Nisa dan Adam duduk di kursi teras rumah. Mereka terlihat gugup, karena Adam akan berkenalan dan bertemu ayah Nisa untuk pertama kali. Nisa mengenal betul karakter ayahnya, ia seorang muslim konservatif yang sekaligus protektif terhadap dirinya. Ayahnya tidak mau sembarangan memilih suami untuk anak tunggalnya tersebut. Itu sebabnya ayah Nisa mencoba bertanya—menjurus interogasi—kepada Adam.

Adam mencoba mengelak, ketika ayah Nisa mempertanyakan hubungan mereka. Ia menjawab dan mengaku “hanya sebagai teman baik”, Nisa pun meng-iya-kan status hubungan mereka dan mengaku masih masa perkenalan. Adam menunjukkan gelagat yang kaku ketika ditanya. Seolah menyembunyikan sesuatu.

IMG_6420

Ayah Nisa meyakinkan Adam, dengan penyataan bahwa Nisa sebenarnya sengaja tidak ingin mencari pasangan, ia hanya ingin Nisa fokus dan konsentrasi pada pendidikannya. Ia tahu bahwa Nisa dan Adam bukan hanya teman biasa, karena ayah Nisa dari kecil sangat mengenal Nisa, dan dia paham jika Nisa berbohong. Ketika di meja makan, perlakuaan Nisa ketika mengambilkan nasi untuk Adam, seolah menjawab: bahwa meraka benar-benar bukan sekedar teman. Ketika berdoa dan akan memulai makan, satu hal terungkap dan akhirnya diketahui oleh ayah Nisa, bahwa: Adam adalah seorang non-muslim.

Rumah yang melatari film, dengan adegan secara runut: di teras, ruang tamu dan ruang makan. Menunjukkan bahwa Diego Batara Mahameru–sutradara dan penulis film–ingin menyampaikan permasalahan dengan sederhana: tidak berbelit-belit. Tidak ada konflik-konflik tajam yang terjadi sepanjang durasi 14 (empat belas menit), bahkan adegan dialog antara ayah Nisa dan Adam dibuat dengan cukup panjang dipertengahan dan belum menceritakan apa sebenarnya yang ingin di sampaikan Mahameru. Puncaknya, semua terungkap pada menit terakhir ketika mereka ke ruang makan.

Kesedernaan cerita Calon dalam menyampaikan permasalahan menjadi relevan, ketika diungkapkan di ruang yang dekat dengan keseharian, dengan isu perbedaan agama yang cukup kompleks di tengah kehidupan beragama sebagai ideologi pertama bangsa. Cerita yang mengangkat perbedaan agama kerap diangkat dalam film lain, sebagai sebab konflik yang melatar-belakangi sebuah hubungan antara wanita muslim dengan lelaki non-muslim, misalnya pada: Loving A Thombstone (Mencintai Nisan) dan CINtA (Love).

Narasi Loving A Tombstone di sini menceritakan Sofi yang sangat mencintai, namun keburu ditinggal mati oleh kekasihnya Filo sebelum menjalin pernikahan. Dengan hadir di makam Filo, Sofi menceritakan kekecewaannya terhadap hubungannya yang tak kunjung bersatu karena perbedaan agama. Demikian halnya CINtA, film karya Steve Facius Winata, menampilkan seorang keturunan etnis Tionghoa bernama A Su, yang jatuh cinta dan meminta Siti Khadijah –wanita dari keluarga muslim—untuk menjadi istrinya, namun setelahnya Siti ternyata sudah dipilihkan—dan terpaksa memilih—calon suami yang sudah direstui oleh orang tuanya. Walau A Su memaksa untuk berpindah agama dengan mengucap kalimat syahadat, Ayahnya tidak merestui dan Siti pun meminta maaf dan menyampaikan keterpaksaan memilih calon suami ini adalah pilihan terbaik bagi dirinya saat ini.

IMG_6423

Syahdan menjadi pembeda dari dua film tersebut ialah: Calon tidak menampilkan satu pun konflik yang terjadi antara pasangan. Tidak ada negosiasi berlebihan seperti halnya CINtA. Tidak ada dialog perselisihan pasangan seperti pada Loving A Tombstone. Calon hanya menceritakan dialog-dialog antara Adam, Nisa dan Ayahnya, dengan harap ayah Nisa akan setuju dan ayahnya tidak mengetahui nahwa adam berbeda agama, tapi hal tersebut tidak bisa disembunyikan.

Bahkan penolakan pun tidak diungkapkan dengan kata. Hanya, ihwal tersebut terbaca dan tersirat ketika ayah Nisa mengaku kenyang sembari meninggalkan meja makan, setelah tahu bahwa Adam adalah seorang non-muslim. Ketidaksetujuan ini bisa kemudian bisa dipahami memang dalam pandangan agama Islam: wanita muslim tidak boleh menikahi laki-laki non-muslim. Dan itu mungkin alasan ayah Nisa membahasakan penolakan dengan meninggalkan meja makan.

Aturan perundang-udangan di Indonesia sendiri, jika dilihat memang tidak disebutkan secara khusus bagaimana praktik beragama dalam pernikahan beda agama. Seperti dalam pasal 2 ayat (1) UPP: sah tidaknya perkawinan diatur dalam agama dan kepercayaan masing-masing. Permasalahnnya, tiap agama punya aturan berbeda dalam hal ini. Dalam ajaran Islam wanita muslim tidak boleh menikah dengan laki-laki non-muslim, namun sebaliknya, laki-laki muslim boleh menikahi wanita non-muslim.

IMG_6422

Terlepas dari praktik dan tata aturan dalam beragama. Dalam Calon, Adam dan Nisa yang semestinya tahu bahwa perbedaan agama membuat hubungan mereka tidak bisa berlanjut, seolah tidak mempermasalahkan hal tersebut. Justru yang mereka khawatirkan adalah penolakan dari ayah Nisa yang tidak bisa dimungkiri akan menolak hubungan Nisa dan Adam. Dan itulah mengapa kekhawatiran berlebih menjadi bagian cerita. Karenanya, keluarga merekalah yang notabene menjadi hambatan hubungan.

Kekhawatiran yang ditakutkan tersebut akhirnya terjawab di akhir cerita. Perkara yang sepanjang film disembunyikan akhirnya terungkap. Ayah Nisa yang dari awal mempertanyakan banyak hal kepada Adam, dengan harapan, ia tidak ingin–sebagai harta satu-satunya yang dia miliki–terjadi sesuatu yang buruk terjadi kepada Nisa. Dalam kasus ini, siapapun seorang lelaki yang ingin meminang anak wanitanya, orang tua berpegang teguh pada prinsip: agama diletakkan sebagai hal utama–untuk menjamin kehidupan serta masa depan anaknya. Walaupun di sisi lain, Adam adalah lelaki mandiri, sukses di bidang pekerjaan, telah menempuh pendidikan dengan baik, sayang terhadap keluarga, sangat menjaga dua adik wanitanya, dan menjalin hubungan baik dengan Nisa selama pacaran pun belum cukup meyakinkan bahwa Adam layak menjadi seorang pendamping Nisa karena satu hal: perbedaan agama.


Calon | 2015 | Durasi: 14 menit | Sutradara: Diego Batara Mahameru | Penulis: Diego Batara Mahameru | Produksi: Ian Adi Wibowo, Nadia Vetta Hamid, Aline Djayasukmana | Negara: Indonesia | Pemeran: Aria Abiasa, Edo Rusri Pradana, Indah Susanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s