Featured

Arsitek, “Bidan” Masyarakat dalam Merancang

poezia di paglia buoncovenito italia (2)
Poezia di Paglia, Buoncovenito, Italia. Salah satu karya Eko Prawoto.

“Apa yang kita miliki? Strategi apa yang kita pakai? Saya kira berarsitektur sudah tidak cukup lagi (jika) kita hanya berbicara tentang estetika atau style, tetapi ini adalah strategi survival dari kebudayaan itu sendiri.

Eko Prawoto dalam sambutan pameran Gedung BI,
Yogyakarta tahun 2012.

Sebuah Pencarian Bersama, film dokumenter yang merekam apik gagasan proses berarsitektur Eko Prawoto, arsitek dan perupa kelahiran Purworejo, Jawa Tengah. Dalam rentang waktu 2012-2015 proses berarsitektur yang digambarkan dalam film mewakili gagasan cita-cita arsitektur Indonesia yang ia bawa hingga dunia. Hal inilah yang menunjukkan konsistensi Eko Prawoto mencapai tahap demi tahap lewati proses tiap ruang waktunya.

Di samping berpraktik langsung menjadi seorang arsitek yang menggawangi perancangan rumah pribadi, kafe, ataupun kantor. Kesibukan lain Eko Prawoto ialah menjadi seorang dosen di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta yang dilakukan setelah menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada, dan The Berlage Institute Amsterdam, Belanda.

Continue reading “Arsitek, “Bidan” Masyarakat dalam Merancang”

Metoda Perancangan dalam Konteks Indonesia

CzgTVp2UsAAcv8d.jpg

***
“…dengan segala kompleksitasnya, praktik kerja arsitektural membutuhkan waktu terus menerus dan (mungkin) tidak pernah selesai…”

 ***


Kalimat tersebut saya refleksikan sebagai simpulan-jawab atas praktik kerja arsitektur yang saya jalani selama magang di LabTanya, Tengerang Selatan, Jakarta. Kota Jakarta sebagai bagian dari praktik kerja penelitian (arsitektur) yang dilakukan, kemudian coba dirangkum menjadi apa saja tiap permasalahan yang mampu dikelola, sebagai wujud-upaya selesaikan fenomena permasalahan arsitektur Jakarta yang terbaca.

Jakarta sebagai lokalitas Ibu Kota, punyai nilai dan tuntunannya sendiri dalam praktik seorang arsitek, khususnya di Indonesia. Pemaham-pengertian membaca fenomena dengan segala kompleksitas di dalam konteks arsitektur, pada akhirnya tentukan peran yang dapat diambil dan dimainkan dalam masyarakat.

Continue reading “Metoda Perancangan dalam Konteks Indonesia”

Sembah Sujud Tak Bergetar

Kukorek telinga dengan tangan
Tetap saja tak terdengar Bilal berkumandang
Hanya kuning yang menempel di telunjuk kanan
Sudah berpuluh tahun ketulian demikian meradang

Kuakses jadwal untuk memastikan
Waktu lima yang telah ditentukan

Sucikan diri dengan basuh
Kujerat amarah dan nafsu
Tersungkur diriku pada kusam tikar sajadah
Tak sedikitpun pipi terbasahi tetes air mata

Malang, 2017.

Genta

“Mas, aku dikandani Mas Athoillah ngene: golekono arek Palang, kuliah jurusan arsitek UIN, arek iku karyae wes mendunia!” (Mas, aku diberi tahu Mas Athok begini: cari anak Palang, kuliah jurusan arsitek UIN, anak itu karyanya sudah mendunia.)

Saya ketawa-ketiwi saja mendengar ungkapan tersebut dari Genta, kawan yang baru saja mendapatkan juara favorit standup comedy se-Jatim.

Selain menjadi pembawa acara. Dalam pertemuan Alumni MI Ma’arif 02 Palang, Kec. Sukorejo dia juga diberi kesempatan tampil menyampaikan materi standup yang membuat dia mendapatkan kategori favorit tersebut.

Continue reading “Genta”

Secawan Kopi dan Diri yang Terlampau Sepi

Secawan Kopi dan Diri yang Terlampau Sepi

“Alangkah indahnya jika di hadapanmu terdapat kopi tubruk sedang berpelukan. Berbagi kehangatan. Mereka sadar kehangatan akan segera berganti menjadi kejumudan.”

Kegemaran baru duduk sendiri, habiskan batang rokok dan berfikir tentang misteri alam raya. Menghantarkanku pada sesuatu yang asing: semesta dalam diriku yang belum saling mengenal. Tapi begitulah kenyataannya. Dingin yang dibawa angin memaksa diriku memesan kembali minuman kelam.

Continue reading “Secawan Kopi dan Diri yang Terlampau Sepi”