Mengurai Realitas Lewat 3 Kata

Narasi keseharian akan tampak unik jika mampu mengurai dengan ragam sudut pandang. Hal inilah yang dilakukan oleh Raja Gama Era dengan zine karyanya. Gama –panggilan akrabnya– ialah mahasiswa arsitektur Universitas Brawijaya, mencoba mengurai realitas dengan tiga kata: Senyumo; Sabaro; Sadaro. 3 kata yang juga dikukuhkan menjadi judul “Trilogi Zine Senggaja.” Mencerminkan tiga falsafah perintah dalam keseharian yang bisa dicoba untuk redamkan segala jerat nafsu keduniawian.

Dalam gerak langka hidup yang sudah ia jalani selama menginjak usia kepala dua ini. Gama mencoba melihat dunia lebih dekat, melihat keseharian lebih lambat, melihat detail lebih cermat. Selain itu, ia mencoba melihat apa-apa yang dekat dengan kesehariannya, juga sebenarnya tidak jauh dari keseharian kita.

Continue reading “Mengurai Realitas Lewat 3 Kata”

Membaca Fundamental Partisipasi Komunitas

Membaca Fundamental Partisipasi Komunitas

Bicara arsitektur kota hari ini mungkin akan menjadi sesuatu yang tak akan selesai. Karena dengan bertambahnya usia kota bertambah kompleks pula permasalahan dan peradaban yang dicapai pada tiap ruang waktunya. Malang misalnya, dengan segala potensi dan bakatnya serta ragam mahasiswa yang tiap tahun terus bertambah, seyogyanya hal tersebut membuat mahasiswa bisa berkontribusi langsung dan turut andil dalam menyelesaikan permasalahan sekitar mereka.

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”.

Begitulah Tan Malaka mendeskripsikan kaum muda –-para mahasiswa– yang hari ini kadang merasa dirinya lebih pintar dari siapapun sehingga lebih leluasa untuk mengatur mereka kaum tak terpelajar. Jikalau kemudian mahasiswa mau melebur dan menjadi bagian dari masyarakat, mengajak setiap orang untuk memproduksi pengetahuan bersama serta mengeluarkan gagasan dan sudut pandangnya. Continue reading “Membaca Fundamental Partisipasi Komunitas”

Menggengam Senjata

Kau pegang senapan untuk berjuang melawan ketidakadilan yang selama ini sudah menjajah.

Kau tarik pelatuk agar tidak merasa sepi jika hanya diam mendengar suara teriakan-teriakan karena si raja tega telah merobek setiap hak hidup.

Kau tegakkan badan bukan hanya untuk kepentingan dirimu namun banyak orang di belakangmu yang mengagumi hari ini karena perjuanganmu di antara lelaki.

Kau hadir dalam narasi-narasi perjuangan seorang wanita yang berada di garis depan setiap perjuangan merebut kemerdekaan dengan tanganmu yang cantik mengenggam senjata.

(2016)

Kota: (Melulu) Tentang Fisik

Kota: (Melulu) Tentang Fisik

Mengapa kita harus belajar kota? Satu pertanyaan pertama yang dilontarkan dalam mata kuliah pengantar perancangan perkotaan yang diampuh oleh Bu Tarra dan Bu Aisyah. Kota dengan kompleksitas hari ini, memungkinkan kita mengenali apa yang sebenarnya bisa mewujud menjadi kajian detail mengenai tabir-tabir permasalahan kota Malang yang (mungkin) masih belum terlihat.

Continue reading “Kota: (Melulu) Tentang Fisik”

Falsafah Pembaharu

Dosen kami bukan pengajar yang hanya jalankan silabus. Dosen kami pendidik sampaikan nilai luhur, seorang guru yang bisa beri tauladan.

Kampus kami tak asal jalan dengan uang banyak dan ragam fasilitas, tanpa arah keilmuan. Kampus kami ruang budaya ilmu. Berpihak kepada rakyat lemah.

Mahasiswa kami bukan hanya orientasikan ijazah, sehingga pentingkan diri pribadi. Mahasiswa kami sadar akan perbaikan, rela berkorban untuk lingkungan dan sosial.

Kami puteri-putera negeri.
Pembaharu Ibu Pertiwi.

(2016)