Cerita Arsitek Rumah Tropis dan Visual Artis

Dahaga: kata pertama yang mungkin bisa diucapkan sebagai perasaan pribadi terhadap wacana-wacana terkait peran publikasi dan/atau diskusi keprofesian arsitektur, dalam rangka pengembangan sudut pandang terkait arsitektur sebagai salah satu pendidikan yang ditempuh, itulah mengapa kuliah tamu hari ini (mungkin) bisa menjadi alternatif yang cukup penting untuk dihadirkan.

13055420_1713303545607993_2436251912963706355_n
Akhmad Farid Nazaruddin, MT. sebagai moderator.
Kuliah tamu arsitektur kali ini kedatangan dua orang yang tak jauh, datang dari kolega dosen arsitektur UIN Maliki Malang, ialah kawan Akhmad Farid Nazaruddin, MT.–salah satu Dosen Jurusan Arsitektur UIN Maliki Malang, sekaligus memoderatori kuliah tamu hari ini. Seperti diskusi pada umumnya–menjadi sangat cair karena kedua pembicara yang hadir ini merupakan teman dekat moderator.

Sebelah kanan sang moderator ada Dedi Nurmansyah, berpenampilan gondrong, dengan rambut keriting yang sedikit dikuncir ke belakang, memakai baju hitam, duduk diantara moderator dan Arta Adiputra yang juga sebagai pembicara dalam diskusi kali ini, berpenampilan rapi, dengan gaya rambut gudul, berkaca mata dan memakai atasan putih.

Dengan dasar ilmu Arsitektur Pertamanan dan Laskap yang dia miliki, pemilik dan pendiri ArtaAdiputra Arsitek: sebuah konsultan Arsitek, Desain Lanskap dan Kerja Kreatif ini. Dalam setiap desainnya lebih kepada bagaimana mengelola apa yang ada, sebagai kelola potensi sekitar yang bisa disebut sebagai wujud syukur dalam merancang. Itu mungkin, sebab mengapa kalimat pertama dari moderator dalam membuka diskusi menyebutkan: “Arta adalah salah satu arsitek yang unik.”

13082497_1713303565607991_5853939374007902730_n
Arta Adiputra menyampaikan karya yang pernah dikerjakan.
Lahir dan besar di Kediri. Menyelesaikan Diploma Arsitektur Pertamanan dan Lanskap pada 2001. Kemudian melanjutkan pendidikannya di Jurusan Teknik Arsitektur dan selesai pada tahun 2005. Setelah itu lebih banyak melanglang buana ke Surabaya dan Malang.

Karya bangunan yang dipresentasikan pertama juga letaknya tak jauh, tepatnya di Kota Malang. Rumah kost yang disebut merelokasi rumah lamanya di Kediri, dengan beberapa bagian di yang dipakai sebagai detail desain merupakan material bekas bagian rumahnya: bata merah, pecahan keramik dan tegel teraso. Bagi dia, desain sebagai wujud pencarian dalam setiap pengalaman ruang yang didapat sepanjang perjalanan. Karena semakin banyak pengalaman, semakin banyak pula alternatif dalam membuat desain yang bisa kita terapkan ketika merancang.

Dua hal yang dia yakini sebagai jatidiri perancangannya selama ini: hal baru dan menyelesaikan permasalahan lingkungan.

Ketika memilih hal baru sebagai perihal yang lebih ditonjolkan dalam desainnya, guna memberikan pengalaman ruang baru bagi kliennya. Bisa menjadi sebuah hal istimewa, karena fitrah manusia adalah selalu ingin dan haus dengan hal-hal baru. Kedua. Dalam konteks membaca lingkungan, masalah yang diangkat dan bisa dipecahkan dalam wujud karya arsitektur, juga dilakukannya dalam pemilihan material sekitar, seperti: botol bekas sebagai detail elemen atap, batu bata ekspos, juga genting bekas yang sudah tidak terpakai yang bisa disematkan dalam mengkayakan detail.

Pelbagai hal tersebut, menjadikan arsitektur tidak (mungkin dan akan pernah) menjadi bangunan tunggal yang kokoh, berdiri sendiri, sebagai wujud sosok tunggal. Namun, ada tautan lingkungan, pula menjadi realitas yang patut disadari, karena bisa menjadi dasar gubahan yang dipakai dalam mendesain.

13087647_1713303485607999_4291130913731756027_n
Dedy Nurmansyah bicara Visual Artist.
Sebelum sesi berikut dilanjutkan kepada pembicara kedua, terjadi subtitusi moderator yang akan memandu diskusi: Akhmad Farid Nazaruddin, MT. diganti oleh M. Arsyad Bahar, MT.–merupakan dosen Jurusan Arsitektur UIN Maliki Malang, yang akan memandu pembicara kedua: Dedy Nurmansyah.

Sebagai seorang visual artis, pun juga butuh banyak pengalaman dan latihan, beberapa kesimpulan kalimat itu juga disampaikan oleh Dedy, seorang visual artis yang lebih suka disebut sebagai tukang gambar. “Adalah sebuah perjalanan panjang, sampai akhirnya menemukan lentera jiwa sebagai visual artis seperti sekarang.” Ujar dia, dalam menjawab pertanyaan yang dilontarkan salah satu peserta diskusi.

Tugas utama sebagai visual artis: sebagai pengolah imajinasi sang arsitek, dalam memudahkan penyampaian ilustrasi desain yang dibuat sebelum dipersembahkan kepada klien sebagai karya. Selain menjadi visual artis, dia juga pernah beberapa kali dan bergabung mengerjakan proyek bangunan arsitektur.

Beberapa proyek lanskap dan visual terakhirnya bersama PT. Intaran Desain di Bali. Proyek visual yang dikerjakan banyak dari luar negeri, khususnya daerah timur tengah. Dengan klien orang-orang yang notabene dengan kehidupan yang tak bisa dibilang sederhana, jika sepintas dilihat dari hasil desain rendering visual karyanya ini.

Pengalaman yang panjang di dunia arsitektur dan visual artis, membuat dia pada tahun 2014 akhirnya lebih memilih dan membuat studio sendiri, fokus desain lanskap dan proyek presentasi visual arsitektur, juga banyak dari luar negeri.

Sepanjang karirnya, sudah puluhan karya visual yang dihasilkan. Sepak terjangnya tersebut membuat dia tidak hanyut dengan kesuksesan. Cepat atau lambat, dia mengatakan akan meninggalkan keprofesian ini, dan lebih memilih untuk kembali ke (dan membangun) desanya. Tentunya ini diharapkan bisa menjadi niatan baik dalam cita-cita luhur membangun bangsa dan negara.

Semoga.

13043792_1713303568941324_3558422704004187542_n
Foto bersama pembicara dan peserta.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s