Membaca Isu, Mewacanakan Arsitektur

Dalam dua tahun ke belakang, pembacaan permasalahan atau kritik arsitektur di Indonesia, khususnya di Malang, menjadi satu hal yang belum mampu diwacanakan kembali. Isu-isu yang tampil belum berani dimunculkan hingga hasilkan sebuah pandangan kritis terhadap pendidikan serta perkembangan arsitektur di Indonesia.

oleh Muhammad Azamuddin Tiffany

IMG_7782
Suasana Kegiatan Bedah Buku Stensil Arsitektur: Proses di Kafe Ria Djenaka

Kegiatan bedah buku Stensil Arsitektur: Proses, memberikan kesempatan sekali lagi kepada saya bertemu dengan Ign. Susiadi Wibowo, kolega di LabTanya. Setelah bedah buku rampung, Pak Adi –begitu biasanya saya menyapa– menghampiri saya dan menanyakan satu hal, yang sontak membuat saya bingung.

Continue reading “Membaca Isu, Mewacanakan Arsitektur”

24 Jam: Sepatah Kata, Proses Pendidikan Arsitektur Kita

24 Jam: Sepatah Kata, Proses Pendidikan Arsitektur Kita

Gedung-gedung pencakar langit, aktivitas di ruang publik, persawahan hijau serta kegiatan mahasiswa yang sedang berpraktik ketukangan, menjadi satu cuplikan pengantar sebelum masuk lebih jauh dalam film 24 Jam. Pengantar tersebut, sekaligus menjadi wacana atau gambaran umum mengenai arsitektur, yakni tentang ruang, bangunan dan keterkaitan lingkungan sekitar.

Definisi arsitektur tentang keterkaitan dengan lingkungan sekitar, seyogyanya menjadi bagian dari tanggung jawab moral hasil pendidikan di arsitektur. Praktisi dan akademisi yang diwawancara dalam 24 Jam juga sepakat, bahwa pendidikan arsitektur sebagai tempat lahirnya para arsitek, punyai tanggung jawab besar setelah lulus nanti. Yakni dalam usaha selesaikan permasalahan yang –akan terus– hadir dan melingkupi ruang waktunya. Ruang waktu ini digambarkan dalam pendidikan arsitektur dengan kerja-kerja panjang dan melelahkan dalam studio, yang jika coba didefinisikan dalam satuan waktu, pendidikan arsitektur akan terus menyala, akan terus menerus bekerja, tak pernah selesai dan berhenti, akan terus menerus berproses penuh selama: 24 jam.

Continue reading “24 Jam: Sepatah Kata, Proses Pendidikan Arsitektur Kita”

Kerinduan

“Apa yang salah dari sebuah kerinduan, Zam?” Tiba-tiba, tanpa babibu, Dano “Slendro” Putra bertanya pada saya.

Saya langsung menatap tajam matanya, namun dia tidak berani menatap balik dan hanya merunduk. Sejurus kemudian saya menanggapinya: “Ndro, kau tahu apa yang salah dari sebuah kerinduan? Yaitu ketika kau tidak punyai keberanian untuk mengungkapkan.”

IMG_3287.JPG

Menunggu Kejutan dari Ruang Tugas Akhir

Suasana studio Tugas Akhir di semester ini nampak berbeda. 30 set komputer yang sudah terpasang, sudah siap sedia digunakan 30 kawan dengan semaksimal mungkin dalam mengerjakan Tugas Akhir arsitektur. Tentu, komputer yang tersedia, intinya, punyai spesifikasi mumpuni dalam mengerjakan dan menghasilkan produk Tugas Akhir nantinya.

Saya sendiri, yang belum layak masuk studio Tugas Akhir, masih merasa ada kejanggalan ketika masuk studio yang notabene nantinya menjadi akhir, atau katakanlah, merupakan puncak dari studio perancangan sebelumnya. Segala kemampuan yang sudah didapat dari semester awal, patutlah kiranya dikeluarkan sejadi-jadinya, semaksimal mungkin, sebesar-besarnya dalam menghasilkan produk keluaran Tugas Akhir yang akan dipaparkan.

Dalam beberapa sidang akhir kawan-kawan yang saya hadiri. Saya masih menunggu kejutan lain, kejutan-kejutan yang menjadi pembeda dalam paparkan tiap hasil rancangan saat sidang nanti, termasuk dari 30 kawan di studio Tugas Akhir ini.

Untuk kejutan pertama, jika boleh menebak, saya kira akan datang dari Fahim Putra, kawan saya yang biasa saya panggil Mas Fahim ini. Dikarenakan, saya membaca kesungguh-sungguhannya dalam mendapatkan kelulusan di seminar proposal saja, sekurang-kurangnya, ia harus meluangkan waktu dua setengah tahun atau lima semester.

Sebuah rangkaian waktu yang panjang dan dalam.

img_0920

 

Dalam

Dalam malamMu aku terjaga
Dalam pagiMu aku membuta
Dalam nyalaMu aku gulita
Dalam jihadMu aku rebah
Dalam samudraMu aku terapung
Dalam ayatMu aku termenung
Dalam panjiMu aku bernaung
Dalam cobaMu aku meraung
Dalam perintahMu aku uzur
Dalam nikmatMu aku kufur

Dalam maafMu ku meminta
Dalam kuasaMu ku berserah

Malang, 2017.