota, kami menutup kajian dengan berdoa dan kembali ke kamar.

Di kamar lantai tiga, beberapa pasang baju sudah ia siapkan untuk dikemas untuk pakainnya nanti selama di kontrakan. Sebelum pamit, beberapa kawannya rasanya enggan berpisah dengan dia, mungkin karena satu hal dan cerita lain yang tidak bisa mereka tinggalkan. Namun dia sudah memutuskan untuk sementara singgah bersama kami di rumah kontrakan.

Satu bulan lebih dia beraktivitas dengan beberapa kesibukan di kontakan yang juga sebagai studio untuk belajar kayu ini. Selain diskusi tetang hal-hal sehari-hari dia juga membantuk aktivitas di bengkel kayu dengan membeli beberapa keperluan sebagai kelengkapan yang harus tersedia di bengkel.

Dengan sigap. Ketika diminta bantuan untuk membeli atau mencari informasi mengenai kayu serta perlengkapan lainnya tanpa menunda dia langsung berangkat dan pulang dengan membawa sesuatu yang kami butuhkan.

Ibunya sendiri pun bercerita kepada, anak bungsunya tersebut memang kerap diminta bantuan oleh kawan-kawannya untuk mengantarkan ke terminal, ke pasar atau mencari sesuatu. Dia dengan siap siaga bersedia membantu. Di rumah pun membantu Ibu di dapur nampaknya sudah merupakan kewajibannya sebagai seorang anak, selain ibadah wajib yang terus dia jaga tanpa menunda.

Saya tidak bisa dibilang sebagai teman mengenalnya cukup lama, tapi saya berani menyebut dia sebagai seorang sederhana dengan kesahajaan terpermanai. Dan, mungkin hanya satu hal yang bisa digunakan untuk memuat jawab arti hidup baginya, ialah: hidup yang bermanfaat untuk sekitarnya.

Selamat jalan Mas Wira.

12993554_1709304042674610_6015209401742436656_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s